Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 6


__ADS_3

"Jack Karaeng benarkah?" Seru seorang pria bertanya dari arah belakang setelah awak kapal tadi mundur ke belakang.


"Perkenalkan saya Jajan, tuan." Ucap pria itu sambil mengarahkan tangannya, ingin menjabat tangan.


Saleh tersenyum, menerima jabat tangan Jajan. "Bicara formal saja kepadaku, seperti usia abang lebih tua dari padaku."


"Baik, tidak apa jika aku memanggilmu dengan sebutan Jack saja?"


"Saleh. Panggil saja Saleh.


"Begini Saleh, kau mungkin sudah lupa jika kita pernah bertemu di rumah Jenderal Felipe beberapa bulan lalu. Saat kamu di tangkap karena tuduhan menyebarkan hasutan untuk membenci Jepang." Ucap Jajan berbicara sepelan mungkin.


Saleh tampak berfikir, "Rumah Jenderal Felipe?"


"Benar, Keributan kecil di ruang pertemuan karena ulah para Sersan Jepang yang keras kepala itu." Jawab Jajan kini suaranya terdengar menggebu-gebu.


"Haha, aku ingat. Abang yang waktu itu menarik paksa keluar salah satu tentara Jepang dari ruangan bukan." Saleh tertawa renyah.


"Yah benar." Jajan mengangguk.


"Nah kabar buruk bagi kau, ada sekitar satu peleton tentara Jepang yang ikut naik kapal ini."


"Ah, soal itu aku sudah tau. Aku bahkan bertemu dengan salah satu Sersan ketika kemarin akan naik kapal." Saleh semakin tertawa.


"Abang naik kapal besar ini dengan siapa?" Saleh bertanya.


"Kami berlima. Ada istriku dan tiga sisanya adalah majikan kami. Sepertinya kau mengenal mereka dengan baik."


Saleh menatap Jajan bingung, baru saja ia akan bertanya namun suara dentuman Yusuf mengurungkan niatnya.


"Apa tuan akan memulai sholat subuh ketika matahari sudah terbit." Tanya Yusuf dengan nada mengejek.


Saleh langsung tersadarkan, ia bergegas menuju mimbar, sholat Subuh pagi itupun di mulai.

__ADS_1


Sholat Subuh pertama di kapal itu hanya di ikuti oleh satu saf jamaah dan beberapa jamaah perempuan. Tatapi meski sedikit, sholat subuh itu tetap berlangsung khusyuk.


Saleh sebagai imam. Suara seraknya terdengar lantang, teduh menenangkan. Bacaan surat pendek memenuhi ruangan kecil itu.


"Kalian bisa duduk sebentar, berbincang denganku mengenai beberapa hal." Ucap saleh ketika selesai berdoa dan membalikkan badannya.


Beberapa pemuda nampak tertarik, mereka lantas mendekat ke arah Saleh. Sementara para pria yang berumur lebih tua lebih memilih kembali ke kabin masing-masing.


Siapa yang tidak mengenal Saleh. Kabar tentang pria yang menentang para penjajah dari negeri asing itu sudah tersebar luas di banyak kalangan. Jadi jika tak ingin berurusan dengan penjajah secara langsung sebaiknya mereka menjaga jarak dengan Saleh, mungkin begitu cara pikir para pria yang memilih keluar itu.


"Kita yang ada di dalam ruangan ini semua bukan terhubung karena kita satu perjalanan menuju Tanah suci. Bukan juga karena kita senasib di kapal ini, tapi yang paling penting karena kita sama-sama muslim."


"Tidak peduli seberapa kaya, rupawan apa wajah kita, setinggi apa derajat kita atau dari kabin kelas berapa kita tinggal di kapal ini. Intinya kita semua satu, saudara muslim. Indonesia."


Para pemuda memperhatikan dengan seksama ucapan yang keluar dari mulut Saleh. Mei dari saf wanita juga ternyata masih berada di dalam Musholla itu. Ia tampak memperhatikan dan menebak arah pembicaraan pemuda itu.


"Nampaknya, ia tidak menyampaikan hujatan-hujatan pada Jepang pagi ini." Batin Mei seraya ingin meninggalkan mesjid, namun pertanyaan Saleh mengurungkan niatnya.


"Ada berapa orang yang membawa anak-anak dalam perjalanan ini? Saleh bertanya.


Saleh mengangguk, "Ada tiga keluarga, jika di tambah penumpang yang naik di pelabuhan berikutnya, jumlahnya bisa belasan atau mungkin puluhan."


"Aku berfikir bagaimana jika sore setelah sholat ashar, kita mungkin bisa mengadakan pelajaran mengaji untuk anak-anak. Agar mereka memiliki kegiatan yang bermanfaat selama di kapal."


