Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 39


__ADS_3

"Aku mempunyai sebuah misi untuk dia lakukan tadi pagi, Ruben. Karena itu dia datang lebih awal. Jika kau ingin marah, marahlah padaku."


Chef Ruben diam seketika. Mana berani dia marah kepada bosnya.


"Tapi dia tidak menjalankan tugasnya. Seharusnya tadi pagi Yusuf menemaniku keluar bersama Mei dengan dua orang anak buah tambahan saja. Tapi karena dia tidak ada. Terpaksa, aku harus membawa sepuluh orang untuk menemaniku. Kau jangan terlalu memarahi dia, Ruben. Tenaganya setara dengan lima orang dewasa, karena itu dia bisa menjadi kawanku."


"Baik tuan." Chef Ruben menjawab patuh, "Jadi, apakah Tuan sudah mencari Yusuf?"


"Aku sudah mencarinya di setiap lantai. Di tempat kami biasanya duduk. Tidak di temukan. Aku bahkan sampai sempat bertanya pada awak kapal lain. Tidak ada satupun yang melihat Yusuf seharian ini."


"Tapi bagaiman mungkin dia bisa menghilang begitu saja, Tuan? Ini tetaplah sebuah kapal. Tembok kapal membatasi orang." Chef Ruben bertanya bingung.


"Mungkin saja jika kemarin pagi dia turun dan tidak kembali lagi." Saleh menyebut kemungkinan terburuk, mulai menghirup sup perlahan, bergumam pelan, "Lezat sekali."


"Jika seperti itu seharusnya datanya ada pada awak di dek pemeriksaan?"


"Benar sekali. Tapi mengetahui hal itu sedikit sulit sekarang. Sersan Heiho memang berhasil kita singkirkan, akan tetapi sialnya Akio lebih menyusahkan dari pada Heiho. Pria itu menjaga keamanan dek dengan ketat."

__ADS_1


Meja itu lenggang sejenak. Jalan buntu. Tetap tidak ada yang tau di mana Yusuf berada.


Keduanya kemudian membahas hal lain. Kali ini tentang Chef Ruben. Kepala koki itu berasal dari kota kecil di Belanda. Ia sudah menjadi koki sejak usia dua belas tahun, membantu restoran milik keluarga.


Saat usia delapan belas, ia melamar manjadi juru masak sebuah kapal perang. Di pundaknya ada pangkat Kopral Marinir, hal itulah yang membawa ia hingga sampai ke Indonesia. Tapi setelah menetap lama hampir dua puluh tahun, lelah melihat pertumpahan darah di mana-mana ia memutuskan berhenti."


"Syukurlah, Tuan. Waktu itu aku bertemu dengan Ibumu, beliau perempuan kuat. Aku pensiun dini dari dunia militer dan memutuskan menjadi penjaga Nyai. Karena ibu Tuan juga aku bertemu dengan istriku, hidup dengannya hingga anak-anakku dewasa dan telah menikah."


Saleh tersenyum. Cerita ini sudah ia dengar berulang kali, Chef Ruben sering sekali menceritakan, memuji ibunya. Jika tidak melihat bagaimana Chef Ruben begitu mencintai istrinya. Saleh mungkin berfikir Chef tua itu juga jatuh hati dengan ibunya.


"Setelah Nyonya meninggal dan tak lama istriku juga ikut meninggal. Aku sedih sekali. Tuan muda kemudian menyuruhku melamar ke Koninklijke Rotterdam Lloyd di Sulawesi, sehingga aku bisa melaut. Karel Ambo adalah kapal pertama, sudah lima tahun berlalu hingga hari ini. Dan sekarang aku berakhir memimpin awak-awak kapal tidak berguna seperti Yusuf dan teman-temannya."


Tidak terasa sup semangkuk dan teh hangat di gelas telah habis. Percakapan ringan itu membuat suasana kantin yang sunyi terasa hangat.


"Terima kasih banyak atas sup asparagus, Ruben." Saleh berdiri, hendak balik ke kabin, "Besok-besok aku akan sering mengunjungimu. Tapi jangan terlalu berharap, kau tau aku tidak bisa menunjukkan kepada orang lain jika kita saling kenal.'


Chef Ruben mengangguk senang, "Tidak masalah, kapanpun Tuan punya waktu silahkan datang."

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke kabin masing-masing."


Kapal Karel Ambo telah memasuki perairan selat Alasas. Jika tidak ada halangan, besok pagi, kapal sudah tiba di pelabuhan San Fernando. Awan tebal masih menutupi langit. Angin bertiup kencang. Lorong-lorong panjang kapal sunyi dan remang. Saleh mempererat Jaketnya. Chef Ruben berjalan di sebelahnya tanpa banyak bicara.


Saat mereka naik anak tangga, tiba terdengar sesuatu yang jatuh dari belakang mereka. Chef Ruben refleks menoleh. Suara itu jelas sekali terdengar, seperti bunyi kelontang ember yang di tendang.


Ada yang sedang mengikuti mereka. Siapa itu? Di tengah malam seperti ini?


"Siapa di situ?" Chef Ruben berseru, hendak memeriksa.


Langkah Saleh terhenti. Kini ia berdiri di atas tangga, berkata pelan, "Biarkan saja Ruben."


"Tapi itu siapa, Tuan? Jangan-jangan penyusun." Chef Ruben menoleh kebelakang, penasaran.


"Bukan siapa-siapa. Sudahlah biarkan saja." Saleh menggeleng.


Chef Ruben hendak bertanya lagi, tapi Saleh sudah lebih dulu kembali menaiki anak tangga. Chef Ruben masih penasaran. Ia berfikir lagi, apakah akan memeriksa lorong remang di sana. Mengurungkan niatnya, mungkin sesuatu benda itu jatuh karena angin kencang. Yang pasti bukan jatuh karena di senggol kucing. Tidak ada hewan di atas kapal ini.

__ADS_1


Saleh kembali merapatkan jaket. Ia tahu persis itu apa. Sejak hari pertama tiba di kapal ini, ia sudah tahu itu suara apa. Sesuatu yang sesekali mengikutinya, mengintai dari dalam gelap.


__ADS_2