
Robin dan Robert baru bangun pukul lima. Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, mereka ikut Mang Jajan sholat subuh di Musholla. Robert sudah ikut sholat sekarang, entah ia serius atau hanya ikut-ikutan.
Robin terkantuk-kantuk saat sholat, juga menguap berkali-kali saat seorang orang tua yang bukan Saleh menggelar majelis ilmu, membahas tentang fikih haji. Ada banyak sekali jamaah yang bertanya antusias. Dia antara banyaknya jamaah, lima puluh enam pria berjas hitam itu juga ada di dalam musholah. Bahkan ketika sholatpun mereka masih mengenakan jas hitam.
Pulangnya, setiba di kabin. Robin dan Robert memijat punggung kakaknya. Punggung kanan bagian Robin, punggung kiri bagian Robert. Tapi, bukannya fokus memijat, dua bocah kecil itu lebih banyak bertengkar soal mana bagian siapa.
Peluit tanda sarapan berbunyi setelah dua bocah kecil itu selesai mandi dan berganti pakaian. Mereka semangat keluar kabin karena hari ini kakaknya Mei juga ikut makan bersama mereka di kantin. Empat tentara Jepang yang biasanya berjaga juga mengikuti mereka.
"Pagi Robin, Robert." Eyang Ran menyapa, mereka berpapasan di depan pintu kabin.
"Pagi Eyang Ran." Robin tertawa, bukan karena sapaannya. Tapi karena Eyang Ran sudah menyebut nama keduanya dengan benar.
Mereka ramai-ramai berjalan menuju kantin. Tapi kali ini lebih lambat karena langkah pasangan sepuh itu tidak bisa di bandingkan dengan Robin yang bisa melompati anak tangga sekaligus tiga. Setidaknya Robin tidak keberatan berjalan sedikit lambat. Ia malah asyik memerhatikan. Lihatlah betapa mesranya pasangan tua itu
Saat naik tangga, Eyang Ran membantu istrinya dengan lembut. Saat berjalan di lorong, mereka berdua berpegangan tangan.Eyang putri Sesekali berhenti, Eyang Ran dengan sabar menunggu. Aduh, mesra sekali, seolah ini perjalanan bulan madu keduanya.
Robin ingin berbicara soal itu. Tapi Robert sudah memegang pundaknya duluan, memberi tatapan padanya penuh arti, seolah berkata: jangan bicara apapun.
Sementara Mei yang berjalan di bantu Bibi Siti memanggil Mang Jajan mendekat ke arahnya, "Mang, kenapa Eyang Ran dan Eyang Putri bisa keluar dari kabin sebelah? Bukannya kabin mereka berada tepat di antara kantin dan musholla? Dan kenapa Mang Jajan tidak bilang padaku jika mereka ada di kabin sebelah?"
Mang Jajan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maaf, Nona. Mamang juga tidak tau alasan mereka bisa pindah di kabin sebelah, belum sempat Mamang tanyakan. Maaf juga, Mamang lupa memberitahu Nona tentang mereka sudah pindah sejak kemarin."
Percakapan mereka terhenti karena sudah memasuki pintu kantin. Rombongan langsung menuju antrean. Mei di bantu Bibi Siti duduk, makanannya nanti diambilkan.
__ADS_1
Robin dan Robert membawa piring mereka masing-masing ke meja panjang. Lagi-lagi kali ini ada Ibu Anna dan suaminya, ada juga Bapak Hatta dan Bapak Andipati serta rombongan dari Kesultanan Riau. Saleh terlihat duduk di belakang Kakak Mei.
"Pagi, Kakak." Robin menyapa Saleh yang entah sejak kapan sudah duduk di belakang Mei.
Mei membalikan badan, "Apa yang Abang lakukan di sini?"
Saleh terkekeh. Tadi adalah sebuah pertanyaan konyol, tentu saja untuk makan jawabnya pada Mei
"Apa Abang belum tidur? Mei bertanya lembut.
Saleh menggeleng sebagai jawaban.
"Abang terlihat pucat sekali. Jangan terlalu di paksakan? Jika berat, aku bisa bicara pada Kakak Heiho untuk menerima tawarannya."
"Jangan lakukan itu. Percayalah padaku, biar aku yang mengurus sepupumu itu. Ingat, lain kali jika ada apa-apa langsung ceritakan padaku." Saleh menatap Mei lembut.
