Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 17


__ADS_3

Ke empat orang yang ada di dalam ruang itu cukup terkejut ketika pintu terbuka cukup keras.


"Ada apa ini." Mei bertanya lebih dulu. Ia bangkit berdiri, berdecak pinggang. Meminta penjelasan.


"Kami akan menyerahkan Saleh kepada pihak Jepang yang bertugas di pos jembatan seberang. Pria ini di duga sebagai salah satu neitubu pemberontak atas aksi baku tembak tadi pagi." Sersan Heiho menuding dengan liciknya.


"Itu tidak mungkin." Senggah Mei cepat, tak terima.


"Ada saksi mata yang melihat dia berada di lokasi kejadian tadi pagi, Lalu saat aksi baku tembak terjadi dia tidak berada di kapal." Jelas Heiho mengeluarkan argumennya.


"Yah, dia memang berada di lokasi kejadian, tapi dia bersamaku sepanjang waktu. Kami baru berpisah ketika ledakan itu terjadi." Ucap Yusuf, membela.


"Aku sudah menduganya, Tuan. Jika anda pasti akan menyangkut pautkan kejadian pagi tadi denganku. Tapi aku tidak menyangka anda datang ke sini tanpa memeriksa kebenaran lebih dulu." Saleh bicara santai. Tak nampak sedikitpun rasa takut dari wajahnya.


"Jangan banyak omong kau. Apa yang kalian berdua lakukan. Cepat tangkap dia." Hardik Heiho pada dua orang tentara Jepang di sampingnya.


Ke dua orang itu lantas mengangkat senjata, hendak memaksa Saleh keluar dari ruang perawatan.


"Hehehe." Saleh tertawa mengejek.


"Fuun." Umpat Heiho lantas melayangkan satu tendangan mengenai tempat pada betis Saleh yang di perban. Heiho merasa tak terima di remehkan.


Mei dan Robin berteriak histeris. Saleh meringis, darah keluar dari balik perban. Sepertinya jahitan lukanya terbuka.


Plak.


Tanpa di duga, Mei menampar Sersan Heiho kuat.


Ruangan menjadi hening seketika. Heiho menatap Mei garang, tangannya hendak balas menampar adik sepupunya itu.


"Satu. Satu, ujung jarimu saja yang mengenai wajahku. Aku pastikan bukan Afrika tempat kau di buang, tapi langsung kutup selatan, bermain bersama pinguin dan beruang kutub." Ucap Mei memperingatkan.


Sersan Heiho menurunkan kembali tangannya. Ia memberi kode pada dua tentara Jepang itu, agar segera membawa Saleh keluar dari ruangan. Untuk saat ini, yang perlu ia lakukan hanya menjebloskan pria itu ke penjara.

__ADS_1


"Jauhkan tangan kalian darinya." Perintah Mei, "Apa Abang baik-baik saja?"


"Sejak kapan kau dekat dengan neitubu rendahan ini? Dan Siapa yang kau panggil Abang?" Bukan Saleh yang menjawab melainkan Heiho yang kini bertanya kasar.


"Kau sungguh keterlaluan Heiho." Bentak Mei kasar. Ia terlihat sangat marah, bahkan tidak lagi memanggil Heiho dengan sebutan kakak.


Sersan Heiho hendak protes, namun Mei mengangkat tangannya ke atas. Itu pertanda ia tak ingin ucapannya di potong siapapun.


"Pertama. Kau tidak sopan datang ke ruang perawatan tanpa mengetuk langsung mendorong pintu begitu saja. Syukurlah dalam ruangan ini hanya ada kami berempat. Tapi bagaimana jika tadi tadi, ada orang tua yang punya riwayat penyakit jantung di sini? Bisa jadi orang tersebut langsung mati sekita karena terkejut."


"Kedua. Alasanmu sungguh tidak berdasar menuduh Saleh sebagai tersangka kasus tadi pagi. Yang di katakan Saleh tentu saja benar, apa kamu tidak memeriksa terlebih dulu masalahnya sebelum menuduh orang?"


"Kedua belas pelaku baku tembak tadi pagi sudah di tangkap oleh petugas. Mereka kini mungkin sudah dalam penjara, disiksa atau mungkin sudah di tembak mati. Sementara Saleh berada di kapal ini setelah tadi berusaha mati-matian menyelamatkan Robin. jelas ia bukan Pelakunya."


"Ketiga. Kau menuduh hanya berdasarkan asumsi semata, tanpa bukti yang akurat. Hanya berlandaskan ketidaksukaan kau padanya, secara kasar kau ingin menyeret dia untuk kau permalukan."


