
Saleh membuka pintu kantin. Tadi ia memang belum sempat sarapan karena Lucas dan dua tentara Jepang lebih dulu sudah menjemputnya di kabin saat ia tengah asyik menulis.
Sudah lewat setengah jam dari waktu sarapan jadi kantin kapal sudah sunyi. Lantai kantin juga nampaknya sudah selesai di pel, di dalam kantin itu hanya terlihat satu-dua awak kapal berpangkat rendah yang tengah membereskan tumpukan piring-piring kotor.
Saleh mendekati salah satu dari awak kapal itu, "Apa kalian masih mempunyai makanan kawan? Aku belum sempat sarapan dati tadi."
Awak itu menoleh, bertatap sebentar dengan Saleh. Awak itu langsung mendengus. "Memangnya kesibukan apa yang kau lakukan sampai belum sarapan." Jawab awak kapal yang ternyata adalah Yusuf.
Walaupun masih mengomel, setelah meletakkan piring-piring basah pada tempatnya. Yusuf melangkah ke bagian lemari dapur, masih ada sisa nasi goreng dan telur dadar di dalam lemari.
Dua menit kemudian. Yusuf datang membawa nampan ke meja tempat Saleh menunggu. Ia meletakan piring makanan dan gelas berisi teh yang tadi sempat ia buat, lalu hendak beranjak balik.
"Kenapa kau hanya bawakan satu?" Pertanyaan pelan Saleh menahan langkah Yusuf.
Yusuf berbalik menatap Saleh dengan tatapan seolah ingin melahap sahabatnya itu hidup-hidup.
"Ah, dia mungkin tidak melihat aku. Tubuhku terhalang besarnya tubuh abang. Bukannya kamu awak kapal kemarin yang memberi Robin dan Robert jahe?" Ucap Mei yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Saleh.
Yusuf tentu saja kaget. Ia lantas menatap saleh, walau tak bersuara, wajahnya jelas menunjukkan seperti meminta penjelasan.
Namun yang di tatap hanya mengangkat bahu, acuh tak acuh.
"Ah," Mei tersenyum lebar, beranjak berdiri sambil menjulurkan tangan. "Perkenalkan, namaku Mei De Houten, panggil saja Mei."
"Muhammad Yusuf." Yusuf menjawab pendek.
"Sejak kapan kau bekerja di kapal ini Yusuf?" Mei bertanya dengan ramah.
"Dua hari lalu."
"Dua hari lalu?" berarti sejak kapal ini merapat di pelabuhan Batavia?"
Yusuf hanya mengangguk.
__ADS_1
"Bolehkah kau mengambil satu lagi piring nasi goreng? aku juga belum sarapan, Yusuf." Mei tersenyum.
"Tunggu sebentar."
Lima menit kemudian Yusuf kembali dengan membawa menu sarapan yang sama seperti yang tadi dia berikan kepada Saleh. Kini ia tengah memperhatikan ke dua pria dan wanita yang ada di depannya.
Saleh adalah seorang yang jelas-jelas menentang penjajah sedang duduk manis dan bercanda gurau dengan seorang putri dari pemimpin penjajah itu sendiri. Walaupun hal itu bukan masalah, namun sadar atau tidak. Tatapan Saleh pada Mei terlihat berbeda dari tatapannya pada perempuan lain.
.
.
.
Saleh masuk ke dalam kabin sambil bersiul santai. Melemparkan badannya di atas tempat tidur samping Yusuf, entah sejak kapan pria itu sudah ada di dalam kabinnya.
"Sorong sedikit ke sana." Ucap Saleh.
"Aku tidak tau apa yang membuatmu bahagia sampai menatap buku dengan tersenyum-senyum seperti itu? Ada apa sebenarnya? Jangan katakan kau menyukai Lady bangsawan itu."
Saleh hanya diam. Tidak menjawab.
Hal itu malah membuat Yusuf semakin menatap Saleh curiga, "Ingatlah. Tidak pagi, tidak siang, setiap petang, bahkan setiap malam kamu selalu gencar mengatakan tidak menyukai penjajah. Jadi jangan sampai kamu menyukai wanita itu."
"Bukannya tidak sama? Cinta dan Orasi adalah dua hal yang berbeda. Lagipula aku tau jika Mei itu lahir dan besar di Indonesia, dia bahkan selalu ramah pada orang pribumi."
