
Fahri dan Rio menuruni tangga kapal dengan semangat. Berjalan cepat.
Setelah sedikit perdebatan serta aksi pemaksaan, Sersan Heiho akhirnya bersedia ikut. Fahri tersenyum menggandeng tangan Heiho sepanjang perjalanan turun. Sementara Rio sudah agak jauh di depan berjalan bersemangat.
"Kalian berdua lama sekali." Gerutu Rio.
"Kau saja yang jalannya terlalu cepat." Fahri mendengus.
Mereka bertiga menyewa satu kereta kuda. Tidak ada tentara Jepang lain yang pergi menemani mereka, Sersan Heiho tak berani mengambil resiko jika sampai ada masyarakat pemberontak yang mengenalinya dan membuat anak buahnya ikut terseret masalah.
Satu kereta kuda itu melintasi keramaian dermaga, menuju gerbang pelabuhan.
"Penumpang dari Manila tahun ini sepertinya banyak sekali." Fahri melihat calon penumpang di anak tangga kapal.
"Harga komoditas sudah kembali membaik sejak setahun lalu. Walaupun Amerika juga mengincar Jepang, namun kondisi di Manila masih stabil seperti di Batavia. Tidak banyak terjadi pemberontakan kecuali di Labuan dan Surabaya."
Rio mengangguk setuju. Sebagai seorang perwakilan suatu negara di luar negeri. Mereka berdua bertugas melakukan kegiatan dalam rangka meningkatkan kerja sama antar negara atau organisasi internasional dalam segala bidang yang bermanfaat bagi kepentingan.
Keduanya juga bertugas menyampaikan kembali informasi hasil pelaksanaan tugas, pengamatan dan analisis di bidang politik, hukum, keamanan, ekonomi, sosial dan budaya dalam kerangka hubungan dengan negara asing. Soal kejadian yang terjadi di Labuan, mereka juga sudah menerima laporannya.
Beberapa tentara Jepang sempat memeriksa dokumen mereka bertiga di depan gerbang Pelabuhan. Tidak ada masalah. Mereka di biarkan lewat. Kereta kuda mulai memasuki jalanan kota.
"Ingat kita hanya makan sebentar lalu kembali." Heiho berkata dingin sambil sesekali melirik sekeliling waspada. Merasa menyesal sudah menerima bujukan Rio agar keluar dari kapal.
__ADS_1
"Iya, kita hanya akan ke Frasa Manila, Sersan. Sebuah tempat makan yang terkenal di dekat balai kota. Tempat itu berdekatan dengan kantor Gubernur Jenderal Jepang yang berkuasa di Manila, jadi Sersan tidak perlu khawatir. Keamanan di sana terjaga dengan baik."
Mata Sersan Heiho memicing, "Gubernur Jenderal Jepang?"
Fahri dan Rio mengangguk serempak.
"Royuko Kimonon." Heiho menyebut nama Jendral tersebut dengan nada tak suka, "Pria tua itu tidak dapat membantu sama sekali. Dia pamanku, tapi dia hanya seorang anak selir. Kekuatannya seberapa."
"Bukankah kau cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri?" Rio menyenggol pelan pundak Sersan Heiho.
"Sial, kalian berdua harus bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."
Fahri dan Rio hanya tertawa menanggapi.
Kereta kuda berbelok masuk ke sebuah jalan yang tidak terlalu sempit, tapi tidak juga luas. Mereka tadi sempat melewati sebuah lapangan luas yang terdapat gedung besar di unjung lapangan. Megah sekali, bangunan itu adalah kantor Gubernur.
Di lapangan luas depan gedung itu, terlihat belasan tentara Jepang beserta mobil-mobil mereka. Terparkir juga kereta-kereta kuda. Pusat pemerintahan Jepang di Manila itu nampak sibuk.
Kereta kuda berbelok ke jalan yang lebih kecil, meski begitu masih terlihat ramai. Kereta terus maju beberapa blok, hingga merapat ke atas trotoar di salah satu bangunan bergaya Spanyol. Rumah makan yang mereka kunjungi tepat berada di tengah bersampingan dengan tempat hiburan malam.
Gadang Pera, Sebuah Papan besar, nama tempat hiburan itu di gantung di bagian atas tiang jalan. Menarik perhatian dengan tulisan bertinta emas. Tempat itu tutup.
