
Saleh berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong pelabuhan yang cahayanya remang. Sudah pukul setengah sebelas. Kapal sudah lengang. Orang-orang sudah sejak tadi masuk kabin, beristirahat.
Sejak sehari lalu meninggalkan pelabuhan Manila, langit mendung serta angin bertiup kencang. Hal itu membuat seluruh penumpang memilih duduk di ruang tertutup daripada harus duduk bercakap-cakap di dek terbuka.
Kapal Karel Ambo terus melaju menuju San Vernando. Sebentar lagi mencapai seperempat jalan. Kapal itu bagai titik bercahaya di tengah hamparan lautan gelap.
Saleh mencengkram pegangan erat-erat. Menaiki anak tangga secara pelan dan hati-hati, lantai licin.
Hari ini berjalan sangat baik baginya. Ia sempat bingung bagaimana dia akan membuat Mei dan adik-adiknya terlebih dulu. Syukurlah, nasib baik menghampirinya. Persis ketika dia akan berbisik pada anak buahnya untuk pergi ke tempat Fahri dan Rio terlebih dulu, situasi memihaknya begitu cepat.
Guru mengaji anak-anak yang selama ini jarang makan di kantin, jarang bergaul. Entah apa masalahnya ia dengan perempuan berdandan tebal itu hingga meminta pulang terlebih dahulu. Hal itu patut di syukurinya karena Mei juga bisa pulang terlebih dahulu.
Tapi sekarang ia punya masalah baru. Terakhir kali ia bicara dengan Yusuf kemarin malam, ketika ia mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya serta meminta Yusuf membantu dia atas aksi tadi. Tapi sejak kemarin pagi kawannya itu menghilang entah kemana.
Sebenarnya Saleh tak ingin terlalu memikirkan keberadaan Yusuf. Kawannya itu pasti ada di suatu tempat di dalam kapal ini. Namun, Saleh mulai merasa ada yang tidak beres. Selain tak mendapati Yusuf ketika sejak kemarin, seharusnya sejak pukul sembilan Yusuf sudah datang berkunjung ke kabin milik Saleh. Itu sebuah rutinitas yang selalu Yusuf lakukan sejak keduanya berangkat dari Batavia.
Lantas Saleh mulai khawatir. Apakah mungkin terjadi sesuatu kepada Yusuf tanpa ia ketahui? Segala kemungkinan buruk telah ia pikirkan. Saat pikiran-pikiran itu melintas, Saleh meletakkan buku yang sedang ia pegang. Tidak, ia bahkan sejak tadi tidak fokus membaca.
Saleh teringat Kantin, siapa tahu Yusuf berada di sana. Kawannya itu pernah sesekali lembur bekerja. Karena hal itu Saleh terus berjalan menelusuri lorong remang-remang. Mungkin ia akan bertemu Yusuf di sana.
Saleh tiba di kantin lima menit kemudian. Menghela nafas lega karena salah satu lampu kantin masih terlihat menyala. Dari luar terlihat ada dua orang duduk berhadapan di meja panjang, "Mungkin itu Yusuf dan Lucas si awak kepala" Gumam Saleh pelan.
__ADS_1
"Oyasuminasai." Saleh menyapa.
"Selamat malam, Tuan Saleh." Lucas langsung berdiri ketika melihat siapa yang masuk.
Tapi yang satu lagi bukan Yusuf, melainkan penguasa tunggal kantin, Chef Ruben, kepala koki yang di kenal tajam mulutnya. Ia juga berdiri menyapa Saleh menggunakan bahasa Belanda, kepala koki itu seorang Hindia Belanda.
"Perkenalkan aku Jack Karaeng." Saleh memperkenalkan diri, berjabat tangan dengan pria tua di hadapannya itu, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Tuan?"
"Namaku Ruben van den Broecke, tapi kau bisa memanggilku Ruben saja. Kita sepertinya belum pernah bertemu." Chef Ruben menggeleng, "Tapi aku yakin sekali, kau pasti sudah sering bertemu dengan masakanku.
