
Pukul delapan malam, kapal Karel Ambo hanya melaju dengan kecepatan 6 knot, separuh kecepatan maksimal. Mendaki ombak setinggi dua meter. Kalau saja kapal itu hanya sebesar kapal nelayan, pasti sudah sejak tadi terbalik. Tapi dengan panjang 136 meter dan lebar 16 meter, laju kapal tetap stabil.
Kapten Diego tidak bisa meninggalkan ruang kemudi. Ia menerima Saleh di sana sebagai tamu. Meminta salah satu awak kapal membuatkan kopi hangat, mereka mengobrol di kursi tinggi sambil menatap hamparan laut.
Sesekali mereka tertawa, seperti dua sahabat karib yang sedang menghabiskan waktu dengan mengobrol, padahal umur keduanya jauh berbeda. Ada banyak yang mereka bicarakan, tentang cuaca buruk, tentang perjalanan menonton piala dunia, dan yang terakhir membicarakan kenapa Saleh datang menemui Kapten Diego.
Namun pembicaraan itu justru berakhir tanpa kesimpulan. Akhirnya, setelah satu jam, Saleh izin pamit pulang. Kapten Diego mengantarnya sampai pintu.
Jam menunjukkan pukul sembilan tiga puluh, lorong kapal lengang. Tidak ada penumpang yang terlihat di luar atau awak yang melintas. Saleh berjalan pelan, matanya awas menatap ke depan. Beberapa bagian kapal gelap karena lampu di matikan setelah lewat pukul sembilan.
Tiba di anak tangga persis di belokan, saat melangkah turun, Saleh terperanjat. Hampir saja menabrak seseorang yang juga baru muncul dari belokan arah berlawanan, hendak melangkah naik.
"Jesus! hampir saja kita bertabrakan, Tuan Saleh."
"Maaf, Lucas. Aku terlalu fokus menatap sekitar sehingga tidak melihat ke depan." Saleh mengusap wajahnya. Ia kaget, wajahnya pias. Kalau saja tadi dia tidak segera berpegangan. Mungkin dia dan Lucas sudah berguling di lantai.
"Tidak, Tua . Aku juga terlalu cepat naik. Kupikir, semalam ini, saat ombak sedang tinggi-tingginya, tidak akan ada orang yang berminat berkeliaran di kapal." Lucas si awak kepala.
"Memangnya kau hendak kemana, Lucas?"
"Aku hendak mencari makanan, Tuan. Pergi ke kantin."
Saleh berfikir sejenak. Dia tidak ada kegiatan lain selain tidur. Mei juga mungkin sudah tidur di kabin nya. Baiklah, Saleh memutuskan ikut Lucas ke kantin. Mungkin saja ia bisa memperoleh semangkuk sup hangat yang lezat.
Mereka berjalan bersisian di lorong. Saleh kembali menaiki tangga.
"Tidakkah menurut Tuan Saleh malam-malam begini, lorong-lorong kapal terlihat sedikit menakutkan." Lucas bertanya memecah kesunyian.
"Awak kapal sepertimu bukannya sudah terbiasa dengan kondisi begini." Saleh tertawa, "Dan itu tergantung. Kau takut dengan apa dulu, Lucas."
"Maksud, Tuan?"
"Kalau kau hanya takut pada Tuhan, maka tidak ada yang bisa membuatmu gentar. Tapi kalau kau takut dengan hantu atau manusia semisalnya. Maka, kau benar. Lorong-lorong ini terlihat menakutkan."
__ADS_1
"Ada banyak bagian kapa yang jadi gelap karena lampu-lampu dimatikan. Kita tidak pernah tahu siapa yang bisa jadi bersembunyi di sana. Siapa tahu ada penjahat yang siap menikam atau hantu yang siap menerkam. Atau ada sesuatu yang terus mengikuti."
Langkah Lucas terhenti sejenak. Saleh juga ikut berhenti.
"Tuan tidak bergurau bukan?"
"Kalau soal penjahat, aku bergurau Lucas. Tapi kalau soal sesuatu yang terus mengikuti, aku tidak bergurau." Saleh tersenyum, suaranya menjadi lebih pelan, berbisik, "Nah, coba kau ikut denganku sebentar."
"Kemana?" Lucas bertanya waspada, wajahnya menjadi tegang.
"Jangan berisik dan tetap bersembunyi." Saleh mengingatkan.
Lucas mengangguk, menutup mulutnya.
Lima menit menunggu, tidak ada apa-apa. Lucas menoleh ke Saleh yang berdiri di sebelahnya. Ia hendak bertanya, ada apa sebenarnya. Tapi mulutnya langsung tersumpal. Dari ujung lorong terdengar ketukan pelan berirama, seperti suara sepatu berjalan di atas lantai kapal.
