
Malam kembali datang membungkus lautan. Cuaca buruk,langit mendung, serta angin kencang.
Kapten Diego berjaga penuh di ruang kemudi. Walau ombak semakin tinggi, tapi belum ada yang perlu di khawatirkan. Radio melaporkan situasi masih aman. Ini hanya tabiat samudra Pasifik. Mereka belum lagi berlayar di teluk atau laut dangkal sekarang.
Mengurangi kecepatan kapal hingga separuhnya, agar penumpang tidak terlalu merasa terhempas. Tapi tetap saja banyak penumpang yang mabuk lauk.
Malam itu rombongan keluarga Mei makan di kabin. Mei mengalami mual dan muntah parah sehingga tidak bisa kemana-mana. Saleh siap sedia menemani istrinya.
Setelah menghabiskan masakan Bibi Siti sambil asyik menyantap sisa pempek Palembang yang dibawah dari kabin Saleh. Dua bocah kecil itu sejak tadi memperhatikan Saleh dan Mei, kakaknya.
Tadi sore, jika bukan Saleh yang mengajak, Kakak mereka tidak akan memberikan izin bermain di kabin milik Saleh. Bukan soal nanti menganggu. Kakak mereka hanya khawatir dua bocah kecil itu mabuk laut sama seperti dirinya.
Ombak tinggi, goncangan pada kapal sangat terasa sekali. Kapal seperti sedang terombang-ambing. Tapi Mei tidak mempunyai pilihan selain mengizinkan dengan syarat Robin dan Robert sudah kembali sebelum pukul lima sore.
Di kabin Saleh, Robin mengembalikan buku yang sudah selesai ia baca. Saleh memberikan dia buku lain, buku yang berkisah tentang sahabat. Mata Robin membulat melihat sampulnya, sepertinya seru.
Robert duduk di jendela besar, menikmati pemandangan sambil menghabiskan isi mangkuk yang ia pegang. Pempek Palembangnya banyak sekali. Meski sudah mereka makan, tetap masih banyak sisanya. Karena itu mereka membawa pulang ke kabin.
Saleh mengikuti mereka ke kabin. Mereka mandi dengan cepat. Bersama Saleh sholat Maghrib di Musholla, juga keluar sholat Isya. Kemudian kembali ke kabin untuk makan malam bersama.
Dan di sinilah keduanya, tengah menatap Saleh dan Mei yang nampak aneh. Robin yang biasanya terlalu sulit faham dengan hal-hal tentang orang dewasa, juga ikut merasa aneh, kenapa Saleh dan Mei dekat sekali? Kedekatan yang tidak wajar, seperti sepasang kekasih.
Sadar sedang di perhatikan. Mei belik menatap ke dua adiknya, "Ada apa?"
"Aku sudah pernah bertanya ada Kakak Saleh tentang hubungan kalian, tadi dia tidak mau menjawab. Katanya lebih baik tanyakan langsung padamu. Kebetulan sekali kalian sedang bersama. Jadi siapa yang akan menjelaskan terlebih dahulu?" Mode Robert dewasa muncul.
Saleh hampir tertawa mendengar ucapan panjang lebar dari Robert barusan.
Mei menatap Saleh terlebih dahulu, menarik nafas dalam, kembali menatap ke dua adiknya. Bingung harus memulai bicara dari mana.
"Apa aku saja yang mengatakan kepada mereka?" Saleh mengengam tangan Mei.
__ADS_1
Hal itu tak luput dari sudut pandang ke dua bocah itu. Robin bahkan sampai mengerjabkan matanya berulang kali demi memastikan apa penglihatannya baik dan benar.
"Pertama-tama, Kakak dan Abang Saleh telah menikah..."
"Hah, sejak kapan?" Robin berseru histeris.
"Dengarkan dulu sampai selesai, Robin. Tidak baik menyela ucapan orang yang lebih tua." Mei memperingati.
"Dua hari sejak kapal meninggalkan pelabuhan Batavia, saat itu kami telah menikah. Eyang Ran dan Eyang Putri di kabin sebelah sebagai saksi. Anak dalam kandungan Kakak sekarang adalah anak dari Abang Saleh. Jadi, sekarang Abang Saleh adalah Kakak ipar kalian."
"Tunggu dulu. Eyang Ran dan Eyang Putri? Jadi Kakak sudah lama menikah dan sudah lebih dulu mengenal Eyang Ran dan Eyang Putri?"
Mei mengangguk lemah, "Awalnya, dua pasangan sepuh itu kabinnya di tengah antara Musholla dan Kantin. Tapi, karena Kak Heiho mengetahui mereka membantu Kakak menikah dengan Saleh. Entah bagaimana bisa, mereka kemudian di pindahkan ke kabin sebelah."