Sersan Heiho menatap Fahri dan Rio meminta penjelasan mengapa ada tempat hiburan di samping rumah makan yang mereka tuju. Ia berfikir Fahri dan Rio pasti merencanakan sesuatu, dan benar saja.
__ADS_1
"Kita tidak mungkin hanya makan saja bukan. Kapal baru berangkat nanti malam. Kita punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Tenang saja kawan, kamu akan menikmatinya." Rio merangkul bahu Sersan Heiho.
Sersan Heiho tidak bereaksi, sudah ia duga akan seperti ini. Salah satu alasan ia menyukai Fahri dan Rio karena keduanya mempunyai pola pikir bebas, tidak kaku apalagi terbelakang seperti masyarakat pribumi kebanyakan. Namun untuk saat ini, Heiho benar-benar tak ingin berlama-lama berkeliaran di kota Manila.
Sambil menunggu pesanan, Heiho menatap sekeliling. Di sudut rumah makan, dilihat dari pakaiannya sepertinya dua orang itu adalah pegawai pemerintah daerah. Di sudut lainnya juga, ada beberapa pegawai pemerintahan lain, berpakaian rapi. Heiho tersenyum simpul, Fahri dan Rio tau betul jika ia begitu tidak menyukai penduduk pribumi yang tidak terdidik. Tempat makan itu cocok untuknya.
Dua pelayan datang membawa nampan berisi sayur-sayuran hidangan sup tapi ada campuran daging di dalamnya, uniknya kuah sayur itu menggunakan air santan.
Setelah selesai makan, melepas serbet, memastikan tangannya tercuci bersih padahal ia makan menggunakan garpu dan sendok. Sersan Heiho kembali mengikuti langkah Fahri dan Rio. Keduanya bukan keluar dari tempat makan, malah semakin masuk ke dalamnya. Heiho hanya mengikuti tanpa curiga sedikitpun.
Rupanya, dapur belakang rumah makan itu terhubung langsung dengan tempat Hiburan Gadang Pera di sebelah. Dari depan terlihat jika tempat itu tutup, tapi di dalam sana sudah ramai. Wanita penghibur hilir mudik. Ada Pria Pejabat pemerintah serta Tentara Jepang terlihat menikmati minuman-minuman beralkohol di depan mereka. Para Wanita ada yang menari, duduk manja di atas pangkuan para pria, sibuk menuangakan minuman ke dalam gelas-gelas.
Fahri sudah lebih dulu memesan tempat tersendiri. Baru saja ketiganya hendak berjalan ke tempat mereka. Suara tembakan memenuhi langit-langit tempat hiburan itu.
Para Wanita berteriak histeris, "Sersan Heiho" Seorang pria dengan bekas luka potong di mata kirinya berjalan mendekat ke arah Heiho. Hening seketika. Wajah Sersan Heiho pucat pasi, seperti halnya melihat hantu. Ia berjalan mundur beberapa langkah hingga menabrak meja di belakangnya.
"Apa Tuan masih mengenaliku? Ah, aku harap Tuan kenal. Berani sekali Jepang sialan sepertimu menginjakkan kaki di Manila." Teriak Pria itu.
Sersan Heiho menelan ludah susah payah. Ia jelas kenal betul pria itu, dia salah satu masyarakat pribumi Manila yang bersekutu dengan Spanyol. Pria itu adalah salah satu pemimpin para pemberontak yang berhasil kabur. Bekas luka di mata pria itu adalah tanda yang Sersan Heiho buat.
Berbeda dengan Sersan Heiho yang nampak takut dengan Pria itu. Para tentara Jepang yang mendengar Negara mereka di sebut secara jelek, merasa tak suka. Para tentara Itu menggebrak meja, nampak marah. Mulai menodongkan pistol ke arah Pria tadi.
Pria tersebut tersenyum. Entah dari mana datangnya, sekitar tiga puluh pria tiba-tiba sudah berada di sekeliling pria itu. Dengan senjata di tangan masing-masing. Jumlah mereka kini lebih banyak dari tentara Jepang yang hanya berjumlah belasan.
__ADS_1
Salah satu tentara Jepang melepaskan tembakan duluan, tepat mengenai salah satu dari para pemberontak. Baku tembakpun tak bisa di hindari.