Yusuf melongo tak percaya mendengar jawaban dari Saleh. "Bukan itu maksud dari ucapanku, kamu taukan Mei itu putrinya siapa?" Yusuf mulai bertanya kesal.
Saleh malah diam.
Dua menit berlalu, Saleh masih diam. Yusuf akhirnya menyerah. Ia duduk rileks di atas tempat tidur sambil menatap Saleh jengah, sepertinya ia harus segera menyadarkan kawannya itu.
"Untuk pribumi seperti kita, menatap sebongkah berlian seperti Lady Mei yang seorang bangsawan itu adalah hal yang tabu Saleh. Apalagi kamu tidak bisa melupakan begitu saja jika orang tuanya itu Belanda, sekaligus Jepang."
__ADS_1
Yusuf sekilas menatap Saleh, ingin tau bagaimana reaksi kawannya itu. Sungguh hal yang tak di duga, sepertinya dari tadi Saleh sama sekali tak memperdulikan ucapannya. Pria iyu tengah tersenyum-senyum menatap sebuah pigura, entah foto siapa yang ia tatap.
"Nah, kau lihat. Cantik sekali bukan. Dia memberikan foto kecilnya, ini saat ia masih 6 tahun. Terlihat sangat manis. Lupakan soal orang tuannya. Aku hanya ingin Mei saja."
Lagi-lagi Yusuf di buat melongo dengan ucapan Saleh.
"Aku akan melamarnya ketika kapal ini balik lagi ke Batavia. Aku beruntung sekali mendapatkan gadis sebaik Mei. Hei kau orang pertama yang aku beritahukan soal lamaran." Saleh menyeringai lebar.
"Jangan menatapku seperti itu, kawan. Aku tau apa yang sedang ku lakukan. Tenang saja, Yusuf." Ucap Saleh santai.
"Kau sudah gila." Umpat Yusuf tak terima, "Apa yang anak penjajah itu lakukan terhadapmu."
"Kau cerewet sekali, Yusuf." Saleh terkekeh, "Baiklah-baiklah, aku akan jujur hanya pada kau. Awalnya aku juga sempat tak tertarik dengan Mei karena alasannya sudah pasti orang tuannya Penjajah."
"Tapi Mei berbeda, dia tak seperti orang tuannya, ia menyetujui jika apa yang ke dua orang tuannya itu buruk. Dan lihatlah tadi pagi, dia membelaku menghadapi Sersan Heiho yang menyebalkan itu. Lalu tadi sore entah karena kebaikan atau kecantikannya. Aku terhipnotis dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya."
"Memangnya apa yang kau lakukan?"
"Aku tak sengaja melakukan, tidur dengannya." Jawab Saleh tanpa ragu-ragu.
"K*parat! Sialan kau, di mana prinsip dan agamamu." Yusuf naik pintam, ia menghajar Saleh secara membabi buta. Bagaimana bisa sahabatnya itu melakukan suatu perbuatan hina seperti itu.
"Tenanglah, aku pasti akan bertanggung jawab. Bukannya sudah ku katakan kalau akan melamarnya." Ucap Saleh setelah Yusuf sudah berhenti memukulnya. Ia meludah, darah keluar dari sudut bibirnya. Ia tak marah Yusuf menghajarnya, sahabatnya itu pantas marah padanya.
Saleh berdiri sambil bersiul santai, merapikan pakaiannya. Lantas berjalan ke meja belajarnya, mengambil Kitab Tripitaka milik ajaran Buddha lalu mulai membaca kitab tersebut. Mengabaikan Yusuf yang masih tampak kesal.
"Orang seperti kau ini memang yang paling berbahaya, Saleh. Padahal engkau selalu membaca segala macam buku-buku agama tapi lihatlah, kekakuan kau malah rusak. Semoga tidak terjadi suatu masalah kedepannya atas tindakan bodohmu itu."
"Hah, terserah kau. Tapi ingat jangan terlalu dekat dengan gadis itu di dalam kapal. Jangan lupakan, ada Sersan Heiho yang selalu mengawasi kau."
Saleh hanya mengangguk. Fokus pada buku di tangannya.
Note: Apa yang di perbuat Saleh bukan untuk di tiru.
__ADS_1