Itu apa? Lucas menatap Saleh.
Suara ketukan itu semakin dekat. Untuk kemudian berhenti sebentar. Kemudian ketukan itu muncul lagi. Kali ini ketukan itu berputar-putar di tempat, lantas menjauh. Hilang.
"Nah, kau sudah dengar, bukan?" Saleh keluar dari sudut lorong. Ia kembali melangkah ke bagian terang, "Sekarang tergantung, kalau kau takut dengan hantu atau manusia, maka jelas sekali lorong kapal ini menyeramkan, bukan?"
Lucas bergegas mengikuti langkah Saleh, "Itu tadi apa?"
"Nanti kau juga tau sendiri. Sekarang aku merasa lapar. Ayo kita ke kantin sebelum tidak ada orang di sana." Saleh balik mengajak, meneruskan langkah. Tidak berniat membahas hal tadi secara detail.
Lucas menghela nafas, ikut melangkah cepat.
"Goedenach, Chef Ruben." Saleh menyapa lega.
Hampir jam sepuluh malam, Ia pikir sudah tidak ada orang lagi di kantin. Tapi syukurlah, ad orang yang paling ia harapkan ada di sana.
"Goedenach, Saleh." Chef Ruben yang bertubuh besar itu tertawa senang, "Dari tadi aku menebak , apakah kau akan datang ke kantin selarut ini, ternyata benar."
__ADS_1
"Aku kemari hanya menerima ajakan dari Lucas, tapi sekarang menjadi lapar beneran."
Keduanya berpura-pura tidak saling mengenal, ingat.
"Malam, Chef" Lucas menyapa dari belakang Saleh.
"Malam. Bagaimana kau bisa meninggalkan pos piketmu, Lucas? Ombak tinggi, bukankah semua awak di minta berjaga?"
Lucas mengangguk, "Benar, aku meminta izin sebentar untuk malam malam. Karena sibuk tadi sampai terlewatkan makan malam."
"Baiklah. Silahkan duduk kalian berdua. Aku sudah menyiapkan menu istimewa."
Tidak lama, menunggu lima menit, kepala koki itu kembali membawa nampan dengan dua mangkuk di atasnya. Ia sudah menyiapkan masakan itu dari sore tadi, hanya saja ia panaskan. Koki berpengalaman sepertinya selalu tahu nasehat lama: masakan lezat selalu membuat orang kembali
Saleh tertawa senang menatap mangkuk di depannya. Mangkuk itu berisi sup iga. Kepul uap panas dan potongan iga-nya begitu menggoda. Saleh meraih sendok, mencicipi kuahnya. Bukan main. Lezat sekali.
Lucas sebenarnya masih memikirkan suara ketukan di lorong tadi, namun melihat Saleh lahap menyendok sup iga. Ia ikut meraih sendok. Padahal tadi dia yang ingin makan. Dan hanya perlu satu kali coba memasukan sup iga, misteri suara ketukan tadi langsung Lucas lupakan.
"Wah, ini enak sekali, Chef." Lucas memuji.
Chef Ruben menyeringai lebar, selalu senang di puji.
"Bagaimana kabar awak kapal baru itu?" Chef Ruben memulai percakapan l, sambil menemani dua tamunya makan, "Malang sekali pemuda itu. Terjebak di ruangan kecil itu. Jika tidak ada yang cepat menemukannya, boleh jadi besok-besok bau busuk menguar Dafi sana."
Seperti biasa. Kepala koki itu selalu tajam mulutnya. Saat orang tengah asyik makan, ia dengan santai malah bilang bau busuk.
Saleh menghentikan suapan ke dalam mulutnya, "Aku yakin pasti jika pelakunya masih ada di kapal ini."
Demi mendengar ucapan Saleh, suasa ruangan itu tiba-tiba menjadi tegang. Tidak ada yang berani membahas kenapa Yusuf di temukan dalam kondisi terikat di ruangan kecil itu."
"Eem, terlepas sial itu, yang penting Yusuf sudah di temukan." Lucas angkat bicara, mencoba mengalihkan pembicaraan, "Aku sempat mengajaknya bicara tadi."
"Kapan?" Saleh menoleh cepat. Ia kira belum bisa menemui Yusuf karena kawannya itu masih perlu banyak istirahat.
__ADS_1
"Aku datang tadi saat dia bangun. Aku tidak bisa bicara lama-lama karena perawat memintaku segera keluar. Mungkin baru besok kita bisa leluasa membesuknya."
Saleh senang mendengar hal itu. Kembali melanjutkan makan sup iga yang tadi sempat tertunda.