Hening sejenak, mereka saling menatap.


"Tapi bang, bukan hanya anak-anak yang butuh pelajaran mengaji, ada banyak penumpang dewasa yang belum benar lancar benar mengajinya."


"Kalau soal itu, kita bisa menyusun jadwal misalnya setiap abis sholat dzuhur, siapapun penumpang dewasa yang hendak belajar mengaji bisa berkumpul di sini."


Ada yang bersedia mengajar?


"Saya bersedia." Jawab salah seorang perempuan dari balik tirai pembatas saf. "Saya guru yang mengajar anak-anak di pesantren di Surabaya. Akan menyenangkan jika bisa mengajar anak-anak di kapal ini." Perempuan yang nampak seumuran Mei itu memperkenalkan namanya.

__ADS_1


Setelah berunding, semua yang ada di dalam Musholla itu nampak setuju jika perempuan itu akan mengajar anak-anak mengaji setiap usai sholat dzuhur.


"Untuk para orang dewasa, biarkan temanku Yusuf yang mengajarkan." Ucap Saleh memberi saran.


"Tidak." Jawab Yusuf cepat sambil melotot ke arah Saleh.


Namun ia buru-buru sadar jika dia tengah berada di antara banyak orang, "Maksudku, aku belum pernah menjadi guru mengaji Saleh. Mungkin aku bisa membantu memperbaiki bacaan, tapi itupun ilmuku masih sangat dangkal.


"Bukan masalah kawan, tetap saja itu dapat bermanfaat. Lagi pula kita bisa belajar satu sama lain untuk saling memperbaiki bacaan."


"Baiklah, tapi itu hanya untuk sementara waktu. Mungkin saat kapal tiba di Brunei ada Qari atau Qariah (Sebutan untuk pria dan wanita yang fasih membaca Alquran) dari sana yang bisa menjadi guru mengaji untuk orang dewasa. Qari dari Brunei terkenal sekali dengan bacaannya." Ucap Yusuf.


Para pemuda mengangguk setuju.


"Kita juga harus memikirkan sekolah anak-anak selama di kapal. Mereka membutuhkan kelas sementara agar saat kembali nanti ke tanah air tidak terlalu tertinggal." Ucap Saleh menambahkan.


"Soal itu, aku akan berbicara dengan Kapten Diego. Mungkin kami punya awak kapal yang bisa membantu." Jawab awak kapal yang tadi berbicara dengan Saleh soal arah kiblat, "Kami juga akan membantu menyiapkan jadwal-jadwal tertulis untuk di bagaikan ke penumpang lain atas seluruh diskusi yang kita lakukan sekarang."


"Kami juga akan berbicara dengan mereka yang ada di Katedral soal rencana sekolah anak-anak."


Lima menit kemudian, sudah banyak hal yang mereka sepakati.


"Terakhir, tiap jam selesai sholat Subuh, Subuh aku akan mendirikan majelis ilmu di Musholla ini. Kita bisa membahas banyak hal, dan belajar bersama. Jika kalian bisa, kita akan lakukan mulai dari besok pagi."


Para pemuda mengangguk antusias, Satu dua nampak mengangguk senang. Mereka biasanya menghabiskan satu sampai dua jam berdiri berdesak-desakan hanya untuk mendengarkan orasi dari mulut dari mulut saleh tentang kemerdekaan melawan Jepang, itupun dengan resiko di tangkap tentara Jepang.


Sekarang mereka berkesempatan membangkitkan semangat juang dalam diri mereka tiap pagi. Tantu saja hal ini tidak dapat mereka lewatkan begitu saja.


Peluit terdengar kencang, menunjukkan bahwa tanda sarapan pagi akan dimulai.


Mei keluar paling akhir dari Musholla, ia tak ingin ada yang menatapnya menaruh curiga sebab wajahnya tak tampak seperti orang pribumi apalagi sebagai seorang muslim. Tadi saja ketika sholat, ia selalu menundukkan kepalanya.


Dari apa yang dia dengar pagi itu, nampaknya pria yang bernama Saleh itu tidak terlihat seperti seorang pemberontak, malah ia layaknya seorang pemimpin dengan segala taktik menyusun jadwal selama perjalanan.

__ADS_1


Mei tidak melihat adanya paksaan, atau bujukan sesat untuk membenci Jepang seperti yang kakaknya Heiho katakan. Mei bahkan merasa dirinya terkesima dengan cara Saleh yang tanpa paksaan bisa membuat para pemuda secara sukarela ikut membantu.


"Sepertinya aku demam." Ucap Mei pada diri sendiri. Ia merasa jantungnya berdegup kencang, bahkan wajahnya terasa panas.


__ADS_2