Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 31


__ADS_3

Makan malam itu berjalan dengan lancar hingga selesai. Saat perjalanan kembali, Robin sempat bertanya-tanya pada Saleh. Kenapa Yusuf tidak terlihat di antara meja gelas-gelas dan cerek air minum malam itu?


Saleh menjawab santai, "Mungkin sekarang jadwal liburannya, Robin. Jadi dia mungkin sedang istirahat."


Bocah kecil itu mengangguk, masuk akal.


Padahal kenyataan sebenarnya, awak kapal itu tengah cukup sibuk dengan tugas barunya. Kembali mengumpat sial mendapati Saleh seorang Mafia besar.


Keesokan harinya.


Lucas si awak kepala bangun kesiangan. Ia terbangun karena suara peluit panjang tanda makan pagi. Tadi malam jadwal piketnya hingga larut. Lucas duduk menggeliat di atas tempat tidur, sambil menatap dipan di seberangnya. Entah di mana Yusuf teman sekamarnya itu berada. Seprei ranjang Yusuf rapi, pertanda tidak ada orang yang tidur di atasnya.


Lucas meraih handuk dan peralatan mandi. Hari ini sebagian besar awak kapal libur karena kapal sudah merapat di pelabuhan Manila. Kapten Diego memberikan kelonggaran pada mereka yang hendak ingin turun dari kapal.


Sementara di kantin, Robin dan Robert sudah mengantre. Lagi-lagi mereka tidak melihat Yusuf. Ruben bergumam, mungkin om itu libur seperti kata Kakak Saleh.


Menu pagi itu sederhana, nasi goreng, telur dadar, dan potongan timun segar. Tidak masalah bagi Robin, sebentar lagi ia akan keluar kapal. Ia dengan semangat membawa piringnya ke meja, bergabung dengan tetangga sebelah kabin. Eyang Ran dan Eyang Putri. Mereka menjadi pusat perhatian satu meja.


"Kau bilang apa tadi, Robin?" Eyang Ran bertanya balik.


"Eyang mau di ambilkan teh hangat lagi?" Robin berseru kencang.

__ADS_1


"Oh, tidak usah, Robin. Nasi goreng ku masih banyak. Tapi kalau kau mau, Eyang minta tolong di ambilkan teh lagi."


Haduh! Robin menepuk jidatnya, mengeluh dalam hati. Dari tadi juga sejak melihat gelas Eyang Ran kosong, dia sudah menawarkannya.


Meja di penuhi tawa. Sebagian karena melihat wajah kesal Robin. Bocah laki-laki kecil itu meraih gelas Eyang Ran, lalu beranjak ke meja minuman.


"Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Mataku juga, sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus aku akui itu." Eyang Ran mawas diri, "Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu dengan istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak-anak kami. Waktu-waktu indah milik kami berdua. Takkan bisa aku lupakan."


Nah, Hal inilah yang membuat pasangan sepuh itu menjadi pusat perhatian.


"Aku bertemu dengannya di acara pernikahan kawanku, tanggal 21 Agustus 1887. Malam itu, aku melihatnya menjadi pendamping mempelai perempuan. Dan sungguh, menurutku ia lebih cantik di banding pengantinnya. Bahkan lebih cantik di antara semua perempuan yang hadir di situ atau nona-nona Belanda di kota Batavia." Wajah Eyang putri ketika itu merona merah, tersenyum manis sekali. Jantungku langsung terpana cinta saat itu juga. Terus terang, aku hampir terkencing saat memberanikan diri menyapanya" Eyang Ran mulai bercerita karena di paksa penumpang lain.


Eyang Ran memejamkan mata sejenak. Mungkin sedang meresapi tiap kalimat yang dia sampaikan.


"Keringat dingin aku menghadapinya. Kumisnya yang panjang melintang, hitam, lebat. Wajahnya galak. Beberapa anak buahnya yang wajahnya tak kalah galak dari sang ayah juga hadir saat acara lamaran itu. Mendengar pertanyaan sulit itu. Aku berfikir nasib cintaku sudah di unjung tanduk." Eyang Ran menelan ludah, wajahnya berubah cemas, menghayati ceritanya, seolah ia berada pada masa itu.


