Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 29


__ADS_3

Kapal Karel Ambo masih terus melaju membelah ombak. Kecepatan kapal hanya 8-10 knot, bukan kecepatan penuh. Perwira KKM masih melakukan pengawasan terhadap mesin. Di luar, awan gelap menggumpal, laut sedikit berombak, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Jika tidak ada masalah di mesin, kapal bisa berlabuh di Manila nanti sore.


Anak-anak masuk sekolah. Bapak Hatta yang mengajar, pelajaran bahasa Jepang. Bagi Robin dan Robert yang memiliki ibu keturunan Jepang pelajaran bahasa Jepang tidak sulit sama sekali, mereka bahkan sudah hafal bahasa itu luar kepala.


Tapi bagi anak-anak lain yang tidak pernah mendengar, apalagi bicara bahasa itu merasa sangat susah. Untungnya Bapak Hatta mempunyai trik khusus dalam mengajarkan. Zaman itu, seperti Bahasa Belanda dulu yang wajib di ajarkan, Bahasa Jepang juga menjadi wajib setelah Jepang bermukim di Indonesia.


Hujan lebat mulai turun menjelang makan siang. Baru reda kembali saat sudah adzan Ashar. Sisa-sisa air hujan membuat lantai kapal basah. Air masih menetes sedikit di ujung atap, tiang, dan pagar kapal.


Robin dan Robert menghabiskan waktu keduanya hanya di dalam ruang kabin. Mereka punya kegiatan baru yaitu fokus memperhatikan perut kakaknya yang masih rata, berbicara pada perut itu. Keduanya hanya keluar kabin saat Sholat dan makan.


Ibu Anna mengajar mengaji seperti biasa, namun kali ini Ibu Anna mengajari mereka menghafal surah pendek dengan cara bersenandung. Robert mendengarkan antusias, terkesima mendengar suara Ibu Anna yang terdengar merdu.


Robin sibuk memperhatikan guru mengajinya itu, ia selalu suka dengan pakaian yang Ibu Anna kenakan. Sudah pintar, pandai menyanyi pula. Sungguh sempurna Ibu gurunya itu di mata Robin. Ia sering memerhatikan jika dalam banyak sekali kesempatan, Ibu Anna suka sekali melamun hingga perhatiannya kembali pada anak-anak.


Cuaca kembali cerah setelah pelajaran mengaji. Matahari muncul penuh di antara awan. Lantai kapal kering dengan cepat. Anak-anak, bermain saling kejar-kejaran di dek dan lorong-lorong saat dalam perjalanan kembali ke kabin masing-masing.


"Sudah sampai mana setoran mengaji mu? Mei bertanya saat Robert duduk di sampingnya.


"Masuk jus tiga, Kakak."


"Baguslah." Mei mengusap kepala adiknya, "Kakak bisa minta tolong pada kalian berdua, Robin, Robert?"


"Tolong bawakan Lumpia yang ada di atas meja di dapur kepada Bang Saleh. Tadi Bibi masak banyak sekali, daripada tidak habis sebaiknya kita bagikan. Kalian bisa mengantarnya ke kabin milik Abang Saleh?"


Tidak perlu di suruh dua kali, keduanya mengangguk. Menyuruh keduanya keluar sama saja dengan mengizinkan keduanya bermain di luar kabin.

__ADS_1


"Tapi setelah itu jangan kemana-mana. Hanya ke kabin Abang Saleh setelah itu balik lagi kemari. Jangan sampai turun hujan lalu kalian bermain air, nanti bisa demam."


"Yare, Kak." Robin menjawab, laksanakan. Ia berlari ke dapur mengambil lumpia yang sudah di bungkus.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tiba di depan pintu kabin milik Saleh.


Robin mengetuk pintu, mengucapkan salam.


"Sebentar." Suara berat Saleh terdengar dari dalam kabin.


Robin dan Robert menunggu. Kabin Saleh memang bukan sebuah kabin yang besar dan nyaman seperti milik keluarga Mei, tapi kabin miliknya adalah kabin dengan pemandangan terbaik seluruh kapal. Kapten Diego yang memberi lokasi kamar itu langsung kepada Saleh setelah membaca surat resmi dari Gubernur Jenderal De Felipe dan cap Nyonya Misaka.


