
"Sebenarnya ada hubungan apa antara Kakak dan Kakak Mei?" Sekarang giliran Robert yang bertanya.
"Tanyakan saja pada Kakakmu, Robert."
"Tapi aku ingin bertanya pada Kakak Saleh."
"Aduh jangan bertanya yang aneh-aneh, Robert." Robin nyeletuk, dengan menggunakan intonasi yang biasanya kakaknya gunakan.
Saleh tertawa. Dua kakak adik itu kembali saling melotot, "Sebaiknya kau dengar jawabannya langsung dari Kakakmu, Robert. Aku tidak bisa menjelaskannya jika Mei sendiri belum bercerita kebenarannya pada kalian adik-adiknya."
"Apa kalian memiliki hubungan spesial?" Robert bertanya lagi, tak memedulikan ucapan Saleh barusan.
"Bisa dibilang seperti itu. Jika kau ingin tau lengkapnya, kau harus dengarkan dari Mei. Jadi bagaimana jika kalian berdua kembali ke kabin? Hari sudah hampir gelap, sebentar lagi waktu Maghrib. Jangan sampai Mei repot mencari kalian."
Robert mengangguk. Ia sekarang tak berniat bertanya lagi. Robert meletakkan buku, hendak mengajak Robin kembali ke kabin mereka, namun hujan kembali turun.
Jendela kaca besar itu basah. Keduanya bertukar posisi, Robert menatap jendela sementara Robin mengambil buku secara acak untuk dia baca. Mereka sudah hampir tiba di pelabuhan Kota Batavia. Semakin sering berpapasan dengan kapal besar. Menatap kapal-kapal di tengah hujan memberi kesan tersendiri.
Robin mulai tenggelam dengan buku bacaannya. Sepertinya kedua kakak adik itu lupa dengan Kakak Mei yang sepertinya sekarang sedang mencemaskan keberadaan mereka, bertanya kapan dua bocah itu kembali.
Suara peluit kapal terdengar kencang, mengagetkan Robin. Si bungsu itu melonjak kaget, menoleh ke arah kakaknya, "Ada apa, Kak?"
"Kapal sudah sampai di Manila." Robert menjawab sambil menunjuk ke depan.
Robin melepaskan bukunya, bergegas ke kursi panjang dekat jendela, duduk di samping Kakaknya sambil menatap keluar.
__ADS_1
Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Robin pikir Batavia sudah sangat ramai, ternyata di sini lebih ramai lagi. Belasan kapal terlihat dari jendela, sebagain berlabuh di dermaga dan sebagian lain melepas jangkar di perairan.
Kebanyakan kapal adalah kapal jenis kargo lintas benua sedang bongkar muat. Sebagiannya lagi kapal perang Jepang dengan banyak meriam di atasnya. Juga ada beberapa kapal-kapal tradisional.Walau hujan, para pekerjanya tetap sibuk. Kesibukan terlihat samar dari balik jendela kaca besar.
Saleh ikut berdiri mendekati jendela, "Selamat datang di Manila, Robin, Robert. Inilah kota paling besar di Filipina. Tempat pusat perdagangan dan Kantor pemimpin Jepang di sini. Besok lusa, kota ini mungkin akan menjadi pusat pemerintahan Negera Filipina seperti Batavia yang akan menjadi pusat negara bangsa kita."
Robin dan Robert sibuk memerhatikan proses kapal berlabuh.
.
.
.
"Kami tidak kemana-mana kok, Kak. Hanya di kabin Kakak Saleh. Tanya saja Kakak Saleh kalau tidak percaya." Robin membela diri. Akhirnya ia ingat tadi Kakaknya berpesan agar mereka hanya perlu mengantar lumpia setelah itu langsung kembali ke kabin. Tapi mereka malah lupa waktum
Robert acuh tak acuh. Tak perduli dengan omelan Kakaknya. Ia sekarang malah menatap Kakaknya intens, ingin bertanya soal hubungan Kakaknya dengan Saleh.
"kalian pasti menganggu Abang Saleh bukan, Robin, Robert?" Mei menatap ke dua adiknya gemas.
"Tidak kok, Kak. Malah Kakak Saleh senang kami bermain di kabinnya."
Mei menghela nafas, masih memarahi Robin dan Robert sebentar. Lantas menyuruh keduanya mandi karena sebentar lagi masuk waktu makan malam.
Robin tidak mengeluarkan suara lagi, mengambil handuk, bergegas ke kamar mandi, "orang dewasa itu kenapa rumit sekali." Pikir Robin, "Kakak Saleh memang benar senang kok, Malah ia dan Robert tadi di pinjami buku.
