Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 21


__ADS_3

"Tunggu, Kak." Robin berseru memanggil kakaknya.


Robert tak menghiraukan panggilan Robin. Ia tengah memikirkan kenapa Saleh, pria itu berjalan dari arah kabinnya? Robert ingat betul, kabin milik Saleh berada satu lantai di bawah kabinnya mereka. Lantas apa yang pria itu lakukan di lorong ini?


Robert baru berhenti ketika langkah Mang Jajan lebih dulu berhenti secara tiba-tiba di depan pintu kabin. Mang jajan sedang berbicara dengan beberapa orang tentara Jepang, yeng entah sejak kapan sudah ada didepan kabin.


Tak memperdulikan percakapan orang dewasa. Robin dengan semangat mendorong pintu kabin, ia tak sabar bercerita pada Mei, kakaknya, tentang kejadian tadi di jamuan makan. Robin hendak berteriak memanggil nama kakaknya, namun tak jadi.


Ruang tengah kabin sangat ramai. Jumlah tentara Jepang di dalam kabin lebih banyak dari yang di luar. Sedang apa orang-orang dewasa disini? Mereka hanya duduk diam, pandangan mata mereka semuanya terarah ke kamar kak Mei yang sedikit terbuka. Robin langsung bergegas menuju kamar kakaknya.


Mei tersenyum melihat kedatangan si bungsu.


"Kakak baik-baik saja?" Robin bertanya cemas. kakaknya seperti habis sedang menangis.


"Kakakmu baik-baik saja, Robin." Hihi yang menjawab.


"Tidak. Kakak tidak baik-baik saja, dan apa yang kak Heiho lakukan di


dalam kamar milik kak Mei?"


Wajah Heiho yang tadinya sudah datar, semakin ditekuk. Nampak tak senang dengan pertanyaan Robin.


"Kak Heiho hanya datang menjenguk kakakmu karena mendengar ia mual-mual dan muntah. Besok dokter akan memastikan apa kakakmu hamil atau tidak." Heiho menjelaskan.


Robin masih belum faham. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna ucapan kakak sepupunya itu.


Berbeda halnya dengan Robert, bocah berusia empat belas tahun itu berdoa semoga saja kakaknya tidak benar-bear hamil. Bagaimana bisa perempuan yang belum menikah sudah hamil duluan?


Setelah Heiho dan para tentara Jepang keluar dari dalam kabin. Mei dan Bi Siti lanjut makan malam. Keduanya tadi belum sempat makan. Bi Siti masak di dapur kabin, katanya Ia membuat masakan kekusaan Nona Mei. Namanya Nasi palekko, makanan khas orang Makassar berupa itik atau kadang juga bebek asam pedas. Nasi artinya masak, sedangkan palekko berarti periuk atau nilai tanah.


Itik muda yang mereka sempat beli di pasar Labuan tiga minggu lalu itu, di bungkus sedemikian rupa agar saat di gunakan masih segar. Aroma makanan tercium di seluruh kabin ketika Bi Siti menghidangkan makanan di atas meja.

__ADS_1


Perut Robin berbunyi. Ia hanya menyengir mendengar suara perutnya sendiri, padahal tadi ia sudah makan banyak sekali Lobster dan sayur-sayuran.


"Apa perutnya itu karung? Minta di isi terus." Robert sengaja menganggu adiknya.


Robin melotot.


Robert tertawa, namun tak lama perutnya juga ikut berbunyi bahkan bunyinya lebih besar dari pada bunyi suara perut Robin tadi.


"Apa perutmu itu lambung kapal?" Sekarang giliran Robin yang bertanya, menirukan cara bicara Robert tadi, "Sudah minta di isi lagi."


Robert balas melotot.


Di lain tempat, Saleh berjalan dengan langkah lunglai ke kantin. Ia perlu bicara dengan kawannya, Yusuf.


Angin malam semakin kencang, gerimis turun membasahi lorong-lorong. Kapal Karel Ambo terus melaju di atas hempasan ombak. Saleh berjalan pelan menaiki anak tangga, jalanan licin berair, entah air muncul dari mana. Saleh mencengkeram pegangan tangga, karena lampu lorong mati jadi lorong gelap. Hampir saja ia terpeleset, pikirannya kemana-mana.


Kantin kapal lenggang. Lampunya juga sudah di padamkan, hanya tersisa satu lampu di bagian tengah yang menyala agar kantin tidak gelap total. Melihat hal itu, Saleh berfikir jika Yusuf sudah kembali ke kabinnya. Tapi saat ia hendak membalikkan badan, sudut matanya melihat ada dua orang di dalam kantin.


