Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 26


__ADS_3

Ada lima puluh enam penumpang yang naik dari pelabuhan Kota Coron. Semuanya laki-laki, mereka naik kapal dengan mengenakan jas hitam, serta celana berwana senada, dan sepatu pantofel hitam. Seluruh penumpang menatap mereka aneh.


Tak ada buruh angkut yang terlihat membawa barang-barang bawaan. Kelima puluh enam penumpang itu naik dengan hanya membawa koper yang juga berwarna hitam, berukuran sedang. Di lihat dari ukurannya, koper itu hanya bisa muat lima atau enam pasang pakaian. Tapi itu bukan masalah. Yang menarik perhatian, hampir dari mereka semua memiliki badan kekar bertato.


Sebagian orang memilih masuk kabin, sebagian lagi masih memerhatikan para laki-laki itu. Tanpa kesulitan, mereka lolos di bagian pengecekan identitas, tengah berjalan menuju kabin masing-masing.


Ketika matahari bersiap tenggelam di kaki langit, peluit kapal terdengar berbunyi nyaring. Suaranya panjang dan lantang, mengalahkan ramai kelepak burung camar. Kapal Karel Ambo bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan. Peluit anginnya berbunyi nyaring untuk terakhir kali. Di balas peluit "selamat jalan" dari kapal-kapal besar lainnya, membuat ramai langit-langit pelabuhan.


Lampu mercusuar di pelabuhan menyala terang. Robin dan Robert menatapnya terpesona. Sungguh sayang mereka tidak bisa turun di kota indah ini, mengunjungi tempat-tempatnya yang terkenal itu. Tapi besok lusa, mereka pasti akan kembali melihatnya.


Robin dan Robert bergegas kembali ke kabin saat kapal semakin menjauhi pelabuhan. Sebentar lagi adzan Maghrib. Kakak mereka tadi sudah memperingatkan agar mereka segera kembali.


Mendapati kabin sudah tidak ada Sersan Heiho, keduanya bersorak senang. Bergegas mandi, kemudian berganti pakaian bersih. Lima belas menit kemudian bersama Mang Jajan pergi ke mushola kapal, Sholat Maghrib.


Sementara Bibi Siti menemani Mei di kabin. Entah perasaan mereka saja atau memang jumlah tentara yang berjaga di depan kabin meraka semakin banyak.


Jamaah sholat bertambah satu saf. Saleh atau Jack Karaeng menjadi imam. Suaranya terdengar syahdu di tengah semilir angin laut.


Kapal Karel Ambo terus melaju membelah lautan. Lampu-lampu kapal mulai menyala, bagai titik-titik kecil cahaya jika di lihat dari arah kejauhan. berbanding terbalik dengan cuaca yang nampak tak bersahabat. Langit gelap, awan tebal dimana-mana.


"Kabin di sebelah kita sudah ada isinya ya, Mang?" Robin bertanya.


Mereka berjalan di lorong sepulang dari mesjid. Mang Jajan menggeleng tak tau menahu soal itu. Mang Jajan hanya tau, kabin di samping mereka itu tidak sebesar kabin yang di huni rombongan keluarga Lady Mei.


"Ayo cari tau, Mang." Usul Robin


Belum sempat Mang Jajan menjawab. Umur panjang. Saat mereka tiba di depan pintu kabin yang di maksud, penumpang dalam kabin itu keluar kamar.


Robin kira, penghuni kabin sebelah pasti salah satu dari para laki-laki yang tadi naik dari pelabuhan Kota Coron. Di luar dugaan, penghuni kabin sebelah hanya tiga orang. Robin menatap mereka penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


Mang Jajan maju ke depan, menyalami tangan Kakek tua itu, "Eyang Ran." Panggil Mang Jajan, "Eyang Putri" Sapa Mang Jajan pada Nenek tua di samping Kakek tadi.


Usia keduanya hampir mendekati delapan puluh tahun, mereka adalah penumpang paling tua di kapal Karel Ambo, sekaligus saksi pernikahan Mei dan Saleh, apa yang di lakukan ke dua orang tua dan anaknya itu di kabin sebelah? Setahu Mang Jajan, kabin mereka berbeda di lantai atas dekat dengan kantin.


Pasangan sesepuh itu terlihat bungkuk, terutama Eyang Putri. Berjalan perlahan patah-patah. Di temani anak sulung mereka, ibu-ibu berusia lima puluh tahun.


"Siapa namamu tadi, Nak? Rosta?"