Robin yang sudah kembali membawa teh juga tertarik mendengar kisah yang sedang Eyang Ran bawakan, kemudian meletakkan gelas di hadapan Eyang Ran.


"Ah, terima kasih, Robin. Maaf merepotkan sudah menyuruhmu mengambil teh panas." Eyang Ran tersenyum.


Tapi, setelah mengucapkan terima kasih kepada Robin. Eyang Ran tidak melanjutkan ceritanya, ia asyik dengan teh hangatnya, kembali makan, satu, dua suap. Sepertinya ia lupa kalau tadi sedang bercerita.

__ADS_1


Aduh, padahal semua orang sedang menunggu kelanjutan cerita dengan wajah penasaran, tak sabar.


"Lalu, bagaimana dengan hasil dari lamaran tadi, Eyang. Apa yang Eyang jawab?" Salah satu anggota dari rombongan Kesultanan Riau bertanya, semakin tidak sabar.


"Jawaban apa?" Eyang Ran bertanya balik, nampak bingung.


"Tadi Eyang cerita soal pertanyaan Ayah Eyang putri."


"Siapa yang bercerita, Nak. Aku dari tadi sedang makan. Sepertinya kau sudah mulai pikun sepertiku"


Astaga, meja di penuhi tawa.


"Lamaran Eyang Ran ke Eyang Putri. Bagaimana Eyang menjawab pertanyaan pria yang kumisnya yang panjang melintang, hitam, lebat. Wajahnya galak itu?" Robert menjelaskan sambil berseru kencang, memastikan Eyang Ran mendengarnya.


"Lamaran? Kumis melintang? Bagaimana kau bisa tau soal pertanyaan itu, Robert? Siapa yang menceritakannya kepadamu?" Eyang Ran menatap Robert bingung, menoleh ke Eyang Putri di sebelahnya, "Kau yang menceritakan kenangan indah itu kepada mereka?"


Robin dan Robert menepuk dahinya serempak. Hal ini menjadi rumit sekali, setelah Mbah Putri menjelaskan pelan, Eyang Ran akhirnya kembali melanjutkan cerita. Meja makan itu semakin ramai.


"Oh pertanyaan itu... Memangnya apa yang harus kujawab? Aku tidak punya harta benda, juga tidak sekolah, membaca saja terbata-bata. Tidak ada yang bisa aku banggakan. Apa yang bisa aku berikan? Mulutku tercekat, tidak tau harus menjawab apa. Tatapi, demi melihat Eyang Putri yang saat itu malu-malu mengintip dari balik tirai. Aku meneguhkan niat. Aku memberikan diri, kujawab pertanyaan itu, 'Aku tidak memiliki harta, tapi, Bapak. Aku memiliki cinta yang besar, hanya itu yang bisa aku janjikan. Dengan cinta itu, putri Bapak akan bahagia selama-lamanya'."


"Kusampaikan kalimat itu dengan sepenuh hati. Kalimat itu, aku ingat betul hingga saat ini. Si kumis panjang melintang terdiam. Orang-orang di ruangan itu juga ikut diam. Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Apakah di terima atau di tolak."

__ADS_1


"Tiba-tiba, terdengar suara tangisan. Ibu-ibu dan nenek-nenek dari pihak Eyang Putri menangis, mereka berseru pelan, 'Kalimatmu indah sekali' Belum pernah mereka melihat seorang pemuda yang begitu mencintai kekasihnya. Si kumis panjang melitang awalnya tidak setuju, bilang jika kalimat itu hanya rayuan omong kosong, jangan mudah di percaya. Tapi karena di desak oleh ibu-ibu dan nenek-nenek, ia tidak punya pilihan selain menerima."


Eyang Ran diam sejenak. Orang-orang mulai cemas, jangan-jangan Eyang Ran kembali lupa lagi jika sedang bercerita. Untungnya tidak. Ia kembali melanjutkan ceritanya.


__ADS_2