Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 15


__ADS_3

Kejadian di pasar Labuan itulah yang akan selalu Robin ingat saat kapal berlabuh ulang di Labuan.


Ketika tubuh kecilnya meringkuk di lorong pasar, ketika matanya terpejam pasrah, ketika kaki-kaki bersiap menginjak tubuh kecilnya.


Seseorang tiba-tiba lompat menjatuhkan diri, menutup di atas badannya, memberikan perlindungan. Orang itu adalah Saleh, pria yang sudah beberapa hari tidak Robin lihat di musholla.


Saleh juga rupanya sedang membeli perlengkapan di pasar Labuan, ia bersama Yusuf tentu saja. Namun saat letusan pertempuran di gerbang pasar terjadi, ia terpisah dengan Yusuf.


Saleh sedang bersiap masuk ke salah satu toko ketika kepanikan melanda seluruh pasar. Ia siap ikut berlari menjauhi asal suara tembakan, tak lagi memedulikan Yusuf yang entah sudah di mana. Yang pasti kawannya itu pasti sudah lebih dulu lari menyelamatkan diri.


Saat hendak berlari, dari sudut matanya melihat Robin. Ia kenal betul adik kecil dari wanita yang kini ia cintai itu. Bocah laki-laki itu sendirian, berteriak memanggil-manggil nama Abang Jajan dengan wajah paniknya sambil menangis.


Ketika melihat Robin terguling jatuh di jalan, tanpa berpikir dua kali. Saleh bagai seekor induk singa, langsung lompat memeluk anak laki-laki kecil itu dengan erat. Membiarkan tubuhnya jadi tameng sehingga kaki-kaki orang yang ramai menghantam tubuhnya.


Tidak hanya sekali. Berkali-kali punggungnya diinjak, betisnya di tendang, bahkan lehernya terkena sepatu. Saleh menggigit bibir untuk menahan sakit.


Lima belas menit kemudian, pasar mulai perlahan sunyi. Dengan kaki gemetar, Saleh berusaha berdiri.


Sementara Robin yang masih meringkuk memberanikan diri membuka mata. Wajah pertama yang ia lihat adalah pria yang beberapa hari ini tidak ia lihat di musholla. Pria yang tidak di sukai kakak sepupunya, Sersan Heiho.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Saleh.


Robin mengangguk, menyeka air mata di pipinya. Kantong plastik berisi baju baru masih ada di pelukannya.


Walau di tempat mereka berdiri sudah mulai sunyi namun suara tembakan dan ledakan masih terdengar. Saleh tidak dapat berfikir panjang. Sambil menahan rasa sakit, ia menarik lengan Robin. Mereka harus bergegas keluar dari pasar.


Tapi mereka sepertinya tidak bisa pergi jauh dari pasar. Kondisi Saleh buruk. Betisnya terluka, mungkin terkena benda tajam saat kerusuhan.


Mereka terpaksa singgah di sebuah rumah yang pemiliknya takut-takut menawarkan bantuan, tapi masih memberikan perban.


Setelah Saleh berusaha mengobati kakinya, mereka tidak bisa segera kembali ke kapal karena semua sudut kota di jaga oleh Tentara Jepang. Saleh bisa saja di tuduh sebagai salah satu pemberontak tadi, para tentara Jepang itu pasti mengenalnya.

__ADS_1


Hingga pukul tiga sore, saat kondisi sudah sunyi senyap. Saleh memutuskan berjalan kaki lima kilometer kembali ke kapal, karena mereka tidak ada kendaraan yang beroperasi. Trem masih di hentikan. kereta kuda, mobil, sepeda dilarang melintas.


Robin dengan tubuh lemas berusaha berjalan di sebelah Saleh. Tapi tak lama, bocah kecil itu kelelahan, kemudian jatuh terduduk di pinggir jalan.


Saleh menelan ludah, ia tidak punya pilihan lain selain membopong tubuh Robin. Mereka harus segera kembali, Mei pasti sudah sangat menghawatirkan adiknya. Dan sebentar lagi sudah malam, tentara Jepang memberlakukan jam malam.


Dengan tenaga yang tersisa sedikit ketika matahari hampir tenggelam di kaki langit, akhirnya mereka berdua tiba di gerbang pelabuhan.


"ROBIN!" Mei berseru memanggil adiknya sambil berlari.