"Robin, Eyang putri." Robin berseru.


"Oh Randra." Eyang Ran mengangguk-angguk.


Asuh, ternyata pendengaran Eyang tidak baik lagi, Robin mengeluh. Jelas-jelas ia sudah berkata namanya "Robin" tiga kali, tapi tidak di dengar. Elsa menahan tawa di sebelahnya.


"Nah, kalau yang satu ini namanya siapa?"


"Robert Eyang." Robert berseru kencang.


Kali ini giliran Robin yang menahan tawa, membuat Robert melotot.


"Kita mungkin sebaiknya bicara di dalam, sambil duduk. Ada hal yang ingin saya tanyakan." Mang Jajan mengusulkan kepada anak sulung pasangan sepuh itu.


"Tidak usah, Mang. Di sini saja, kami hanya sebentar. Kami akan segera istirahat. Orang tuaku tadi memaksa ingin menyapa Nona Mei. Aku sebenarnya sudah bilang besok saja."


"Kami tidak tau jika kalian sudah pindah ke sini. Maaf jika merepotkan, seharusnya kami yang datang menyapa terlebih dahulu." Mang Jajan menatap pasangan sepuh bungkuk itu tak enak hati.


"Tidak apa, Mang. Mereka bahkan tadi memaksa ingin pergi ke musholla untuk sholat Maghrib. Beruntung aku bisa menahannya. Besok-besok masih ada waktu, kami akan menyelesaikan diri dulu dengan lorong dek ini. Malam ini juga kami rencananya makan di kabin saja. Orang tuaku sepertinya capek naik-turun tangga."


"Perlu saya ambilkan makanannya nanti di kantin, Buk?" Mang Jajan menawarkan bantuan.

__ADS_1


"Tidak usah, Mang. Aku bisa mengambilnya sendiri.


"Baiklah kalau begitu, jika ada sesuatu langsung datang ke kabin sebelah saja. Kami siap membantu." Pamit undur diri.


Dari zaman dulu, penumpang berusia lanjut seperti Eyang Ran dan Eyang Putri memang selalu ada. Mang Jajan Menjelaskan hal itu pada Robin dan Robert.


Setiap orang pasti ingin menaiki kapal besar seperti Karel Ambo, berkeliling dunia. Tapi perjalan dengan kapa ini tidak murah. Banyak orang yang harus menabung bertahun-tahun dan baru cukup saat usia mereka sudah sepuh, seperti pasangan di sebelah.


"Bagaimana kalau mereka tidak kuat sampai Tujuan, Mang?" Robin bertanya cemas.


"Tuan doakan saja semoga mereka selalu sehat dan perjalanan mereka dimudahkan." Mang Jajan tersenyum, "Di kapal ini, Kapten Diego sudah menyiapkan dokter, menu makanan juga di sesuaikan dan sebagainya. Kita juga dapat membantu agar perjalan mereka lebih nyaman."


"Memangnya mereka akan kemana, Mang?"


"Mekah, tanah suci, Tuan."


"Bukankah itu jauh sekali, Mang?" Robert yang bertanya.


"Iya, Tuan. Setelah sampai di Korea, kapal ini akan ke Jepang terlebih dahulu, memutar balik lewat jalur timur Indonesia, menuju Srilangka, baru sampai di Jeddah. Mungkin bisa Setahun Lebih perjalanan."


"Kalau begitu, bagaimana caranya kita dapat membantu perjalanan mereka agar lebih nyaman, Mang?" Giliran Robin yang bertanya.


"Misalnya kau tidak berisik kalau sudah malam. Tidak banyak tanya, tidak sok tahu. Biar Eyang Ran dan Eyang Putri di sebelah bisa tidur." Robert yang menjawab, tersenyum jahil.


"Oh, baiklah. Akan aku catat itu, kak Robek." Robin sengaja menyebut nama "Robek" untuk membalas kakaknya.


Mang Jajan dan Robin kemudian tertawa melihat wajah masam Robert yang sudah mirip seperti seringai Sersan Heiho.


Percakapan mereka terhenti saat peluit kapal berbunyi nyaring dua kali, menandakan waktu makan malam.

__ADS_1


Plot selanjutnya: Tapi pasangan Eyang Ran dan Eyang Putri bukanlah pasangan sepuh kebanyakan. Mereka adalah pasangan tua paling romantis yang pernah ada. Besok-besok Robin dan Robert bisa melihatnya sendiri.


__ADS_2