
Masa-masa itu, kota Labuan memang dipenuhi oleh pejuang kemerdekaan. Jika di tempat lain perlawanan mulai berkurang, di kota ini hampir tiap bulan gerilyawan menyerbu tentara Jepang.
Dan pagi ini, di saat yang tidak terduga penjajah. Dua belas pejuang kemerdekaan itu tengah berdiri dengan gagah berani menyerbu pasar Labuan, salah satu dari mereka baru saja melemparkan setumpuk granat yang entah dari mana mereka dapatkan.
Seorang tentara Jepang yang selamat dari ledakan, dengan seragam berdebu, wajah berdarah, merangkak berusaha menekan sirene. Persis ketika kenopnya ditekan, suara sirene darurat meraung memenuhi langit-langit pasar kota Labuan, suaranya memekakkan telinga.
Robin dan Robert yang terduduk di depan toko karena mendengar suara dentuman, langsung gentar ketika mendengar suara sirene. Wajah mereka pucat, tak pernah keduanya mengalami hal seperti ini karena selalu di jaga ketat oleh kedua orang tuanya.
Robert belum sempat berfikir harus melakukan apa. Suara rentetan tembakan membuat kepanikan besar melanda seluruh pasar. Pengunjung berteriak-teriak, berlarian menjauhi gerbang pasar.
Orang-orang saling dorong satu sama lain, saling injak hingga ada yang terjungkal ke parit.
"ROBERT!!!" Robin berteriak panik memanggil kakaknya yang hanya berjarak sekitar dua meter darinya.
Namun Robert sudah lebih dulu terdorong ke depan, terseret oleh banyaknya pengunjung lain.
Sementara Mang jajan masih berusaha bertahan di tempat berusaha mencari di mana para tuannya.
"MANG JAJAN" Robin memanggil dengan suara parau. Ia mulai panik, takut sekali. Ia membawa kantong besar, jadi tidak bisa bergerak capat di antara banyaknya manusia. Ia berfikir mungkin ia telah tertinggal jauh.
Robert berteriak belasan meter dari Robin. Tubuh bocah yang hampir remaja itu terjepit di antara puluhan orang dewasa.
Mang jajan akhirnya dapat melihat ke dua tuannya, namun kini ia harus memilih antara harus ke suara Robert atau suara Robin.
Suara rentetan senjata semakin banyak terdengar. Situasi makin runyam.
"BUUUM!!"
Satu ledakan besar terdengar lagi. Para pejuang kemerdekaan itu telah melepaskan granat berikutnya
__ADS_1
Robin sudah terjatuh di lorong pasar, hanya untuk sekedar berdiri saja ia sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya terbanting, terguling sambil tetap memeluk plastik. Sementara di belakangnya puluhan kaki siap menginjak tubuh kecilnya itu.
Mang Jajan berteriak panik. Ia tidak bisa melihat di mana tuannya yang paling muda, sudut matanya hanya bisa melihat Robert yang berada terpisah lima meter jauh darinya.
Mang Jajan segera merengsek mendekati Robert, setidaknya ia harus membawa tuan Robert ke tempat yang aman. Kondisi Robert terlihat mengenaskan, mungkin karena lama berpegangan pada tiang listrik yang di padati oleh banyak orang.
Sementara Robin masih meringkuk di tanah. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia sama sekali tidak bisa berdiri. Dan orang-orang masih terus mendorongnya. Ia menutup mata, pasrah. Hanya soal waktu saja sampai kaki-kaki yang berlari panik itu menginjak tubuh kecilnya.
.
.
.
Mei dari atas kapal harap-harap cemas. Wajahnya pucat, matanya merah setelah tadi banyak menangis. Ia sangat menyesal, kenapa tadi bukan dia saja yang pergi bersama Robin dan Robert.
Dari atas dek kapal. Ia bisa melihat jelas gumpalan asap dari kejauhan, sisa-sisa kejadian tadi pagi. Pos tentara Jepang di pasar Labuan terbakar, hancur lebur. Beberapa toko juga ikut terbakar.
