Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 32


__ADS_3

"Dua bulan kemudian, 21 Desember kami menikah. Seluruh kampung diundang, buruh perkebunan tebu, Tuan tanah Belanda. Pernikahannya ramai. Aku masih ingat janur kuning ada di mana-mana, kursi pelaminan yang kamu duduki, pakaian yang aku kenakan. Eyang Ran memakai kebaya berwarna emas, tusuk konde, untaian bunga melati. Hari itu, akulah orang yang paling bahagia sedunia karena mendapatkan cinta sejatiku."


"Hampir enam puluh tahun kami menikah. Anak kami dua belas. Tentu saja ada banyak pertengkaran, kadang merajuk diam-diam satu sama lain, cemburu, salah faham. Tapi kami berhasil melalui semuanya. Dan sekaranglah puncak perjalanan cinta kami."


"Aku berjanji kepadanya saat kami menikah, besok lusa, kami akan naik haji bersama. Karena kami bukan dari keluarga kaya atau terpandang. Maka itu, aku kumpulkan uang. Sen, demi sen. Tidak perduli berapa puluh tahun, pasti cukup. Setahun lalu saat uangnya cukup, putri sulung kami mendaftar naik kapal ini. Memutuskan berjalan mengelilingi benua sebelum menginjak tanah suci, akhirnya kami bisa naik haji."


Eyang Ran menoleh sebentar, menatap wajah Eyang Putri di sebelahnya. Itu tatapan penuh kasih sayang. Beberapa penumpang sampai harus menelan ludah menyaksikannya. Mei menyeka unjung matanya, terharu.


"Pendengaranku memang sudah berkurang, Nak. Mataku sudah tidak melihat baik lagi. Tapi kamu akan naik haji bersama, mengelilingi Ka'bah bersama. Itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. Bukti cinta kami yang besar." Eyang Ran menggenggam jemari Eyang Putri, mengakhiri ceritanya.


Bahkan, Robin yang biasanya suka sekali memotong percakapan orang. Ikut diam memerhatikan kemesraan pasangan sepuh itu.


.


.


.


Sementara sebagian besar penumpang sudah selesai sarapan dan bersiap-siap turun dari kapal, ada beberapa yang masih berkutat di dalam Kantin. Salah satunya Sersan Heiho, kantin Para tentara dan Masyarakat sipil di pisahkan sejak awal. Tapi moodnya hari pagi ini tidak bagus karena kedatangan Fahri.


Fahri adalah satu dari sedikitnya pribumi Indonesia yang Sersan Heiho sukai, ia telah berteman lama dengan Fahri. Dua bulan belakangan ini Fahri berada di kota Coron, Filipina. Urusan diplomasi Jepang dengan negara-negara Asia lainnya terkait perang dunia ke dua.


"Ayolah, kali ini saja kita akan bersenang-senang. Kapanlagi? Rio sudah menunggu di luar." Fahri membujuk.


Sersan Heiho menggeleng. Wajahnya mengerut tak suka, "Aku tidak mau menginjakkan kaki di Manila, Fahri. Kau tau persis alasannya."

__ADS_1


Keduanya bicara menggunakan bahasa Jepang.


"Yah, aku tau. Tapi itu semua masa lalu, itu sudah lama sekali terjadi. Apa yang kau cemaskan?"


"Baru tiga tahun yang lalu. Aku masih ingat dengan jelas perang itu. Suara ledakan, mayat-mayat yang..." Kalimat Sersan Heiho tercekat di ujung tenggorokannya.


"Astaga, Kawan. Kau harus melupakan hal itu." Fahri dari tadi membujuk sambil meminum kopi, "Ada aku dan Rio yang menemanimu, biar perlu bawa satu peleton anak buahmu juga."


Sersan Heiho menatap wajah Fahri tak suka, "Tidak bisa, aku tidak bisa melibatkan mereka."


"Tidak ada yang akan mengenali kau, Sersan. Kita hanya akan bersenang-senang sebentar di Manila. Satu saja. Kau sudah dua tahun berada di Indonesia. Sudah punya kehidupan baru. Tidak ada yang akan mengingat kejadian perang tiga tahun silam."