Saleh mengangguk, tersenyum simpul, "Tentu saja, Tuan. Aku harus berterima kasih banyak atas masakan lezat yang Tuan sering buat. Aku serasa memakan masakan ibu sendiri.
Pujian seperti, "Masakan Ibu." Adalah suatu kebanggaan bagi para koki. Saleh tahu soal pujian itu, sengaja mengucapkannya.
"Jadi, kenapa kau datang malam-malam kemari? Jadwal makan malam sudah selesai tiga jam yang lalu." Chef Ruben bertanya ramah.
"Aku tiba-tiba merasa lapar. Apakah Tuan punya sisa makanan malam?"
Chef Ruben mengangguk, " Masih ada sisa makanan. Tapi tunggu sebentar, akan aku buatkan masakan baru yang lebih lezat. Aku tidak akan membiarkan penumpang memakan masakan dingin di kantinku. Itu tindakan tidak terhormat."
"Bukan main, sepertinya pujian Tuan Saleh barusan sangat menyentuh hati kepala koki galak itu." Gumam Lucas, berbisik kepada Saleh, " Baru kali ini aku melihatnya begitu riang memasak jam sebelas malam demi seorang penumpang. Ini benar-benar tidak dapat di percaya.
__ADS_1
Saleh tertawa. Menepuk bahu Lucas kemudian beranjak duduk. Saleh jelas tau hal itu, Ia sangat mengenal kepala koki Ruben lebih dari siapapun.
Meski mulutnya tajam, Chef Ruben adalah koki yang baik. Koki pelaut usia enam puluh itu telah bekerja dengannya sejak sebelas tahun lalu, saat usianya masih sembilan belas tahun.
Yah, Saleh kan koki Ruben saling mengenal, tapi hal itu di rahasiakan. Koki Ruben adalah salah satu orang yang bekerja dengannya sejak ibu Saleh masih hidup. Kenapa sampai Ruben bisa bekerja sebagai koki di kapal Karel Ambo, hanya Sale, Koki Ruben, dan Author yang tau hehe.
Lucas lebih dulu pamit meninggalkan kantin.
Chef Ruben kembali dari dapur lima belas menit kemudian, dengan membawa nampan masakan. Ia membuatkan sup asparagus hangat dengan potongan kentang untuk Saleh, "Sudah dua puluh empat jam aku tidak melihat batang hidungnya. Awas saja jika dia datang. Akan ku suruh dia menggosok seluruh pantat kuali di dapur hingga kembali putih semua."
Jawab Chef Ruben menjawab pertanyaan Saleh tentang kemana Yusuf, apakah Chef Ruben tahu?
"Terakhir kali aku melihatnya kemarin pagi, Tuan Saleh." Chef Ruben merubah bicaranya menjadi lebih formal, "Dia datang ke kantin sejak pukul enam pagi, tumben sekali ia datang sepagi itu. Namun, ia hanya diam, melakukan tugasnya. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali." Chef Ruben menjelaskan.
"Anak itu sering sekali membuat masalah. Aku tidak tau dan tidak mengerti kenapa Tuan Saleh menyuruhku membantu agar Kapten Diego merekrutnya jadi awak kantin. Namun satu yang pasti dia sering membawa penyakit bagi awak yang lain." Chef Ruben mengomel.
"Di kapal ini, jika satu awak membuat masalah, seluruh awak lain akan terkena imbasnya. Malam ini adalah tugasnya membersihkan kantin, tapi lihatlah dia tidak ada. Aku tidak bisa menyuruh awak lain karena itu bisa mengacaukan jadwal mereka besok pagi. Karena itu aku bekerja sendirian sekarang."
Malam ini, karena hanya ia yang kosong, Ruben sendiri yang menggantikan posisi membersihkan kantin. Ia tidak keberatan sepanjang awak lain bertugas tepat waktu besok pagi. Itulah alasannya kenapa dia masih ada di kantin hingga larut itu.
Yusuf tersenyum, itulah kenapa ia berkata kalau ia mengenal baik Chef Ruben. Meski mulutnya tajam, tetapi pria tua itu memiliki pemahaman yang baik.
__ADS_1