Pertempuran antar pejuang kemerdekaan dan tentara Jepang berlangsung sengit selama berjam-jam, hingga akhirnya para tentara Jepang berhasil memukul balik para pemberontak.
"Jangan berhenti berdoa Lady. Semoga adik anda selamat." Lucas berusaha menghibur.
Mei hanya dapat mengangguk pelan.
Tadi pagi ketika mendengar kabar tentang terjadinya pemberontakan di pasar. Dengan panik dan tergesa-gesa, Mei langsung pergi ke tempat kejadian. Namun kenyataan pahit harus ia dapat ketika hanya mendapati Mang Jajan dan Robert.
Robert walau tidak menangis, wajahnya pias, tubuh kotor, di bawah ke salah satu rumah penduduk.
Mei bergegas ke pasar mencari Robin. Ia tidak sendiri, melainkan di temani tiga orang tentara Jepang anak buah dari kakaknya Sersan Heiho. Namun di cari kemampuan, Robin tidak dapat di temukan.
__ADS_1
Orang-orang masih berlarian menyelamatkan diri, di toko pakaian yang katanya tempat terakhir Robin berbelanja juga tidak ada dia di sana.
Setelah mencari hampir satu jam, Mei memutuskan membawa Robert kembali ke kapal. Ia berbicara dengan Kapten Diego meminta tolong agar empat orang awak kapalnya kembali ke pasar untuk mencari Robin.
Seluruh kota Labuan jadi tegang sejak serangan itu. Puluhan mobil tentara Jepang melakukan patroli, orang-orang di periksa. Pemeriksaan di semua bagian di perketat. Trem di hentikan beroperasi. Sepeda, mobil, kereta kuda dilarang melintas.
Saat Mei kembali lagi ke pasar bersama empat awak kapal. Awalnya ia sempat di tolak masuk oleh para tentara Jepang, syukur lah ke tiga tentara Jepang anak buah Sersan Heiho mengikuti mereka dari belakang. Ketiga orang itu menjelaskan kepada rekan sesama Jepang, hingga akhirnya mereka di izinkan masuk.
Beberapa tubuh tergeletak di jalanan. Rasa cemas langsung melanda Mei, bagaimana kalau salah satu di antara tubuh itu adalah Robin?
Dua jam memeriksa, di bantu oleh empat awak dan tentara Jepang. Robin tetap tidak bisa di temukan di antara korban jiwa.
Mei terpaksa kembali ke kapal saat hari hampir malam. Bi Siti yang telah menunggu dengan cemas, langsung menangis histeris melihat Nonanya kembali seorang diri tanpa tuannya yang paling muda.
"Maafkan saya nona karena tidak dapat menjaga tuan Robin." Mang Jajan menundukkan kepala menyesal.
"Tidak apa-apa, Mang. Yang terjadi bukan salahmu, tidak ada yang tau kalau akan terjadi pemberontakan di pasar pagi tadi." Mei berbisik lirih. Ia sudah pasrah
Sudah hampir delapan jam dan masih belum ada kabar tentang keberadaan Robin di mana. Sebentar lagi adzan Maghrib, langit mulai gelap. Jika Robin selamat, apa yang bisa di lakukan adik manjanya itu sekarang?
Tentara Jepang di Labuan telah mengumumkan jam malam, orang-orang di larang berkeliaran.
"Anda tidak ingin menunggu di kabin, Lady? Di luar sini udaranya mulai dingin."
Mei menggeleng. Ia akan tetap berada di dek kapal, menunggu.
Saat itulah, ketika Mi hampir kehilangan harapan. Dari gerbang pelabuhan yang sunyi, terlihat seseorang berjalan sambil menggendong anak kecil di punggungnya.
Para awak kapal yang melihat itu, berseru-seru, menunjuk, membuat para penumpang melihat ke bawah.
__ADS_1
Di sana, dengan jalan yang tertatih-tatih. Saleh, pemuda itu datang dengan membopong Robin di pundaknya.