Mereka berdua nampak mengenakan seragam awak kapal. Salah satunya sedang makan dan yang satunya sedang berdiri di samping lampu. Saleh kenal postur tubuh Yusuf persis dengan orang yang tengah berdiri. Ia memutuskan masuk ke dalam kantin.


Saleh mendorong pintu kabin, dugaannya benar.


Lucas langsung berdiri demi melihat orang yang masuk, kemudian mengangguk sopan, "Selamat malam tuan, Saleh."


Yusuf melongos, berjalan, lalu duduk tanpa membalas sapaan Saleh.


"Hei, kau seharusnya menjawab." Lucas berbisik.


Yusuf menatap Lucas, memangnya harus aku jawab, Kira-kira seperti itu arti dari tatapan Yusuf.


"Watashi no yūjin, kau tidak tau dia? Pemuda ini terkenal sekali di Batavia. Kapten Diego bahkan meminta seluruh awak agar ia dipastikan dapat pelayanan yang baik. Jadi kau juga harusnya menyambutnya dengan baik." Lucas menendang pelan kaki Yusuf, matanya mengingatkan.

__ADS_1


Yusuf terlihat tak peduli.


Saleh melangkah mendekati dua orang itu. Langkahnya lemas.


"Boleh aku bergabung?" Tanya Saleh, "Aku perlu bicara serius denganmu." Saleh berbicara sambil menatap Yusuf.


Lucas nampak bingung. Apa mereka, Yusuf dan Saleh kenal dekat?


"Apalagi kali ini?" Yusuf membuat dua gelas teh untuknya dan Saleh. Ia letakkan di atas meja, duduk di hadapan kawannya itu.


"Aku dengar Mei sakit.."


Yusuf menunggu lanjut ucapan Saleh.


"Lady Mei memang tidak enak badan, ia mual dan muntah. Sersan Heiho sedang mengecek kondisinya" Lucas menambahkan, "Katanya ia hamil." Lucas berbisik. Hendak Protes kenapa Yusuf hanya membuat dua gelas teh saja.


Yusuf tampak terkejut. Ia menatap Saleh meminta penjelasan. Saleh hanya bisa menunduk, bingung harus berkata apa.


"Kami pamit pergi duluan, Lucas. Aku akan ke kabin Saleh, berbincang dengannya sebentar. Kau boleh meminum dua gelas teh itu, tenang saja tehnya belum kami cicipi." Yusuf lantas menarik tangan Saleh keluar dari kantin.


Lucas memandang kepergian dua orang pria itu bingung, "Jadi mereka berdua memang kenal dekat." Lucas bergumam.


.


.


.


Besok paginya. Kabin Mei di meliputi hawa tegang. Dokter tentara Jepang yang memang di ikut sertakan dalam peleton sedang memastikan kondisi Mei. Mang Jajan, Bi Siti, Robert nampak gelisah. Wajah Heiho sudah datar sejak memasuki ruangan, hanya Robin saja yang nampaknya tenang.


Sementara Mei terbaring lemah di kasur nya. Tadi subuh ia memuntahkan habis isi dalam perutnya, bekas makanan tadi malam yang belum tercerna dengan baik. Ia sama sekali tak ada tenaga untuk melawan Heiho, sejak semalam kakak sepupunya itu datang. Ia sempat bertengkar, adu mulut sengit dengan Heiho. Menyangkal bahwa ia tidak hamil. Tapi sama saja. Pemikiran orang kolot zaman itu, jika wanita mual di sertakan muntah tandanya ia hamil. Sebab itu, Mei pasrah di periksa.

__ADS_1


Mei tau sekali. Jika ia memang benar-benar hamil, maka Heiho tak akan membiarkan hal ini menjadi mudah. Ini baru tujuh minggu mereka berada di atas lautan, masih ada delapan bulan hingga mereka tiba di Jepang. Itu berarti kemungkinan besar Heiho akan membuat ia menderita selama sisa perjalanan.


"Anzen. Selamat nona atas kehamilannya. Usia kandungan anda saat ini memasuki minggu ke tujuh. Semoga Tuhan memberkatimu dengan kehamilan yang aman dengan bayi yang sehat dan gembira." Ucap dokter setelah selesai memeriksa, lantas pamit undur diri.


__ADS_2