Sersan Heiho menggeleng. Jangankan untuk keluar bersenang-senang, ia bahkan tidak ada kepikiran hanya untuk berdiri di atas dek terbuka, melihat kota Manila sama saja dengan membangkitkan kenangan buruk tentang Perang antara Tentara Jepang melawan Spanyol yang bersekutu dengan penduduk asli Manila. Perang yang sebelumnya pernah Saleh ceritakan.


Heiho ingat betul, walaupun kemenangan diperoleh oleh Jepang. Tapi, masyarakat Manila terus memberontak. Ia yang selalu memandang enteng penduduk asli negara yang ia jajah, dengan semena-mena menyiksa, memperbudak mereka.


Mengingat kejadian itu. Heiho tidak berniat kembali menampakan diri di Manila. Bagaimana jika ada penduduk yang masih mengenalinya. Para pemberontak itu pasti akan kembali membalas dendam kepadanya.


"Bagaimana kalau kita hanya pergi turun makan, kau tau bukan? Manila terkenal akan makannya."


"Aku sudah sarapan, Fahri."


"Huh" Fahri mendengus kesal, susah sekali membujuk Sersan Heiho. Tapi bagaimanapun ia harus berhasil membawa keluar pria itu dari kapal agar rencana mereka berjalan lancar.


Kondisi di luar kapal, tangga-tangga sudah di turunkan. Antrean penumpang yang hendak naik kapal Karel Ambo dari Manila mengular di anak tangga bagian depan. Penumpang yang hendak turun dari kapal, melihat-lihat kota Manila dari tangga sama banyaknya dengan jumlah penumpang yang akan naik. Mereka bercampur satu di pelantaran dermaga.

__ADS_1


Beberapa petugas memegang daftar penumpang, memeriksa surat menyurat. Seperti biasa, di awasi oleh tentara Jepang anak buah Sersan Heiho


Cuaca cerah. Hujan tadi malam seperti tidak pernah ada. Langit biru sejauh mata memandang. Cahaya matahari pagi menyentuh orang-orang yang berada di pelabuhan. Burung camar terbang dengan suara melenguh nyaring.


Dermaga ramai. Di sekitar mereka terlihat aktifitas bongkar muat yang melibatkan alat berat. Peti kemas besar dinaikkan ke atas kapal kargo. Buruh-buruh terlihat mengangkut karung.


Di sana-sini terlihat tentara Jepang, lengkap dengan senjata. Meraka tengah mengawasi setiap jengkal pelabuhan. Kabar kerusuhan yang terjadi di Labuan telah di terima oleh kantor Gubernur. Karena itu mereka memperketat penjagaan di fasilitas umum.


Fahri masih membujuk Sersan Heiho agar ikut keluar dengannya, namun Sersan tetap tidak mau. Fahri menyerah setelah beberapa kali membujuk. Mungkin nanti malam ia akan kembali mendatangi Heiho. Pria itu mungkin saja mau keluar jika sudah gelap malam. Fahri hendak berdiri.


"Ohayō, watashi no yūjin. " Itu suara Rio dari memasuki kantin.


Fahri menoleh, Sersan Heiho juga ikut menoleh.


"Gunsō Heiho!" Rio berseru lagi, lebih kencang.


Rio datang menjemput Fahri dan Sersan Heiho. Dia sudah menunggu sejak setengah jam lalu di dermaga. Tapi keduanya tidak kunjung datang.


"Itu Rio. Kawan Pribumi yang kau bilang sangat bijak. Orang pribumi yang bisa membuat seorang Sersan besar sepertimu menyukai kepintarannya. Jika kau tidak ingin turun kapal, katakan hal itu sendiri kepadanya."


"Kenapa kalian berdua lama sekali? Aku hampir menjadi ikan bakar karena terlalu lama menunggu kalian di bawah."


"Aku tidak bisa pergi, Rio. Silahkan kalian pergi tanpaku." Heiho masih bersikeras.


"Hah, aku sudah lelah-lelah datang ke sini menjemputmu, kau harus pergi denganku. Jika kau tidak mau. Aku sendiri yang akan menyeretnya keluar kapal." Rio menyenggol bahu Sersan Heiho, bercanda.

__ADS_1


Ketiga orang itu memiliki cerita tersendiri, karena itulah mereka bisa sangat dekat.


__ADS_2