
Robin dan Robert sedang sibuk dengan tidak sabaran menunggu kapan kapal itu tiba di Labuan. Mereka sudah dua hari tiga malam berada di atas lautan, kembali melihat daratan akan terasa menyenangkan bagi mereka.
Usai makan siang, keduanya bermain di dek kapal. Berdiri berpegangan pada pagar, menatap sisi kanan kapal. Brunei sudah sejak dua jam lalu terlihat namun masih tidak jelas karena jarak masih jauh, hanya tampak hijau di kejauhan.
Mereka berdua sesekali memperhatikan kapal nelayan yang melintas dan mendapati lebih banyak burung camar yang terbang bebas. Keduanya baru kembali di kabin saat adzan Ashar terdengar.
Robin mengambil wudhu. Sementara Robert walupun tak sholat ia mengambil peralatan tulis, ia juga akan ikut belajar mengaji di musholla, pikirnya menulis dan mengetahui huruf arab itu seru.
"Airnya jangan boros, Robin" Robert mengingatkan.
Dari tadi bukannya berwudhu, Robin malah melamun. Membiarkan air terus mengalir dari keran. Robin nyengir membasuh wajahnya.
Sore itu, bukan Saleh yang menjadi imam sholat ashar. Entah di mana pria itu, tak terlihat keberadaannya di dalam musholla kecil itu.
Setelah selesai sholat, orang-orang dewasa kembali ke kabin, atau ada yang melakukan kegiatan lain. Robin dan Robert, serta empat anak lain beranjak menuju tengah mesjid. Ibu Anna sudah menunggu di sana, Ibu Anna adalah guru belajar mengaji mereka.
"Apa kabar? Ibu Anna menyapa.
"Kabar baik, Ibu." anak-anak menjawab bersamaan.
Robin melihat pakaian yang di kenakan oleh Ibu Anna. Guru mengajinya itu mengenakan pakaian berwarna cerah dengan motif merah, kuning.
"Apakah Ibu Anna orang cina?" tanya Robin sambil berbisik pelan pada Robert. Ia berbisik sepelan mungkin, agar hanya mereka berdua saja yang mendengar.
Robert melotot pada adiknya, "Tidak sopan bertanya hal yang aneh-aneh pada orang yang baru kita kenal, Robin" Robert mengingatkan.
Enam anak-anak itu mulai bergantian menyetor bacaan. Anna sudah jauh berada di juz sebelas, menyetor dua halaman.
Sementara Robert baru sampai di An-nisa, walau baru juz pertama namun Robert cepat sekali belajar. Ia bahkan hanya perlu beberapa jam untuk langsung menghafal satu iqro langsung dengan cara baca, serta hukum-hukum bacaannya.
Hal itu tidak susah bagi Robert, karena ibu anna guru yang ramah. Dengan telaten memperbaiki setoran anak-anak dan sesekali meminta mereka mengulangi hingga benar. Tidak sampai satu jam, semua anak sudah selesai menghadap.
__ADS_1
Anak-anak sedang pamit, mencium tangan Ibu Anna dengan tertib, ketika peluit kapal berbunyi nyaring dan panjang. Itu bukan pertanda makan karena sekarang baru pukul lima sore.
Anak-anak berseru riang, segera berlari ke luar musholla. Pelabuhan Labuan Masih sekitar dua kilometer lagi, tapi sudah jelas di depan mata.
Semakin dekat kapal dengan pelabuhan, Karel Ambo semakin mengurangi kecepatan. Kapten Diego memimpin sendiri proses berlabuh. Sudah sejak lima belas menit lalu, belasan awak kapal bersiap pada posisi masing-masing.
Warna jingga memenuhi langit, tanda hampir tiba malam. Robin dan Robert serta anak-anak yang lain berdiri berpegangan pada pagar dek, asyik menatap sekeliling.
Pelabuhan Labuan besar sekali, dermaganya panjang. Ada tiga kapal besar lain yang sudah lebih dulu merapat di pelabuhan itu, salah satu kapal adalah kapal milik tentara Jepang. Benderanya jelas terlihat, ada beberapa moncong meriam berbaris di atas kapal itu.