Belum ada yang tau tentang hubungan keduanya, kabar Mei hamil juga sudah hampir tak di bicarakan lagi. Sementara Robert tertarik menguping pembicaraan kakaknya dengan Saleh,penasaran. Sepertinya ada yang dua orang itu sembunyikan. Ia akan mencari tau nanti, pikir bocah berusia empat belas tahun itu.
Orang dewasa lain di samping mereka tengah membahas tentang kondisi Filipina yang tak jauh berbeda dengan Indonesia. Sama-sama di kuasai oleh Jepang, Robin sama sekali tidak tertarik menguping pembicaraan mereka.
"Memangnya pekerjaan di kantin berat ya, Kak?" Robin tiba-tiba saja bertanya pada Kakaknya yang terlihat asyik. berbicara sendirian dengan Kakak Saleh, "Bukannya mereka hanya memasak di dapur seperti Bibi Siti? Jadi apanya yang repot."
"Report, Robin." Saleh yang menjawab, "Mereka menggosok piring, mencuci kuali, dan yang paling merepotkan adalah mereka makan belakang di saat semua orang sudah selesai makan. Lihatlah Om Yusuf di sana." Saleh menunjuk ke arah Yusuf yang tengah sibuk membagikan minuman.
__ADS_1
"Dia terlihat kerepotan bukan?" Tanya Saleh kembali menatap Robin, "Kapal ini ada banyak penumpang. Bayangkan berapa banyak penumpang yang harus di layani? Berapa banyak makanan yang harus di masak? Dan masih banyak lagi yang harus mereka kerjakan." Saleh menjelaskan.
Robin mengangguk-angguk, masih mendengarkan.
"Koki dan para awak yang bertugas di dapur juga harus sudah ada di dapur dua jam sebelum jadwal makan untuk mempersiapkan makanan. Mereka juga harus tetap di dapur setelah semua penumpang selesai makan untuk membersihkan seluruh kantin baru bisa makan. Lalu mereka hanya bisa beristirahat beberapa jam saja sebelum jam makan berikutnya."
"Oh, begitu. padahal kita tinggal makan saja. Habis makan, piring-piringnya di tinggal pergi begitu saja. Ternyata bekerja di bagian dapur merepotkan sekali." Robin bergumam pelan.
"Tumben kau sepagi ini sudah menjadi bijak, Robin." Robert menggoda.
Meja itu di penuhi tawa, termasuk tawa Ibu Anna yang dari tadi hanya diam mendengarkan. Ibu Anna tertawa melihat wajah serius Robin.
Sementara mereka tengah asyik makan dan bercengkrama, Yusuf dengan wajah di tekuk berusaha terus melayani penumpang. Mengisi kembali cerek-cerek yang telah kosong, mengambil gelas-gelas bersih. Sesekali ia melirik ke meja yang di duduki oleh Saleh, mengumpat kawannya itu.
Karena Saleh ia bekerja di dapur kapal itu, walau sebenarnya ia sedikit menyukai pekerjaannya ini. Biarpun lelah, mempunyai kepala koki bermulut pedas, bekerja keras. Namun ia menyukainya karena gajinya yang besar, haha.
Sementara di meja sebelah, perhatian beberapa orang teralihkan pada pasangan sepuh Eyang Ran dan Eyang Putri yang terlihat saling menyuapi satu sama lain, romantis.
Robin mengikuti arah pandang orang-orang, "Romantis sekali." Gumam Robin yang dapat di dengar oleh Ibu Mina, anak pertama dari Eyang Ran dan Eyang Putri.
"Seperti pengantin baru selamanya," Kata Ibu Mina.
Demi mendengar ucapan Ibu Mina selanjutnya, orang-orang dewasa ikut menoleh.
__ADS_1
"Keduanya itu seperti pengantin baru setiap hari. Ketika Eyang Ran pergi ke ladang, Eyang putri selalu mengantar sambil mencium pipi kiri dan kanan Eyang Ran. Ketika Eyang Ran pulang dari ladang, Eyang putri sudah menunggu, kemudian mencium kembali pipi kiri dan kanan Eyang Ran, sambil bergandengan tangan mereka masuk dalam rumah.
Ibu Mina, menjadi salah satu saksi hidup kisah cinta Eyang Ran dan Eyang Putri, orang tuanya yang selalu terlihat romantis bahkan di hadapan anak-anaknya. Cinta keduanya seakan tak pernah padam dimakan usia. Dalam berbagai kesempatan, keduanya bahkan selalu tampil mesra.