
"Astaga, Mei." Sersan Heiho menepuk dahinya, tertawa mengejek, "Ceritakan segalanya padaku. Kalau kau ingin dia masih bernyawa, kau harus jelaskan semuanya, berikan alasan yang bagus untuk kudengar."
Gadis itu diam, menunduk.
"Apa kau dipaksa olehnya?" Tebak Heiho. Kalau benar Mei di paksa, itu akan semakin bagus, ada alasan kuat untuk menyingkirkan Saleh.
Mei menggeleng
"Katakan saja jika kau memang di paksa oleh dia."
Mei menggeleng lagi, "Aku tidak di paksa sama sekali."
"Lalu kenapa kau tidak mau bercerita?" Sersan Heiho menyelidik, "Aku berani bilang, Mei. Kau wanita terdidik, dari kalangan bangsawan atas, terpandang, di hormati. Banyak pria yang tertarik padamu dan kau ternyata malah mempunyai hubungan terlarang dengan pemuda pribumi itu."
"Kami sudah menikah, hubungan kami bukan hubungan terlarang." Mei menjawab dengan berteriak lantang.
Ruang kabin itu hening sesaat.
Sersan Heiho kemudian tertawa, "Jangan mengada-ada, Mei." Ledek Heiho, tertawa kencang sampai mengeluarkan air mata dari sudut-sudut matanya.
"Kami menikah keesokan harinya ketika kau membuat keributan di ruang kerja Kapten Diego untuk pertama kalinya. Ketika hari itu kau menuduh dia menyebarkan faham sesat pemberontakan di dalam musholla. Sekeluar dari kabin kerja Kapten Diego, kami menghabiskan waktu seharian bersama. Besoknya, kami menikah secara siri. Eyang Ran dan Eyang Putri sebagai saksi pernikahan kami berdua."
"Mang Jajan." Mei memanggil sopir sekaligus ajudannya yang sejak tadi berdiri di samping pintu kabin, memerhatikan.
"Tolong, Mang. Masuk ke kamarku, di atas meja ada tumpukan berkas-berkas, di bagian bawah sekali ada dokumen pernikahan serta bukti tanda tangan milik para saksi. Bawa kemari."
Mang Jajan mengangguk, masuk ke kamar Nona mudanya. Lima menit kemudian, kembali membawa selembar kertas. Tanpa di suruh, langsung menyerahkan kertas tersebut langsung kepada Sersan Heiho.
Sersan Heiho meraih kertas tersebut dengan cepat, membacanya berkali-kali. Ia mengernyit tak suka. Di kertas itu tertulis jelas tanggal pernikahan serta cap dari wali nikah, cap mempelai perempuan, cap mempelai pria, serta cap para saksi.
"Fuun." Umpat Heiho kesal, "Lantas kenapa kau tidak pernah memberitahu selama ini?" Bentak Heiho tak terima.
"Kau sangat membencinya, jadi bagaimana bisa aku mengatakan kebenarannya kepadamu. Bahkan keluargaku saja tidak aku beritahu." Jawab Mei. Ia kini terlihat lebih tenang.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin membiarkanmu menyakiti pria yang kucintai, Sersan."
"Hahaha, itulah kenapa kau menyuruhku menjauhinya."
Mei mengangguk, membenarkan.
"Barani sekali kau menipuku, Mei. Sersan Heiho tiba-tiba naik pitam. Entah apa yang di pikirkan pria itu, Heiho merobek kertas yang masih ia tahan. Ia robek hingga menjadi beberapa bagian, "Aku pasti akan menembak kepala pemuda itu." Heiho bangkit, lantas hendak berjalan keluar kabin.
"Jika kau barani menyentuhnya seujung kuku saja, aku pas__"
"Kau tidak dapat melakukan apapun, Mei." Sela Sersan Heiho cepat.
"Kali ini kau kalah banyak. Apa kau pikir orang tuamu akan membelamu jika tau kau menikah dengan pria yang secara terang-terangan mengatakan tidak suka kepada mereka? Tidak! Mereka pasti dengan senang hati menyuruhku menembak mati pria sialan itu." Heiho tertawa puas.
