
Hari ke enam perjalanan.
Kapal Karel Ambo masih berlabuh di pelabuhan Labuan Brunei, entah apa masalahnya kapal itu belum juga di berangkatkan.
Saleh sudah bangun. Merasa bosan, ia turun dari dipan. Saleh memutuskan berjalan-jalan di sekitar tempat tidur.
"Pagi, Om Saleh dan Om Yusuf." Robin berseru, kemudian tertawa melihat wajah kedua pria yang nampak kaget melihat kedatangannya.
"Aku bawakan bubur ayam, Om. Enak, masakan bibi Siti." Robin meletakan mangkuk di atas meja, mendorongnya mendekat ke arah tempat tidur. Mei di belakangnya meletakan gelas teh hangat.
"Eh" Saleh duduk di atas tidur dengan perasaan bingung. Ia baru saja selesai sarapan. Yusuf yang tadi membawakannya makanan.
"Kau harus makan buburnya, kawan Atau mereka pasti akan kecewa. Keduanya sudah berusaha membawakan makan itu." Yusuf berbisik.
Tapi aku sudah makan. Saleh melotot, seperti itu arti tatapannya.
Yusuf tertawa, mengangkat bahu.
"Ayo, Om. Dimakan! Robin mendesak, wajahnya terlihat tak sabaran menunggu.
"Iya, ayo dimakan. Keburu buburnya dingin." Mei berucap menambahkan.
Demi menatap wajah oval menggemaskan milik Mei dan Robin yang nampak mirip, wajah perpaduan Asia dan Eropa, Saleh menarik nafas panjang. Ia mengalah. Saleh menerima sendok dari tangan Mei, membuka tutup mangkuk.
"Baiklah, akan aku makan "
Dengan susah payah, isi mangkuk itu akhirnya habis sepuluh menit kemudian. Saleh menunjukan isi mangkuk yang kosong ke arah Mei dan Robin sebagai bukti.
"Enak kan? Abang mau lagi?" Tanya Mei antusias.
Saleh bergegas menggeleng cepat kencang-kencang. Perutnya sudah sangat penuh, bisa meledak jika di isi lagi.
__ADS_1
Sementara Yusuf tertawa kencang di sebelahnya.
.
.
Setelah kejadian kemarin, hari ini tidak ada lagi penumpang yang berminat turun dari kapal. Percakapan tentang kejadian itu memenuhi lorong-lorong kapal, kantin, dan dimana pun tempat para penumpang berkumpul.
Ada beberapa penumpang lain yang ikut terjebak di pasar. Tapi berbeda dengan Robin, mereka berhasil lolos dan kembali ke kapal tanpa kesulitan.
Saat Robin dan Mei sedang membesuk Saleh. Para penumpang lain sedang sarapan di kantin. Meja-meja yang tadinya kosong, mulai terisi.
Ada dua ratus penumpang yang naik dari pelabuhan Labuan. Kebanyakan dari mereka tentu saja laki-laki, bersemangat menonton piala dunia. Di antara dua ratus penumpang itu, ada enam anak kecil usia delapan hingga empat belas tahun.
Baru di ketahui jika kapal belum bisa berangkat hari itu karena mesin kapal masih mati. Padahal kapal telah berlabuh hampir dua puluh empat jam lebih. Gentong air bersih sudah terisi penuh, peti bahan makanan di angkut, penumpang telah naik.
Teknisi masih berkutat memeriksa kerusakan, mesin kapal di bongkar. Tungku batu bara yang biasanya menyala, masih padam. Perwira Kepala kamar mesin (KKM) meminta perpanjangan waktu berlabuh. Kondisi mesin adalah prioritas utama.
Mereka tidak bisa memaksa kapal berangkat dengan resiko mesin akan mati total. Jika itu terjadi di perairan lepas pantai, kapal akan terombang-ambing berhari-hari di tengah samudra lepas.
Di setiap kapal mesin uap, termasuk Karel Ambo. Terdapat tungku dalam artian sebenarnya. Balasan awak kapal bertugas memasukan batu bara ke dalam perapian. Semakin cepat kapal melaju, maka makin besar nyala api yang di butuhkan.