"Keempat. Yang paling penting, kau melupakan jika Saleh yang sudah menyelamatkan Robin. Entah apa jadinya adikku jika tadi tak ada Saleh yang menyelamatkannya."


"Aku bisa saja melaporkan tindakanmu tadi kepada ibu, biar perlu akan aku beritahu sekaligus pada ayahmu." Ancam Mei nampak serius, "Sungguh karena dendam, kau sampai gelap mata."


Sersan Heiho hanya diam, namun semua dalam ruangan itu dapat melihat jelas. Raut wajahnya yang nampak menahan marah, tangannya terkepal kuat. Ucapan Mei semuanya terdengar seperti penghinaan baginya. Namun ia jelas tidak dapat berbuat apa-apa, karena kalau benar pelaku baku tembak tadi pagi sudah di temukan. Kali ini ialah yang salah.


"Baiklah, maafkan aku untuk itu." Ucap Sersan Heiho singkat. Ia langsung membalikan badannya, hendak berjalan pergi. "Aku pasti akan membalasmu nanti Mei." Batin Heiho.


"Tunggu!" Mei berseru, menghentikan langkah kaki Sersan Heiho.


Heiho memang berhenti, namun tak membalikan badannya.


"Kau harus minta maaf pada Saleh." Ucap Mei kemudian.


Heiho mendengus kesal, lantas melanjutkan langkahnya. Sampai matipun, aku tidak akan pernah meminta maaf pada mahluk pribumi itu.


Mei dengan tergesa-gesa mengejar langkah Heiho yang panjang, "Aku belum selesai bicara." Mei menarik tangan Heiho agar berhenti.

__ADS_1


"Ada apalagi? Kalau kau ingin memintaku minta maaf pada pria neitubu sialan itu. Sebaiknya jangan membuang-buang waktuku." Heiho melepas tangannya dari genggaman tangan Mei.


"Jangan kau kira aku tidak tau ulahmu kemarin, Heiho."


"Apa maksudmu?" Wajah Sersan Heiho tiba-tiba berubah pucat.


"Seperti kataku sebelumnya. Kau memang seorang Sersan besar, tapi pengaruhku lebih besar dari pada dirimu."


"Katakan saja intinya Mei." Heiho terlihat gusar.


"Salah satu anak buahmu melaporkan jika ketika kapal baru sandar di dermaga Labuan, kau langsung turun. Dan kau pergi ke tempat perempuan malam. Kau juga mabuk-mabukan semalam itu sehingga keesokan harinya kau tidak ada saat kejadian besar di pasar itu terjadi."


"Biar aku tebak. Kau pasti tertidur seharian karena terlalu banyak minum, atau seharian itu kau asik tidur dengan banyak perempuan sewaan." Mei dengan nada mencemooh.


Sersan Heiho terlihat kaget, "Kau jangan mengada-ada." Kilah Sersan Heiho.


"Ckck, Aku punya buktinya kakak. Aku tau kau pasti akan menyangkal, jadi aku menyuruh beberapa orang membuntuti dan memotret apa yang kau lakukan."


"Itulah alasan mengapa kau hilang sejak kapal ini sandar di Labuan, dan kau ingin menyeret Saleh sebagai pelaku agar pihak Jepang tidak mengetahui apa yang Sersan mereka lakukan."


Heiho diam saja, tangannya terkepal erat, "Apa yang kau inginkan?"


"Jauhi pria itu." Tekan Mei.


"Rupanya dia sudah mendoktrin otakmu, Mei. Sudah aku katakan untuk menjauhi pria itu." Sersan Heiho berkata kasar, nampaknya ia tak terima.


"Pria yang kau katakan berbahaya itu lebih baik dari pada dirimu. Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu, Sersan. Ingatlah untuk tidak menggangu Saleh, atau aku akan laporkan perbuatan memalukan kau kepada ayah dan ibu."


"Tidak masalah memang jika kau bermain perempuan atau mabuk memang tidak ada yang akan menyalahkan kau atas itu. Tapi kau melakukannya saat terjadi pemberontakan, dan Robin hilang hari itu. Ayah dan ibu tidak akan membiarkan kau begitu saja jika tau." Mei rasa, sudah cukup banyak yang ia bicarakan. Lantas ia melangkah balik menunju ruang perawatan.


Sementara Heiho masih berdiri mematung di tempatnya, hari ini ia kalah telak.


"Awas saja, aku pasti akan membalas kalian berdua." Gumam Heiho tak terima.

__ADS_1


__ADS_2