
Lampu-lampu yang semalam masih menyala terang, satu persatu mulai redup.
Kantin kapal sudah ramai oleh penumpang saat rombongan Mei De Houten tiba. Suara sendok beradu piring terdengar di sela-sela percakapan antar para penumpang yang terlihat mencoba mengakrabkan diri.
Kantin itu berada di dek tengah, berbeda satu lantai degan mesjid dan katedral. Kantin nampaknya merupakan satu-satunya ruangan yang paling luas di kapal. Ada puluhan meja dan kursi panjang yang tersusun rapi di dalam ruangan itu.
Dapur langsung mengahadapi meja-meja dan kursi hanya terpisah dengan sekat tipis tempat meletakkan makanan. Belasan awak terlihat sibuk bekerja. Ada yang memberi penumpang piring, ada yang menyendokan nasi serta beberapa memberi lauk serta minuman untuk penumpang yang sedang mengantri rapi.
Walau ada roti dan beberapa jenis buah-buahan yang menumpuk di unjung meja dan bisa di ambil sepuasnya.
Tapi menu sarapan pagi ini nasi goreng dengan beberapa jenis ikan serta sayur. Para awak luar negeri tersebut sepertinya sudah hafal betul selera orang Indonesia yang harus sarapan menggunakan nasi. Kepala koki mungkin sengaja menyiapkan menu yang paling bersahabat.
Robin dan Robert berjalan dengan langkah gontai di belakang kakaknya mei. Wajah mereka nampak pucat tak bersemangat.
Tadi Mei sudah menawarkan agar mereka berdua makan di kabin saja, nanti Bibi Siti yang mengambil makanan dati dapur. Tapi karena mereka berdua antusias ingin mengetahui bagaimana rasanya makan bersama banyak orang sehingga keduanya dengan keras kepala mengatakan untuk ikut.
"Tamba yah sedikit nasinya?" Tanya mei sambil melihat adiknya Robert.
Robert menggeleng, nafsu makannya terkuras habis. sedikit ini saja belum tentu aku habiskan, kira-kira seperti itu arti dari tatapan Robert.
Mei terkekeh, mengacak rambut Robert gemas. Di antara ke dua adik laki-lakinya, Robert adalah yang paling bisa bersikap dewasa, walau memang umurnya sudah 14 tahun.
Bagi Mei tetap saja sifat Robert yang kelewat dewasa tak cocok dengan umurnya, jadi ia ia sedikit senang dengan mabuk laut Robert kali ini. Setidaknya adiknya itu masih bisa bersikap seperti bocah pada umumnya.
"Tuan Robin mau bibi ambilkan teh? Sepertinya dapat mengurai mual." Bibi siti mencoba membujuk tuannya.
"Aku ingin makan sup kuah bening bibi, sepertinya makanan itu lezat dan paling baik untukku sekarang." Jawab Robin sambil menyorongkan piring ke arah awak kapal.
"Baiklah, nanti akan Bibi masak ketika kita di kabin. Sekarang tuan makan dulu nasi gorengnya karena hanya itu yang kantin ini sediakan." Bi Siti mengambil piring milik tuannya ulang dari tangan awak kapal.
__ADS_1
Mei dan rombongannya terus bergerak maju dalam antrean. Piring mereka sudah terisi nasi goreng. Hingga tibalah mereka di ujung meja tempat gelas-gelas dan cerek minuman. Ada seorang awak kapal yang berjaga di situ.
"Apakah mereka mabuk laut?" Awak itu bertanya pelan.
Kepala Mei dan ke dua adiknya terangkat.
"Eh, anda bisa berbahasa melayu?" Robert yang bertanya antusias, berbeda dengan mei yang menatap awak di depannya itu menyelidik.
Sejak tadi mereka memang tidak terlalu memperhatikan kondisi di sekitar karena sibuk dengan Robin dan Robert yang tetap kekeh ingin ikut mengantri, padahal bisa saja bibi siti yang mengambil makanan untuk mereka berdua.