Kapal mesin uap paling di kenal saat itu adalah Titanic. Kapal yang tenggelam karena menabrak es di hari ke lima saat pelayaran pertamanya tahun 1912. Ukuran kapal Titanic dua kali lipat lebih besar dari ukuran Karel Ambo yang di buat sebelas tahun kemudian.
"Salah satu piston di mesin tidak bekerja dengan lancar, Kapten. Kita bisa kehilangan seluruh mesin jika piston berhenti bekerja." Lapor salah satu perwira
"Seluruh mesin?"
"Benar, Kapten. Seluruh mesin"
"Apakah kalian tidak membawa suku cadangnya?"
__ADS_1
"Itu bagian yang tidak ada suku cadangnya, Kapten. Dan hanya bisa di perbaiki di pelabuhan besar seperti Singapura dan Filipina." Perwira KKM menggeleng.
"Rute kapal Karel Ambo tidak melewati ke Singapura. Kita melewati pesisir barat laut Filipina. Tapi kita baru tiba setelah empat Minggu perjalanan." Kapten Diego berhitung cepat.
"Kau periksa ulang secara lengkap, semoga mesin kapal tidak rusak serius atau hanya perlu perawatan sebentar." Kapten Diego berucap tegas
Setelah mengangguk, dan tak lupa memberi hormat. Perwira KKM itu lantas meninggalkan ruang kerja Kapten Diego.
Tak Lama setelahnya. Dua orang tentara Jepang dan Sersan Heiho memasuki ruang kerja Kapten Diego. Mereka terlibat percakapan sengit di sana.
Heiho yang baru muncul entah dari mana, dengan pakaian rapi khas bangsawan. Ia menuding Saleh sebagai salah satu pelaku pemberontakan kemarin.
"Dia berada di tempat kejadian saat baku tembak itu terjadi, pasti dialah dalangnya." Ucap Heiho tak mau tau, " Aku akan langsung menyerahkan pada Tentara Jepang yang bertugas di labuan."
"Kau jangan membuat suasana bertambah runyam, Heiho. Kau baru datang, dan tidak tau apa-apa. Saleh juga korban, kamu bisa ke ruang perawatan dan melihat kondisinya yang mengenaskan." Kapten Diego menjawab tenang.
Kapten Diego menatap dua tentara Jepang yang sejak tadi hanya diam di samping Heiho, "Atau kau bisa tanyakan pada dua orang di sampingmu itu. Aku ingat, mereka kemarin yang membatu Mei mencari adik sepupu Robin. Dan seperti yang kau tau. Saleh yang menyelamatkan bocah kecil itu."
"Halah, paling itu akal-akalan dia untuk lepas dari jerat hukum. Bisa saja ia memang.."
"Cukup." Sela Kapten Diego cepat. Berbicara dengan orang seperti Sersan Heiho memang harus membutuhkan banyak kesabaran. Kapten Diego tau bagaimanapun, Heiho akan tetap mencari cela agar dapat menyalahkan Saleh.
"Baik, kalau begitu kau bisa pergi menemui dan menginterogasi dia secara langsung. Tapi jika, dia terbukti tidak bersalah, kau harus minta maaf padanya dan juga padaku." Ucap Kapten Diego.
"Apa-apaan itu." Sersan Heiho tak terima.
"Kau jangan Lupa, Heiho. Kapal ini di bawah kendaliku, dan aku adalah seorang Belanda. Aku jelas tidak harus tunduk padamu yang seorang Jepang." Kapten Diego menarik nafas panjang.
"Bisa jadi, Jepanglah yang memerintah Indonesia sekarang. Tapi di kapal ini akulah yang memerintah, bukan Jepang. Bukankah sudah aku katakan padamu bahwa kapal ini bukan kapal perang."
"Berhentilah bersikap seenaknya, posisi kita hampir sama di sini. Kau jangan bertindak seolah-olah, aku bawahanmu. Jadi ingatlah untuk minta maaf"
__ADS_1
"Jangan banyak cakap kau. Aku tidak akan meminta maaf padamu, apalagi pada neitubu sialan itu. Karena dia pasti bersalah." Ucap Heiho langsung bergegas meninggalkan ruangan.
Lima menit kemudian, setelah membuat keributan di sepanjang jalan. Heiho, dan ke dua tentara Jepang itu sampai di depan ruang perawatan. Salah satu tentara membuka pintu dengan kasar.