Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 19


__ADS_3

Tiga minggu kemudian.


Setelah sarapan pagi, Robin dan Robert tidak pergi bermain-main di dek atau di kabin. Sekolah sementara sudah di mulai sejak kapal meninggalkan pelabuhan Labuan.


Kapten Diego mengosongkan sebuah ruangan yang biasa di pakai untuk tempat rapat, sekarang di ubah menjadi kelas belajar. Tidak banyak yang perlu di perbaiki dari ruangan tersebut. Kursi-kursi sudah tersusun rapat, sudah ada papan tulis. Mereka hanya menyingkirkan lemari-lemari dan peralatan kapal agar ruangannya lebih luas.


Dua belas anak-anak memulai sekolah sementara mereka dalam kapal, dengan hanya memakai pakaian rapi. Tidak ada pembagian kelas, semua anak-anak di jadikan satu. Karena kabar baiknya, guru yang mengajar berpengalaman menangani anak dengan usia yang berbeda.


Ada dua guru yang mengajar. Satunya bernama Bapak Hatta dan satunya bernama Bapak Andipati. pagi itu bapak Hatta yang bertugas mengajar, mereka bergantian.


Walaupun hampir semua pelajaran yang di ajarkan sudah Robin dan Robert ketahui dari kelas kursus yang mereka dapatkan secara khusus. Keduanya tetap menikmati kegiatan baru mereka tersebut.


Berbeda dengan Ibu Anna yang selalu mengenakan pakaian terang, guru mereka yang ini mengenakan pakaian rapi berupa celana panjang warna gelap, dan baju berwarna senada, serta sepatu pantofel. Khas pakaian kalangan berpendidikan di zaman itu.


Meski hanya sekolah sementara, guru mereka mengajar dengan serius. Setiap mata pelajaran masing-masing sembilan puluh menit, sudah dengan waktu istirahat lima belas menit.


Pukul setengah dua belas pelajaran selesai.


"Bagaimana sekolah kalian tuan?" Bi Siti bertanya saat Robin dan Robert berlarian, berebut siapa yang masuk lebih dulu ke dalam kabin.


"Seru Bibi."


"Biasa saja."


Jawab Robin dan Robert berbeda.


"Seru bagaimana tuan." Bibi Siti bertanya lagi, nampak antusias.


"Seru saja, punya banyak teman." jawab Robin.


Robert hanya geleng-geleng kepala, tak menanggapi ucapan Robin. Ia hendak duduk di sofa.


"Pergi beli obat. katanya Nona sudah lama merasa tidak enak badan."


"Kakak sakit?" Robin tertarik, juga Robert di belakangnya, "Aku akan pergi mengecek."

__ADS_1


"Tuan tau tempatnya?"


"Tau, Bibi. Di dek belakang lantai dua." Jawab Robin.


"Tapi Tuan__"


Belum sempat Bibi Siti selasai berbicara, Robin dan Robert sudah lebih dulu berlari melangkah ke pintu kabin. Mereka bahkan belum sempat berganti pakaian.


Ada banyak sekali bagian kapal yang belum mereka kunjungi, salah satunya adalah apotik itu. Mereka sudah penasaran ingin pergi ke sana sejak Saleh pernah di bulak-balik membeli obat di tempat itu.


Apotik kapal terletak persis di sebelah ruangan penjahit. Robin dan Robert sempat melongokkan kepala mengintip ruang jahit. Di dalam sana rak-rak di penuhi beraneka jenis benang, di susun rapi sesuai warna. Ada mangkuk yang isinya banyak kancing dengan berbagai ukuran. Di lemari yang besar, bertumpuk kain-kain yang belum di pakai. Ada beberapa lemari yang sudah tergantung seragam awak, jas, kemeja dan baju penumpang.


Medicijnmaker artinya ruang obat atau apotik. mereka akhirnya menemukan sebuah ruangan kecil. Robert lebih dulu mendorong pintu apotik yang terbuat dari kayu itu.


"Sudah selesai sekolah kalian?"


Mei nampaknya sudah membeli obat yang diperlukan, di tangannya sudah ada satu kresek berisi obat-obatan.


Robin mengangguk, sambil asyik melihat ruangan obat. Tidak ada bedanya dengan apotik-apotik di Batavia. Ruangan itu hanya berisi banyak obat-obatan.


