
Sementara di tempat lain.
Robin dan Robert asyik berlari kecil menuruni tangga kapal.
Seperti janjinya, pagi itu, Saleh membawa Robin, Robert, serta Mei turun ke Manila, mengajak mereka bertiga makan. Ibu Anna dan Suaminya juga ikut. Kata Saleh hanya dua orang pria berjas hitam yang akan ikut dengan mereka, tapi kenyataannya. Lebih dari sepuluh orang ang bergerombolan berjalan mengikuti langkah Saleh di belakang.
"Kenapa mereka banyak sekali yang ikut, Robert?" Robin bertanya, arah pandangnya sesekali melirik balik ke dua puluh lebih pria berjas hitam di belakangnya. Ia dan Robert berjalan tepat di samping kanan Saleh.
Robin dan Robert asyik menatap sekeliling pada kapal-kapal kargo yang sedang melepas jangkar, tumpukan peti kemasan, serta alat-alat besar yang di gunakan seperti mesin pengait yang mengangkut peti-peti ke atas kapal.
Seperti biasa. Beberapa tentara Jepang memeriksa dokumen mereka di gerbang Pelabuhan. Tidak Ada masalah, mereka di biarkan lewat. Oh, iya. Tentara Jepang anak buah Mei tidak ikut bersama mereka. Tadi Mei memerintahkan para tentara itu untuk berjaga di depan kabin saja. Tentara-tentara itu jelas menolak, tapi Mei beralasan kalau ia hanya keluar di bagian depan saja.
Karena jumlah yang banyak. Mereka menyewa tiga kereta kuda. Robin, Robert, Saleh, Mei, dan Ibu Anna serta suaminya ada di kereta paling depan. Sementara dua kereta di belakang di naiki oleh para pria berjas hitam.
"Kita akan kemana Kakak Saleh?" Robin bertanya.
"Sebenarnya aku ingin mengajak kalian ke Frasa Manila, Robin. Itu sebuah kedai makan besar di dekat balai kota, akan tetapi tempat itu tidak bagus untuk anak kecil."
"Aku bukan anak kecil lagi, Kakak." Mata Robin memicing.
Saleh tertawa, mengacak rambut Robin gemas.
"Jadi kita akan ke Oud Manila saja. Letak kedai makan itu juga tak jauh dari Frasa Manila. Aku pernah makan di sana beberapa tahun silam ketika berkunjung ke sini. Makanannya lezat."
Jalan yang mereka lewati semakin ramai. Bangunan bergaya Spanyol semakin banyak dan semakin megah. Robin dan Robert menyimak, tak melewatkan bagian pentingnya dimana rumah-rumah itu sekarang kebanyakan di di huni oleh bangsawan Jepang.
__ADS_1
Pohon besar tumbuh banyak di sepanjang jalan, menghalangi terik matahari yang meninggi. Membuat suasana terasa teduh. Kanal-kanal bersih. Bangsawan-bangsawan serta rakyat pribumi berlalu lalang, beraktivitas, dengan pakaian khas pada zaman itu.
"Kak, tadi aku sempat mendengar Ibu Anna menangis." Robin jadi teringat sesuatu, berbisik pada kakak perempuannya, tapi suaranya tetap terdengar kencang, dapat di dengar oleh orang lain.
"Kapan?"
"Tadi, waktu di suruh menjemput Ibu Anna di kabinnya."
"Kau yakin mendengar Ibu Anna menangis?"
"Iya, Kakak. Kan, kuping Robin masih bisa mendengar dengan baik tidak seperti Eyang Ran." Robin menyeringai. Ia yakin sekali tadi mendengarnya saat mengetuk pintu kamar guru mengajinya itu.
"Hus, tidak baik berkata seperti itu tentang orang tua. Dan mungkin kau salah dengar tadi, Robin." Kakaknya mengingatkan, kemudian tertawa merasa tidak terlalu tertarik membahasnya.
Robin meminta maaf, lalu hendak ngotot bilang ia tidak salah dengar.
Kereta kuda yang mereka naiki berbelok masuk ke sebuah jalan di pinggir lapangan luas. Terdapat sebuah gedung besar megah di ujung lapangan. Warna gedung itu putih, terlihat elegan sekali.
"Balai kota." Sebut Saleh menjelaskan.