Awak itu mengangguk. Ia jelas bukan awak dari Eropa. Wajahnya khas pribumi. Hanya seragam dan topi putih yang terlihat ia sama dengan awak kapal lainnya.
"Apakah mereka mabuk laut?" Awak itu bertanya lagi dengan suara datar, menunjuk ke arah Robin dan Robert.
"Iya mabuk berat, tetapi memaksa ingin ikut makan di dapur " Jawab Mei ramah.
Awak itu tampak diam sejenak, sepertinya ia menang pendiam. Sejak tadi awak itu hanya menatap dan menanggapi kalimat Mei dengan wajah datar.
Robin dan Robert saling tatap. Lantas mendongak melihat kakaknya. Wajah ke dua adik-kakak itu nampak berbinar. Tapi tak lama wajah Robin berubah masam.
"Minuman apa? Apa obat?" Tanya Robin beruntun.
"Mana aku tau." Jawab Robert seadanya.
"Aku tidak mau minum jika itu adalah obat." Ucap Robin mendengus tak suka.
Mereka berempat berhenti dan berjalan bergeser sedikit ke samping, memberikan jalan agar penumpang di belakang yang mengantri dapat mengambil minuman mendahului dan antrean tetap berjalan lancar.
Lima menit kemudian, awak kapal itu kembali. Ia tak membawa obat melainkan cerek minuman hangat yang terlihat beruap. Awak itu menuangkan minuman itu ke gelas-gelas.
__ADS_1
"Jahe." Awak itu mendorong dua gelas jahe ke arah Robin dan Robert, ucapan awak itu kemudian menghilangkan kekhawatiran ana yang sempat ada tadi. "Minuman ini dicampur dengan gula jawa, rasanya manis."
Robin dan Robert saling tatap, mata keduanya kembali berbinar. Tanpa ragu-ragu keduanya mengucapkan berterimakasih lalu mengambil gelas itu kemudian meminumnya.
"Terimakasih, aku baru ingat sekarang jika minuman jahe bisa membantu mengurangi mabuk laut " Ucap Mei.
Awak kapal itu hanya menatap sekilas lalu menganggukkan kepala. Lantas beranjak kembali membantu penumpang lainnya.
"Tunggu dulu, siapa namamu? Mai bertanya ramah, sementara Robin dan Robert sudah melangkah bersama bi Situ membawa makanan ke salah satu meja panjang yang terlihat masih kosong.
"Yusuf." Jawab pria itu singkat.
.
.
.
Malam ke dua selama perjalanan. Kapal Karel Ambo terus melaju dengan kecepatan penuh.
Setelah tadi makan malam di kantin dengan banyak menu seperti rendang, lontong sayur dan tempe tahu. Sudah pukul 9 malam, lorong-lorong kapal beranjak sepi. Penumpang telah masuk kabin, beristirahat. Hanya ada beberapa bapak-bapak yang tampak berbincang di dek-dek kapal sambil minum kopi.
Robin dan Robert sudah sejak tadi tertidur lelap. Minuman jahe yang tadi di berikan oleh awak kapal bernama Yusuf itu amat membantu, dua adik-kakak itu dengan segera menyesuaikan diri dengan gerakan kapal ketika sudah tak terlalu mabuk.
Semakin malam, angin bertiup kencang, udara semakin terasa dingin. Lampu kabin satu per satu mulai di matikan, pada penumpang banyak yang sudah tertidur lelap.
Di salah satu kabin milik Jack Karaeng. Pria bernama saleh itu tengah berkutat dengan sebuah Alkitab di tangannya, nampak serius membaca huruf-huruf latin pada buku tersebut.
"Entah apa yang kau pelajari dari buku itu?" Tanya Yusuf.
__ADS_1
"Kamu bertanya mirip seperti Gunsō Heiho saja." Ledek Saleh tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia pegang. "Sudah aku katakan jika kamu tidak faham apa isinya, bukan berarti itu hal itu langsung menjadi buruk." Sambung Saleh kemudian.
Yusuf memutar matanya jengah.