"Dan kenapa kakak tidak memberi tahu sejak awal karena kalian juga tahu bagaimana Sersan Heiho tidak begitu menyukai Abang Saleh bukan? Lagi pula, Kakak yakin sekali Robin tidak bisa menjaga rahasia."
"Hah, kanapa denganku?" Robin tidak terima.
"Baiklah kalau soal itu aku faham." Robert mengangguk setuju.
Jadilah ke dua kakak-adik itu bertengkar, saling meledek. Lupa, kalau sedang mengintrogasi Kakak perempuan mereka. Baru berhenti ketika Mei kembali bertanya, "Kalian tidak masalah bukan jika Kakak menikah dengan Abang Saleh."
"Tidak masalah sama sekali. Abang Saleh tampan, pintar dan yang paling terpenting di kabinnya ada jendela besar luas tidak seperti jendela bundar di kamar kita." Jawab Robin polos.
Ruang itu penuh dengan tawa.
"Aku hanya sedikit marah karena Kakak tidak jujur dari awal. Tapi sekarang tidak masalah. Syukurlah kalau Kakak tidak hamil di luar nikah. Dan untungnya lagi Kakak Heiho tidak lagi ada di sini." Giliran Robert yang menjawab.
"Soal Kak Heiho. Dimana Kakakku?" Sekarang Mei bertanya pada Saleh.
Yang ditanya hanya mengangkat bahu, "Kenapa kau bertanya padaku, Sayang? Kau tau sendiri kalau Sersan memilih menetap di Manila bukan?"
__ADS_1
Mei tak menjawab, menatap Saleh curiga. Keduanya sibuk berbincang.
Mengusir rasa bosan. Robin mengeluarkan batu bara dari tasnya. Robert juga ikut mengeluarkan miliknya, keduanya saling membandingkan. Yang lebih besar punyanya siapa.
"Itu apa?" Mei menoleh, sekarang ia tengah bersandar pada sofa.
"Batu bara, Kak." Robin menjawab pendek.
Dahi Kakaknya berkerut, "Batu bara? Dapat dari mana?"
"Pelabuhan, Kak."
"Pelabuhan mana?" Mei tidak lagi bersandar, sudah duduk tegap sambil menatap adiknya tajam.
"Pelabuhan San Fernando, Kak. Dari mana lagi?" Robin menjawab polos, sama sekali tidak merasa ada ancaman dari intonasi suara kakaknya yang sudah berubah tegas.
"Robin, Robert! Bukannya Kakak sudah melarang kalian turun dari kapal? Siapa yang mengizinkan kalian, hah? Dari mana kalian mengambil batu bara itu? Meski lemas karena tadi habis muntah, tetap tidak mengurangi semangat marahnya Mei.
"Kami di ajak Bapak Andipati turun, Kak. Pelajaran pengetahuan alam. Petugas pelabuhan juga sudah mengizinkan kami mengambil batu ini. Kami tidak menyelinap atau mencuri, Kak." Robert yang menjelaskan secara lengkap.
Mei menghembuskan nafas kesal, kenapa tidak ada yang memberitahu soal ini padanya. Menoleh pada Saleh yang juga duduk di sampingnya.
"Aku tidak tahu apa-apa." Saleh mengangkat bahu, "Tapi kalau anak-anak di ajak turun gurunya itu bagus sekali. Pasti seru pelajaran pengetahuan alamnya, bukan begitu, Robin?"
"Iya, Kak. Seru sekali." Robin menjawab riang.
Mei melotot kepada Saleh, " Bagaimana kalau mereka kenapa-kenapa saat turun? Tidak ada yang menjaga mereka? Bagaimana kalau mereka di tinggal kapal? Membayangkannya saja aku tidak sanggup."
"Kan mereka pergi dengan gurunya, Bapak Andipati. Itu lebih dari aman, Mei." Saleh tersenyum, "Kau sepertinya lelah dan sedikit sensitif karena sedang hamil. Mau aku pijat punggungmu, biar lebih rileks?"
Mei mendengus kesal. Tidak mau. Ia sedang membahas tentang keselamatan adik-adiknya di kapal ini, kenapa Saleh malah membahas hal lain. Tapi, tak urung pipi Mei merah merona mendengar ucapan Saleh selanjutnya.
__ADS_1
"Meski harus kuakui, mungkin pijatanku tidak semesra pijatan Eyang Ran pada Eyang Putri, tapi aku jamin bisa mengurangi pegal dan pusing." Saleh berucap menggoda Mei yang sedang marah.
Robin dan Robert menahan tawa melihatnya. Kalau bicara soal romantis dan mesra, tidak ada yang bisa mengalahkan pasangan Eyang Ran dan Eyang Putri di seluruh kapal.