"Kenapa kau diam, Mei. Kemana ancaman yang biasa kau gunakan? Ah, apa kau sudah sadar dengan posisimu sekarang? Seperti katamu, kau berkuasa hanya karena orang tuamu pemimpinnya. Tapi jika orang tuamu tidak berpihak padamu, maka tidak ada orang dalam kapal ini satupun yang akan mendengarkan ucapanmu." Melanjutkan langkahnya
"Tunggu. Apa yang kau inginkan?" Mei menunduk. Benar kata Heiho, posisinya sekarang membuat ia tidak bisa mengancam.
"Jauhi dia." Mei berkata cepat.
"Kau tidak berada dalam posisi yang bisa memerintahkan seenaknya."
"Aku tidak memerintah, tapi aku memohon agar kau menjauhi dia. Pria itu sekarang suamiku."
Heiho mengangguk-angguk mengerti, namun dalam kepalanya sudah tersusun banyak rencana jahat untuk membuat Saleh menderita.
"Aku akan melakukan apapun, asalkan kau tidak mengganggunya."
"Baiklah kalau begitu. Pilihlah salah satu antara gugurkan kandunganmu atau bersamalah pergi kabur sejauh mungkin dengan Saleh."
Mei, Mang Jajan, bahkan Bibi Siti yang berada di belakang dari tadi sembunyi-sembunyi demi mendengar percakapan, mereka semua terkejut mendengar ucapan Sersan Heiho yang tak masuk akal.
"Maksudmu?" Mei bertanya meyakinkan.
__ADS_1
Heiho terkekeh mengejek. Bukannya menjawab, ia berkata, "Aku rasa pendengaranmu masih baik-baik saja, Mei.
"Baiklah." Heiho tersenyum licik, "Sekarang kau di bawah pengawasanku bukan?"
Mei mengangguk.
"Tujuan kita ke Jepang menemui kakek?"
Mei kembali mengangguk.
"Lalu apa kau pikir Kakek akan membiarkan begitu saja kalau tau kau hamil bahkan sampai menikah dengan pria seperti Saleh? Jika Kakek sampai marah, itu juga akan berimbas kepadaku karena aku lalai menjagamu, Mei.
Mei diam.
"Aku tidak ingin mengambil resiko, Mei. Kau boleh memilih salah satu antara bayimu atau Saleh." Heiho memberi penawaran.
"Kenapa harus begitu? Aku tidak bisa memilih salah satunya. Aku akan memilih keduanya."
"Ckckck, jangan serakah. Aku ingatkan sekali lagi, posisimu sekarang tidak memungkinkan kau untuk memilih. Aku akan membantumu tapi jika kau mau membuang salah satu di antara keduanya." Heiho tersenyum senang, puas.
"Jika kau memilih kabur dengan Saleh. Ketika kapal tiba di Manila, aku akan membantumu kabur dengannya tanpa ada yang tau. Akan ada anak buahku di sana yang akan membawa kalian di desa terpencil, kalian bisa memulai hidup baru di sana tanpa ada yang tau. Dan ketika kapal ini sampai ke Jepang, aku sendiri yang akan berbicara dengan Kakek kalau kau jatuh cinta dan pergi dengan orang yang kau cintai. Masalah Robin dan Robert biarkan mereka pada Mang Jajan dan Siti untuk mengurus mereka berdua, kau fokus saja pada Kekasih dan bayimu." Tawar Heiho.
Heiho memang tidak menyukai Saleh, tapi jika Mei sampai kabur dengan pria itu, ia akan untung besar. Bukan saja mengusir Saleh ke daerah pedalaman agar ia tak lagi menyebar kebencian. Mei juga akan ikut tersingkirkan. Mei yang merupakan cucu pertama merupakan kandidat utama penerus keluarga Misaka. Jika Mei memilih Saleh, maka sekali lempar, dua, tiga pulau terlampaui.
Mei masih diam.
"Jika kau memilih menggugurkan bayimu, aku akan menganggap kau tidak pernah melakukan apapun. Aku juga tidak akan melaporkan apapun pada Kakek atau orang tuamu." Bujuk Heiho.
"Aku tidak memilih keduanya, Sersan." Ucap Mei tegas.
"Aku punya pilihan ketiga, aku mohon dengarkan aku dulu." Ucap Mei cepat sebelum Heiho sempat membantah.
"Aku tidak akan menggugurkan bayiku. Bayi ini tidak berdosa sama sekali, lagipula dalam agamaku melarang berbuat demikian. Tapi aku akan menjauhi Saleh."
__ADS_1