
"Kau dari mana saja, Saleh?" Yusuf bertanya kesal sambil merapikan seragamnya.
Saleh hanya menatap wajah kawannya sekilas, menatap wajah Yusuf datar.
"Semalam aku menyuruh kau menunggu sebentar, aku kembali sepuluh menit kemudian tapi kau tidak ada. Jam lima subuh tadi, kau juga tidak kutemui di musholla. Bukan hanya tadi subuh, akhir-akhir ini kau memang tidak terlihat pernah sholat. Dan lihatlah, wajah kusut, mata merah dan rambut kau yang berantakan. Entah dari mana saja kau."
"Tidak kemana-mana, hanya di kapal."
Yusuf tertawa, "Tentu saja hanya di kapal, kita sekarang di tengah laut. Kecuali kau ada ilmu terbang di udara, atau mengapung di atas lautan. Baru kau pergi ke tempat lain selain kapal ini."
Saleh tidak menggubris ucapan Yusuf. Pikirannya sangat kacau saat ini. Semalam, ia duduk seorang diri di bagian dek terluar kapal. Berpegangan pada tiang, menikmati tiap rintik hujan yang mengenai wajahnya. Ia baru kembali ke kabin setelah berulang kali meyakinkan dirinya kalau Mei baik-baik saja.
Saleh mengambil handuk dan peralatan mandinya.
"Apa kau tahu, kau dalam masalah besar." Ucap Yusuf terdengar serius.
Saleh menghentikan kegiatannya.
"Kabar Mei mual dan muntah itu memang benar, aku mendengarnya tadi pagi dari Kang Jajan. Aku harap dia tidak mengalami hal yang seperti yang kita pikirkan.Oh, Dan aku dengar, Salah satu Dokter tentara Jepang akan memeriksa ia pagi ini." Wajah Yusuf nampak tegang.
"Sersan Heiho sendiri yang akan mengawal proses pemeriksaan Mei. Jadi aku harap kau menjauh dari kabin milik Lady bangsawan itu untuk sementara, jangan membuat kekacauan."
Saleh terburu-buru berlari ke luar kabinnya. Sepertinya ia tak mempedulikan peringatan Yusuf, berlari ke arah kabin milik Mei dan keluarganya.
Yusuf menarik nafas kasar. Ia berlari mengikuti langkah Saleh yang sudah jauh di depannya. Sebentar lagi jadwal sarapan pagi dimulai, artinya waktu ia piket sudah dekat. Yusuf terus berlari, paling nanti ia akan di marahi oleh Kepala Koki.
"Ano otoko wa daredesu ka?" Suara bentakan Heiho terdengar dari dalam kabin.
__ADS_1
Demi mendengar ucapan Heiho selanjutnya, Saleh berhenti di depan pintu kabin. Ia tak boleh gegabah. Untung saja di depan kabin tak ada siapapun. Yusuf yang baru tiba, ikut berhenti bersamanya. Keduanya kini memasang telinga baik-baik agar dapat mendengar ucapan Heiho.
Sementara di dalam kabin. Bibi Siti sudah dari tadi bersembunyi di belakang dapur. Robin, Robert, Keduanya duduk diam dalam kamar atas perintah Heiho, tak berani keluar sama sekali. Sementara Mang Jajan berdiri di belakang pintu kabin, menyimak situasi. Ia baru akan bertindak jika kondisi berubah tidak kondusif.
"Kau pikir apa yang kau lakukan hah? hamil enam minggu? Kapal ini berangkat dari Batavia tujuh minggu lalu, jadi sudah pasti kau berbuat hal memalukan di dalam kapal ini." Ucap Sersan Heiho meledak-ledak amarahnya. Jarinya terus ia tunjuk-tunjuk ke wajah Mei.
"Setahuku tidak ada pria bangsawan Jepang atau Belanda yang menaiki kapal ini, hanya ada beberapa orang bangsawan Neitubu orang-orang sialan itu. Jika itu benar, hari ini juga akan aku lubangi kepala mereka.
"Atau jangan-jangan, pria itu salah satu dari tentara Jepang dari peleton yang bertugas di bawah pimpinan?" Seperti tak puas, Sersan Heiho kini beralih menatap beberapa tentara Jepang yang sedang berada di dalam ruangan kabin itu.
"Cepat jawab." Hendak Heiho.