"Kakak sakit apa?" Tanya Robin penasaran.


Robin tidak terlalu memperhatikan jawaban kakaknya, karena ia masih sibuk memperhatikan isi ruangan obat. Berbeda dengan Robert yang menatap kakaknya itu curiga, seperti ada yang di sembunyikan Mei.


.


.


.


Hingga sore hari perjalanan lancar. Cuaca masih sama baiknya, ombak juga tenang. Setelah makan siang di kantin, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di kabin masing-masing karena di luar terik matahari seperti bisa membakar ubun-ubun.


" Kapten Diego mengundang Lady Mei De Houten makan malam." Ucap Lucas si awak kepala, mengantarkan surat undangan ke dalam kabin.


Robin berdiri di belakang kakaknya langsung berseru riang.

__ADS_1


"Bukan kamu yang diundang, Robin." Mei memperingatkan.


"Dua tuan muda boleh ikut datang, Nona. Lucas tersenyum ke arah dua bocah laki-laki itu sambil mengacungkan jempol.


"Asyik, akhirnya ada jamuan makan. Aku bosan makan makanan lokal terus." Keluh Robin.


Lucas tertawa, "Jangan lupa Nona, pukul tujuh tiga puluh, di ruang makan perwira." Lucas mengingatkan, sebelum akhirnya pamit pergi.


"Bukannya kau yang paling suka makanan lokal?" Robert bertanya setelah Lucas sudah keluar.


"Yah, aku suka. Sangat suka, tapi. aku hanya ingin makan Lobster, semoga sebentar malam ada Lobster." Jawab Robin polos


Mei dan Robert sama-sama menggelengkan kepala mendengar jawaban Robin.


Malamnya.


Lima menit sebelum peluit tanda makan malam berbunyi, pukul tujuh lewat dua puluh lima menit. Mei tidak bisa pergi, demamnya semakin tinggi. Mang Jajan yang mewakili, walau tadi sempat menolak. Mang Jajan merasa tak enak hati datang di acara jamuan makan orang-orang penting. Namun setelah Mei meyakinkan, Mang Jajan akhirnya pergi dengan Robin dan Robert.


Ruangan jamuan makan malam itu cukup luas. Satu meja panjang besar berada di tengahnya dengan dua belas kursi berjejer rapi saling berhadapan. Ruangan itu sudah ramai ketika Mang Jajan, Robin, dan Robert tiba.


Kapten Diego mengenakan seragam nahkoda lengkap, juga beberapa perwira kapal lain. Saleh sudah ada di sana bercakap dengan Bapak Hatta dan Bapak Andipati, ketiganya mengenakan pakaian batik.


Kekhwatiran Mang Jajan terlalu berlebihan, setelah mendengar jika Mei sakit. Kapten Diego mempersilahkan dia dan dua tuannya untuk duduk. Robin dan Robert duduk lebih dulu sopan, rapi. Walau masih kecil, terlihat jelas mereka bangsawan terdidik.


"Aku sudah lama sekali tidak makan makanan mewah seperti ini, Kapten. Aku bahkan sudah lupa bagaimana cara memegang garpu dan pisau dengan benar." Saleh merendah.


Kapten Diego terkekeh, "Terlalu banyak misteri tentang kau, anak muda. Tapi, aku bisa pastikan ucapan kau tadi hanya gurauan semata."


Ucapan Robin terkabulkan, ada lobster. Robin tengah berusaha membelah dua cangkang Lobster secara tidak sabaran. Susah payah ia mencoba, bukannya berhasil, malah bumbu dari lobster besar itu menciprat bajunya. Saleh yang duduk di dekatnya tertawa, membantu membuka cangkang lobster.


Robin terkekeh, mengucapkan terimakasih. Robert menyikut lengan adiknya, "Jangan malu-maluin."


Robert melotot, "Siapa yang malu-maluin? Aku hanya ingin makan Lobster.


Ke dua kakak adik itu sibuk saling meledek satu sama lain

__ADS_1


Para orang dewasa mulai terlibat percakapan penting, Saleh nampak tidak tertarik. Ia mencoba mendekati Mang Jajan, "Mei sakit apa Bang?"


Robin dan Robert menoleh, "Demam." Jawab mereka berdua serempak.


__ADS_2