"Kakak!" Robin membalas panggilan kakaknya dengan suara pelan, serak.


Persis sampai di pelataran dermaga, saat orang-orang mengerumuni mereka berdua. Saleh akhirnya jatuh, tenaganya sudah habis, ia lelah sekali.


Beberapa orang membantu Robin agar tidak ikut jatuh. Mei memeluk tubuh adiknya, mencium pipi Robin bertubi-tubi, tak memperdulikan kalau pipi Robin kotor, berdebu.


"Terima kasih" Mei berucap pelan dengan hanya menggerakkan kedua bibirnya, ketika matanya menatap mata Saleh.


.


.


.


Malamnya, beberapa tentara Jepang sempat naik ke kapal untuk melakukan pemeriksaan. Mereka memeriksa banyak tempat yang di curigai sebagai tempat persembunyian para pemberontak.


Ada enam tentara Jepang dari pos Labuan yang naik. Setelah satu jam mencari di seluruh kapal dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Enam tentara Jepang itu turun usai bersalaman dengan Kapten Diego.


Entah di mana keberadaan Sersan Heiho, sejak kapal bersandar di pelabuhan Labuan dirinya memang tidak terlihat. Tapi syukurlah, dengan tidak adanya Sersan itu, setidaknya Saleh malam ini tidak di tuduh sebagai pemberontak.


Melihat dari ketidaksukaannya, Sersan Heiho bisa saja menuduh Saleh sebagai pelaku pengeboman yang terjadi di pasar pagi tadi.

__ADS_1


Kondisi Robin sudah baik-baik saja. Ia hanya lemas karena tidak makan dan minum seharian.


Kondisinya berangsur pulih ketika di beri minuman. Bibinya mengambil air hangat untuk mengelap wajah, rambut, dan seluruh tubuhnya yang kotor. Kemudian mengganti pakaiannya.


Sementara kondisi Saleh nampak serius. Dokter kapal segera datang merawatnya. Ada enam jahitan pada luka di betisnya, pelipisnya lebam, punggungnya biru-biru


"Kau butuh sesuatu kawan?" Yusuf bertanya pelan, ia sedang menemani kawannya itu di ruang perawatan bersama Mei.


"Katakan apa saja yang Abang inginkan, akan kupenuhi." Suara Mei terdengar serak.


Saleh yang tengah bersandar di tempat tidur menggeleng, "Tidak ada. Tapi mungkin, jika kamu mau menerima ajakan menikah denganku jumat ini. Akan aku terima dengan senang hati." Ucap Saleh dengan nada menggoda.


Mei terkekeh, sementara Yusuf memutar matanya jengah.


"Apa Robin baik-baik saja?" Saleh bertanya serius.


Wajah Mei berubah menjadi sedih. Ia mengangguk, "Robin sudah tidur, dia baik-baik saja setelah mengenakan baju barunya. Dan semua itu berkat Abang, terimakasih."


Saleh terlihat senang.


"Sebaiknya kau tidak berlama-lama di sini, Nona. Jangan sampai Sersan Heiho tiba-tiba muncul dan membuat keributan jika melihatmu di sini menangisi pria yang paling ia benci." Yusuf mengusir sekaligus mengingatkan.


Mei mengangguk. Sekali lagi mengucapkan terima kasih, mencium kening Saleh lama tanpa memedulikan Yusuf yang masih berada di antara keduanya, sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan ruangan.


"Kau memang seorang pemuda yang berbahaya, kawan." Yusuf geleng-geleng kepala, "Bukan main." Yusuf seperti meledek.


"Apa?" Saleh menoleh menatap Yusuf seolah-olah tak mengerti dengan ledekan sahabatnya itu.


"Aku baru tau kamu memang sangat berbahaya sampai membuat sebongkah berlian tanpa malu mencium kau di depan temannya. Apa Lady Mai tak memperhatikan wajah hitam, dekil, serta berdebu milikmu? Aku jamin kau bahkan belum mandi seharian ini." Yusuf tertawa, sengaja menggoda kawannya.


Saleh hendak meraih bantal, ingin melemparkannya pada Yusuf. Tapi ia segera meringis, mengaduh pelan, bahunya terasa sakit.

__ADS_1


"Haha, kau istirahat yang nyenyak, jangan banyak bergerak. Aku jamin kau akan tertidur nyenyak setelah tadi mendapat sebuah ciuman."


__ADS_2