Mei dari tadi sudah menangis. Ia hanya bisa diam.
"Astaga, apa nanti yang akan aku katakan pada Ibumu dan Kakek. Kau sekarang di bawah pengawasanku dan aku lalai menjagamu." Heiho mengerang, menjambak rambutnya, frustasi.
Mei masih diam. Mang Jajan menatap sekilas ketika mendengar nama Saleh di sebut. Sementara Saleh dan Yusuf berdiri mematung di tempat. Saleh hendak meraih gagang pintu, ingin membuka pintu dan mengakui jika memang ia pelakunya. Yusuf dengan cepat menyeret paksa Saleh dari depan kabin itu. Tidak ingin, kawannya itu membuat masalah. Tak lama lagi pasti peluit kapal akan berbunyi, bisa bahaya kalau mereka berdua kedapatan menguping.
"Ini karena paman dan bibi terlalu memanjakan kau. Terlalu di biarkan dekat dengan penduduk pribumi. berbicara, bahkan berteman dengan para Neitubu itu. Lihat hasilnya! Tingkahmu menjadi bar-bar, tidak terdidik, hingga menyalahi aturan."
Mei menunduk. Mau apalagi? Hanya itu yang bisa ia lakukan. Tak mungkin ia menjawab apalagi membantah ucapan Heiho, bisa melebar kemana-mana ucapan kakak sepupunya itu.
"Kau dengar kataku, tidak? Siapa pria itu? Astaga kau harus menjawab atau tidak, jika kutemukan sendiri pria itu. Aku pastikan melemparinya langsung ke laut. Biarkan ia di makan ikan, tidak perlu aku susah-susah payah mengotori tanganku menghajarnya."
Mei menunduk semakin dalam. Beruntung selama ini ia dan Saleh menjalin hubungan diam-diam, mereka tidak kelihatan dekat jika sedang berkumpul bersama orang. Atau Saleh pasti sudah di hajar sekarang.
Beruntungnya lagi, suara peluit angin terdengar dua kali, berbunyi panjang. Tanda waktu sarapan telah dimulai. Suara kaki-kaki orang yang berlarian sepanjang lorong menuju kantin mulai terdengar.
__ADS_1
Heiho menggeram kesal. Ia jelas tidak bisa melanjutkan marahnya pagi itu, orang-orang akan mendengar suaranya yang besar. Ia tak mungkin marah lalu berbicara dengan suara kecil, suaranya tak dapat ia tahan.
"Jaga dia. Jangan biarkan keluar." Perintah Heiho pada Mang jajan. Ia juga menyuruh empat tentara Jepang bawahannya berjaga.
Robin dan Robert keluar kamar berpapasan dengan keluarnya Sersan Heiho dari dalam kabin mereka. Bibi Siti ikut keluar dari dapur dengan membawa sebaskom bubur kacang hijau dan juga sebungkus roti. Tanpa di suruh, Mang Jajan ke dapur mengambil selai dan cerek berisi teh, membantu Bi Siti menyiapkan sarapan. Rombongan mereka akan sarapan di kabin saja, pagi itu.
"Kakak baik-baik saja?" Tanya Robin dan Robert bersama. Keduanya mengkhawatirkan kakak perempuannya itu.
Mei mengangguk, merentangkan kedua tangannya.
Robin dan Robert berlari, Keduanya memeluk Mei erat.
"Kakak Mei tenang saja. Aku akan menjaga kakak dari kakak Heiho yang jahat." Robin berucap yakin.
"Bukannya tadi kau bersembunyi di bawah meja ketika kak Heiho membentak? Penakut, sok-sok ingin melindungi." Ledek Robert, "Biar aku saja yang menjaga kakak Mei."
"Kamu sendiri menutup telinga tadi mendengar suara auman kak Heiho." balas Robin tak mau kalah.
Robert melotot.
"Auman? kau pikir kak Heiho seekor harimau?" Mei tersenyum, merapatkan pelukannya.
"Dia bukan Harimau tapi Nenek Sihir. Untung saja dia laki-laki, jika dia perempuan. Aku pasti sudah menduga bahwa ia titisan Nenek Sihir." Jawab Robin menggebu-gebu.
Ketiga kakak-adik itu tertawa bersama.
Note :
__ADS_1
Ano otoko wa daredesu ka? : Siapa pria itu?