Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 20


__ADS_3

"Perang Dunia ke II masih berlangsung, Tuan Hatta," Kapten Diego berkata di seberang meja, "Tentara Amerika sudah mendarat di Kepulauan Admiralty, bagian dari Nugini. Hanya soal waktu sampai Pasukan Amerika juga mendarat di Atol Kwajalein dan pulau lainnya di Kepulauan Marshall milik Jepang. Dan jika Amerika berhasil menduduki kepulauan Marshall. Angkatan Laut Amerika pasti lebih dulu akan mengebom Kepulauan Kurile, wilayah paling utara di negara Jepang."


"Itu benar." Bapak Hatta mengangguk setuju, "Dan jika Amerika berhasil mengambil alih kepulauan Marshall, itu juga berarti hanya soal waktu Amerika bisa menguasai Jepang. Walaupun Armada laut Jepang bisa mengalahkan Belanda, namun mereka bukan tandingan Negara besar seperti Amerika.


"Namun yang aku dengar, Kekaisaran Jepang sudah menyiapkan propoganda meminta bantuan dari negara lain. Jepang adalah saudara tua seluruh Asia. Namun entah rakyat dari negara-negara Asia lain bersedia mendukung sukarela atau tidak."


Meja besar itu tengah membahas tentang konstelasi geopolitik dunia. Topik yang sama sekali tidak menarik bagi Robin. Ia asyik berbicara dengan Saleh yang duduk di sebelahnya. Mereka membahas soal Lobster di seluruh dunia.


Jika itu terjadi, maka itu kesempatan yang baik sekali bagi kita." Mang Jajan ikut berbicara. Gerakan tangannya berhenti.


"Kesempatan baik?" Bapak Andipati seperti tak faham arah pembicaraan, "Bukankah itu hanya akan mengganti pemerintahan Jepang dengan Penjajah Amerika? Sudah pasti Amerika tidak akan menyia-nyiakan memperbudak Indonesia sama seperti Belanda dan Jepang."


"Tidak, maksud Abang Jajan. Kita memiliki kesempatan untuk merdeka, Tuan." Saleh yang menjawab, "Dunia boleh berubah kekuasaan, tapi itu justru memberikan kita kesempatan. Saat negara penjajah sibuk berperang satu sama lain, bangsa kita punya kesempatan. Entah dengan perlawanan fisik atau diplomasi dunia. Kita bisa merdeka."


Meja besar itu diam sejenak. Menyisahkan awak kapal yang bulak-balik menuangkan minuman ke gelas-gelas kosong, mengganti piring-piring, menambahkan makanan.


"Tapi bagaimanapun itu harganya mahal." Mang Jajan menghela nafas, ikut berkomentar, "Ribuan rakyat tidak berdosa akan menjadi korban. Perang tidak pernah melihat anak-anak, perempuan tidak berdaya. Peluru tidak bisa membedakan mana yang lemah "


"Perang memang tidak pernah baik dari sisi manapun kita melihatnya. Tapi kemerdekaan, layak di bayar dengan harga berapapun." Ucap Bapak Hatta.


Kapten Diego tersenyum, lantas dengan sopan membelokan percakapan, "Ah, kita memilih topik yang sangat berat untuk di bicarakan. Untung saja aku tidak mengundang Sersan Heiho. Mungkin Heiho juga akan ikut menangkapku kalau tahu kita membicarakan soal ini di meja makan."


Mang Jajan dan Saleh tertawa lebar mendengar gurauan Kapten Diego.


"Bagaimana Lobsternya Robin? Kapten Diego bertanya

__ADS_1


Robin masih mengunyah sebentar apa yang ada dalam mulutnya kemudian menjawab, "Enak."


"Ini khusus untukmu, Robin. Biasanya menu makan malam kami sama dengan menu kantin. Tapi malam ini, merayakan Robin yang selamat dari pasar Labuan, juga merayakan kapal ini masih berlayar dengan normal. Juru masak membuat menu spesial."


Tidak mungkin Robin memutar matanya "Kapten pasti bergurau." Wajah Robin terlipat.


Meja itu ramai lagi oleh tawa.


"Aku hendak mengucapkan ulang terimakasih kepada Saleh karena telah menyelamatkan tuan muda kami." Mang Jajan berkata takzim.


"Oh, harusnya Lady Mei harus memberi kredit pada Saleh atas apa yang ia lakukan." Kapten Diego menambahkan


"Kredit?" Saleh bertanya bingung.