Kabinnya terletak di lantai dua. Sisi kiri bagian depan kapal dengan jendela-jendela paling besar, bukan berupa kaca bulat kecil seperti dalam kabin lainnya. Dari kamar itu, langsung bisa terlihat seluruh bagian kiri dan depan kapal, seperti berada di dek terbuka. Bedanya, itu di dalam kabin sehingga tidak perlu terkena angin kencang.


"Robin, Robert?" Saleh menatap dua bocah laki-laki itu sambil tersenyum, "Ada masalah apa sampai kalian repot-repot datang ke kabin ini? Apa terjadi sesuatu ada Kakak Mei? Atau Sersan Heiho membuat ulah?"


"Syukurlah, kalau begitu mari masuk."


Robin langsung melangkah masuk.Robert menarik nafas menatap punggung Robin. Mereka hanya di suruh mengantar lumpia, kenapa adiknya malah bersantai seolah sedang mengunjungi teman untuk bermain. Lagi pula sikap Saleh aneh, pria itu bertingkah seolah-olah akrab dengan kakaknya Mei.


"Kabin kakak berantakan sekali, tolong maklumlah." Saleh tersenyum.


Robin kira, berantakan itu maksudnya pakaian berserakan. Tapi bukan itu maksud Saleh. Berserakan yang di maksud adalah di mana-mana ada buku.


Di atas meja, di atas kursi, di atas tempat tidur, bahkan di lemari ada buku. Banyak sekali berserakan buku di dalam kabin itu.

__ADS_1


Robert yang awalnya ragu, akhirnya ikut masuk. Ia tidak tertarik melihat jendela besar yang punya pemandangan yang katanya terbaik itu. Ia tertarik melihat banyaknya buku.


"Plastik apa yang kau bawa itu Robert?"


"Oh, ini." Robert akhirnya kembali ingat dengan tujuan mereka datang ke kabin itu, "Lumpia buatan Bibi Siti, Kakak Mei menyuruh membawanya ke sini."


"Benarkah?" Saleh terlihat senang. Ia mengambil piring, membuka bungkusan kecil berisi cabai. Membuat tiga gelas teh untuk ketiganya. Jadilah Kakak adik itu duduk bermain sepanjang sore di kabin milik Saleh.


Saleh tidak sibuk. Seperti biasa, ia sedang membaca buku. Memberi tanda agar tidak lupa bacaannya sampai pada halaman berapa. Robert meminjam salah satu buku, duduk di kursi rotan sudah asyik membaca. Sedangkan Robin , asyik menatap lautan sambil duduk di kursi panjang dekat jendela.


"Kita besok jadi pergi ke Manila, kan, Kakak Saleh?" Robin tiba-tiba bertanya.


"Kau tidak perlu bertanya berulang-ulang kali, Robin." Robert menoleh, menjawab pertanyaan adiknya.


Saleh tertawa, menatap Robin dan Robert yang sekarang sedang melotot satu sama lain, "Insyaallah, Robin. Aku juga mengajak dua pria dari kota Coron serta guru mengaji kalian dan suaminya. Jika cuacanya cerah kita akan pergi beramai-ramai.


"Kenapa Kakak mengajak para Pria berjas hitam itu? Memangnya kakak kenal mereka."


"Iya, mereka teman-teman Kakak."


Wajah Robin berubah serius, "Bagaimana kakak sampai bisa berteman dengan mereka? Bukannya mereka berbeda negara dengan kita? Dan dari tampilan mereka tidak terlihat cocok menjadi teman Kakak."


Saleh tertawa, "Jadi maksudmu, Karena muka Kakak tidak sangar, serta tidak mempunyai tato jadi tidak cocok dengan mereka?"


Robin mengangguk tanpa dosa.

__ADS_1


Saleh lagi-lagi tertawa, "Pertemanan orang dewasa tidak terjadi seperti itu, Robin. Jika kau sudah besar nanti pasti faham sendiri. Lalu mereka itu kebanyakan orang Indonesia yang kebetulan sedang menetap di Kota Coron, Robin. Karena itu, Kakak mengenal mereka.


__ADS_2