Robin dan Robert mendongak. Gedung itu besar sekali, lebih besar dari Kantor dinas milik ibu mereka. Terlihat belasan tentara Jepang berjaga di depan pusat pemerintahan Jepang yang ada di Manila itu.
Kereta kuda berbelok ke jalan yang lebih kecil. Tapi jalan telah di penuhi kereta kuda, sepada, hingga mobil yang sedang terparkir. Kedai makan yang di maksud Saleh terletak di tengah-tengah jalan. Ada banyak toko di sampingnya. Tak jauh dari tempat mereka berhenti, di ujung jalan sebelah kanan dapat terlihat Frasa Manila.
Rombongan turun dari kereta kuda. Saleh berpesan ke sais agar menunggu mereka. Robin sudah loncat turun dari tadi, membaca papan nama "Todo Tipo De Ube". Ia tau sekarang makanan apa yang akan mereka makan. Ternyata Ube. Robin tadi pikir mereka akan makan steak, spaghetti, udang besar, atau semua jenis makanan Spanyol yang lezat.
__ADS_1
Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa orang Filipina sangat menyukai apa pun yang berhubungan dengan Ube.
Banyak yang mengira Ube sama dengan Taro, tetapi ternyata keduanya berbeda terutama untuk rasa dan warna.
Taro berwarna ungu muda mendekati putih (baru berwarna ungu kalau dimasak). Sedangkan Ube berwarna ungu gelap walau masih mentah. Untuk rasa dan tekstur, Ube lebih mirip dengan ubi pada umumnya.
"Ayo mari masuk!" Saleh tersenyum, memimpin jalan.
Rumah makan itu ramai. Belasan meja kecil di dalamnya telah di tempati pengunjung. Mereka menoleh kesana-kemari, mencari meja kosong. Seorang pelayan mendekat, bertanya berapa jumlah rombongan dalam bahasa Filipina. Pelayan itu akhirnya memutuskan menggabungkan tiga kursi, hingga bisa di kelilingi enam belas kursi.
Mereka duduk.
Pelayan itu menunggu sambil memegang kertas kecil dan pena, ia bersiap mencatat pesanan. Mei bertanya pada Saleh apa yang lezat di sini. Salah satu pria berjas hitam mengusulkan, katanya ia sudah pernah makan di situ sebelumnya. Ia lalu mengusulkan beberapa menu.
Berkunjung ke Manila tentu saja akan sangat tidak lengkap jika tidak mencicipi makanan asli Filipina. Namun sebagian besar makanan di situ tidak halal, karena hal itu Saleh memilih kedai itu yang ia rasa cocok untuk semuanya.
Sambil menunggu makanan datang, Robin melirik meja di sebelah mereka. Di sana duduk lima tentara Jepang dengan seorang perempuan yang sejak tadi asyik memoles bibirnya dengan lipstik. Lima tentara itu berbicara dengan suara besar, sesekali tertawa terbahak-bahak. Mereka sudah selesai makan, nampak bersiap meninggalkan kedai.
Dua pelayan datang membawa nampan berisi mangkuk Ubi helaya. Ubi yang telah dimasak kemudian dicampur dengan susu evaporasi, susu kental manis, dan santan, lalu lumatkan, dihancurkan secara manual. Robin segera melupakan meja di sebelahnya. Perhatiannya tertuju pada mangkuk Ubi yang bentuknya terlihat seperti es krim.
Tanpa banyak bicara, mereka semua segara asyik menyantap Ubi helaya masing-masing.
Tapi saat itulah, saat rombongan Saleh dan Mei mulai asyik menikmati Ubi helaya, perempuan dengan bedak tebal di meja sebelah menoleh. Tatapan perempuan itu terhenti ketika menatap Ibu Anna. Wajah perempuan itu nampak terkejut, kemudian memasukkan lipstik dan cerminnya kedalam tas. Beranjak berdiri mendekati meja milik rombongan Saleh dan Mei.
"Ne~e beibī, dokoheikuno?" Tentara Jepang bertanya perempuan itu akan kemana.
__ADS_1
Perempuan itu mengabaikan seruan tentara Jepang itu. Terus melangkah menuju meja rombongan Saleh dan Mei, lebih tepatnya menuju kursi Ibu Anna.