"Ia benar, tapi sayangnya nona tidak bisa hadir malam ini. Sebenernya nona sudah mengalami demam hampir seminggu belakangan. Ia selalu mual dan muntah di pagi hari. Kami sudah membujuk agar ia ke dokter, namun ia bersikeras mengatakan baik-baik saja."


Mang Jajan mengangguk, "Iya, setiap pagi. Semakin hari semakin parah. Awalnya kami pikir mungkin efek mabuk laut baru terasa, tapi itu tidak mungkin karena Nona sudah terbiasa berpergian dengan kapal."


Ujung meja diam sejenak. Yang lain asyik menyantap hidangan penutup.


"Apa Lady Mei sudah menikah? Maksudku jika ia sudah menikah, mungkin ia sedang mengalami gejala orang hamil muda." Ucap Kapten Diego.


"Hamil? Itu tidak mungkin, Kapten. Nona belum menikah."


"Kalau begitu aku tidak tau apa yang di alami Nonamu. Kalau bukan mabuk laut atau hamil lantas apa?"

__ADS_1


Mang Jajan Terkekeh melihat wajah bingung kapten Diego. Kapten itu nampak berfikir keras, seperti ia seorang dokter. Kapten kapal itu ternyata orang yang asyik.


Mereka masih membicarakan Mei hingga hidangan penutup habis. Melupakan Saleh di samping mereka yang tiba-tiba berubah menjadi diam. Wajah pemuda itu berubah pucat, seperti habis melihat hantu. Tangannya dingin, mengeluarkan banyak keringat.


Tanpa menghabiskan hidangan penutup, dengan langkah cepat dan terburu-buru ia meninggalkan ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Saleh berjalan cepat melewati lorong-lorong, pandangan matanya kosong. Ia sungguh berharap malam ini tidak mendengar kabar buruk.


Beberapa pagi, ia memang sempat melihat wajah pucat Mei. Gadisnya itu juga sudah jarang terlihat sarapan di kantin. Semalam ia duduk bersama Mei, Saleh membawa gadisnya itu mengelilingi kapal. Berjalan sambil mengendap-endap, bersembunyi agar tidak ada yang melihat mereka berdua.


Ia tau jika Mei sedang sakit. Tapi gadisnya itu nampak baik-baik saja ketika bersamanya, apa benar Mei hamil? Ia benar-benar tak pernah berfikir sampai ke arah sana.


Sial, suasana depan kabin milik Mei sunyi lenggang, namun ada dua tentara Jepang di depannya. Sepertinya Sersan Heiho ada di dalam kabin itu.


Saleh memutuskan menunggu di sudut-sudut ruang, menunggu hingga hampir dua jam. Lantas ia baru beranjak dari tempatnya ketika dari jauh ia melihat Mang Jajan, Robin dan Robert yang nampaknya baru pulang dari sholat Isya di musholla.


Saleh berpapasan dengan tiga laki-laki berbeda umur itu. Ia terlibat percakapan singkat dengan Mang Jajan. Robert, bocah kecil empat belas tahun itu dari tadi terus menatapnya, entah apa yang di pikirkan anak kecil itu.


Kalau memang Mei hamil, entah apa yang akan terjadi. Padahal mereka berdua sudah menyusun rencana matang untuk kehidupan keduanya ke depan. Tapi jika Mei benar hamil, Heiho pasti akan menyulitkan mereka berdua.


Saleh kini mulai menyesali apa yang ia perbuat waktu itu. Kejadiannya begitu cepat, ia terpesona oleh kecantikan yang Mei tawarkan. Melupakan kewarasan otaknya yang berteriak-teriak memperingati dirinya jika Mei adalah anak seorang penjajah.


Namun hatinya tak memperdulikan soal itu, melupakan segala konsekwensi yang akan di hadapi. Hari itu secara sadar, sekali, di larut malam dalam kabinnya yang penuh dengan tumpukan buku-buku keagamaan. Ia dan Mei bersatu jiwa dan Raga.


Jam 4 pagi ketika ia bangun hendak pergi ke mesjid. Tubuh putih bersih tanpa sehelai pakaian di sampingnya, menyadarkan Saleh jika ia telah berbuat suatu kesalahan. Ingin rasanya ia berkata kepada Mei jika keduanya tak harus bersama, lupakan saja kejadian itu.

__ADS_1


Namun ia luluh juga ketika melihat darah pada sprei putih, dan tangisan Mei yang memintanya bertanggung jawab.


Di sinilah ia sekarang, menatap dipan tempat tidurnya. Mengingat kembali kejadian malam itu. Berfikir, apa Mei benar hamil setelah sekali melakukan dengannya?


__ADS_2