Lima belas menit kemudian, kapal merapat secara sempurna di dermaga. Awak melemparkan tali-tali kepada petugas dermaga, lalu petugas mengikat tali ke tonggak-tonggak besar.
Matahari sempurna tenggelam. Lampu-lampu kapal menyela, juga lampu-lampu dermaga. Robert mengajak adiknya untuk bergegas ke kabin. kakak mereka pasti sudah mencari sejak tadi.
Robin mengangguk, suasana hatinya sedang bagus. Kota Labuan jauh lebih hebat di banding yang ia bayangkan. Dan besok, ia akan pergi ke pasar membeli baju baru. Soal itu, ia sudah bosan dengan olok-olokkan Robert karena beberapa hari ini Robin memakai baju kakaknya.
.
.
.
"Oyasuminasai, teman kabinku yang selalu hilang entah pergi ke mana." Lucas menyapa Yusuf riang.
Yang disapa mengangguk, menjawab pendek, "Yoru"
"Sejak kapan kau berada di kabin? biasanya aku tak pernah menemukanmu di dalam sini."
Yusuf tak menjawab, ia hanya mengangkat bahu. Suasana hatinya sedang buruk memikirkan ulah saleh, tak ingin ambil pusing meladeni ucapan salah satu orang Jepang di depannya itu.
"Untukmu, Yusuf." Lucas menyodorkan sebuah amplop coklat.
__ADS_1
"Itu adalah surat-surat perjalanan yang kau butuhkan, juga ada beberapa gulden. Kapten Diego menyuruh bagain keuangan memberikan kau gaji di muka selama sebulan untuk kau membeli keperluan." Jawab Lucas sebelum Yusuf sempat bertanya.
Yusuf mengeluarkan isi amplop. Beberapa dokumen di kenalinya sebagai dokumen yang di perlukan saat kapal melintas di negara lai. Ia juga menarik keluar beberapa lembar uang kertas gulden. Saat itu masih menggunakan mata uang Belanda.
"Dua ratus gulden?" Yusuf menatap Lucas.
"Iya itu gajimu. Apa terlalu kecil?" Tanya Lucas dengan nada bercanda.
Yusuf terkekeh kecil, untuk pertama kalinya ia menunjukan giginya pada Lucas. Orang jepang itu kini malah melongo menatapnya.
"Jangan melongo seperti itu, Lucas. Atau lalat akan hinggap di mulutmu." Yusuf malah semakin tertawa meledek. Kekesalannya pada Saleh sirna sudah ketika melihat jumlah uang yang ia dapat banyak sekali.
Lucas tersadar dari lamunannya, ia melepas topi dari kepalanya. Lantas melemparkan topi itu ke arah Yusuf. Ia masih syok melihat Yusuf tertawa, karena selama ini Yusuf lebih banyak diam. Sepertinya pribumi itu selalu menghindar dari orang dari negara asing.
"Kau besok turun ke pasar labuan berbelanja?" Tanya Lucas sekedar basa-basi.
"Tentu saja, aku sudah dua hari memakai bajumu tuan."
"Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Ah, bagaimana kalau besok aku temani keliling labuan? aku cukup tau kotanya. Siapa tau kau tersesat dan tak bisa pulang ke pelabuhan, tidak lucu jika kau di tinggalkan kapal."
Yusuf menggeleng, menjawab kemudian, "Tidak perlu. Temanku sudah lebih dari lima kali datang ke sini, dia akan menemaniku besok."
Lucas tertawa, "Oh, yang selalu kau datang ke kabinnya itu?"
Yusuf mengangguk.
"Aku penasaran secantik apa perempuan itu, apa___"
"Sepertinya tuan salah sangka, temanku seorang pria tuan. Saleh namanya, tuan mungkin kenal."
"Saleh?" Lucas mencoba mengingat dimana ia pernah mendengar nama itu, "Oh, Saleh. Pelopor orasi yang tak di sukai Sersan Heiho itu."
__ADS_1
Muka Yusuf berubah masam mendengar jawaban dari Lucas.
"Jangan tegang begitu Yusuf, baiklah aku minta maaf." Ucap Lucas kembali bersiul santai. Ia lalu meraih handuk dan peralatan mandi, beranjak ke kamar mandi khusus para awak kapal meninggalkan Yusuf seorang diri di dalam kabin.