__ADS_1
Suara peluit tanda makan malam terdengar. Kantin tetap ramai meski di luar hujan deras. Langit-langit kantin yang hangat di penuhi percakapan tentang kota Manila. Satu dua penumpang yang pernah mengunjungi kota itu berkata, betapa luas kota tersebut.
Filipina menjadi satu-satunya negara bekas jajahan Spanyol yang terdapat di Asia, tepatnya berada di Asia Tenggara. Meskipun sekarang telah diduduki oleh Jepang tapi peninggalan spanyol masih banyak di sana.
Pertama ada Manila Chatedral merupakan salah satu bangunan tua di Manila yang terletak di dalam Intramuros atau Walled City. Bangunan gereja Katolik ini sudah dibangun sejak tahun 1571 terletak di depan Plaza de Roma dan memiliki bentuk bangunan yang khas dengan adanya kubah di belakang layaknya basilica.
Selain itu ada MalacaƱang Palace merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial Spanyol yang terletak di San Miguel, Manila. Istana ini sudah didirikan sejak tahun 1751 (Kini digunakan sebagai istana kepresidenan Filipina) di mana sebelumnya digunakan sebagai pemerintahan kolonial Spanyol, serta saat dikuasai Jepang menjadi kantor gubernur Jepang di Filipina.
Semakin ke selatan, ada Fort Santiago yang merupakan benteng buatan Spanyol yang terletak di pesisir pantai Manila, sebagai pertahanan utama kota dan lokasinya berada di Intramuros. Bangunan ini sudah dibangun sejak tahun 1593 dan sempat mendapatkan beberapa kali renovasi, Kini digunakan Jepang sebagai tempat penyimpanan senjata dan penjara saat PD II.
Sistem transportasi di Filipina Relatif kurang berkembang, karena sebagian daerah negara itu terdiri dari pegunungan dan pulau-pulau yang terpencar-pencar, dan juga akibat kurangnya investasi pemerintah dalam membangun infrastruktur
Namun di kota Manila, Trem listrik menjadi transportasi umum yang populer. Dengan memiliki dua jaringan kereta. Pertama, sistem transit Trem Listrik ringan yang terdiri dari Jalur 1 dan Jalur 2. Ke dua, sistem transit Kereta Metro Manila yang terdiri dari Jalur 3 yang hanya di peruntukan bagi bangsawan dan kaum elit.
"Jika kalian ingin berbelanja, Plaza de Roma adalah pilihan yang tepat. Merupakan ruang terbuka di Intramuros dan menjadi pusat dari walled city. terbesar, nama Roma di ambil karena Plaza itu berada di depan gereja Katolik Roma, Manila Chatedral. Ada banyak toko orang cina di sana. Jalanannya selalu di padati mobil, kereta kuda, dan sepeda. Sibuk dari pagi hingga petang." Yang bercerita semakin bersemangat. Orang-orang mendengarkan sambil menghabiskan makanan di piring masing-masing.
"Tapi Manila tidak selalu seindah cerita kau, Kawan." Saleh menimpali.
Satu meja menoleh menatapnya.
"Dalam perang dua tahu lalu, angkatan perang Kekaisaran Jepang melawan pasukan sekutu Spanyol yang didukung oleh pasukan Filipina dari Manila. Perang berakhir dengan kemenangan dipihak Jepang sehingga Manila kehilangan kendali atas ekonomi dan posisi strategis mereka sejak bulan Maret 1943 lalu."
"Selanjutnya Jepang mulai melanjutkan pertempuran melalui kantong-kantong perlawanan penduduk Manila. Ketika Manila jatuh sepenuhnya di tangan Jepang. Pihak Manila menderita kehilangan korban jiwa tentara dan penduduk sipil antara 120.000 hingga 140.000 orang. Berita tentang perang itu koran Jepang yang kubaca waktu itu."
Robin bahkan menghentikan gerakannya menyuap. Tentara Jepang sampai membunuh ratusan ribu orang? Aduh, bagaimana jika orang-orang tau jika ibuku adalah pemimpin Jepang? Mereka pasti akan menjauhiku. Ia tak pernah melihat pembunuhan sebanyak itu. Tapi sepertinya hanya Robin yang berfikir demikian. Toh selama ini semua orang juga sudah tau siapa orang tuanya, Kejahatan orang tua tidak ada hubungan dengan anak-anaknya. Tak ada yang peduli.
__ADS_1