Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 23


__ADS_3

Selesai sarapan pagi.


Dua belas anak-anak di kapal berangkat ke sekolah sementara. Robin dan Robert berlari terburu-buru, mereka tadi terlalu asyik menggunjing Kak Heiho sampai lupa waktu belajar.


Pagi ini giliran Bapak Andipati yang mengajar. Ia meminjam peta besar dari ruangan Kapten Diego, dua awak kapal memasang peta tersebut pada dinding. Mereka akan belajar tentang geografi dunia.


Robin terlihat bersemangat, pernah ia melihat peta besar di ruangan kerja ayahnya, namun tidak sebesar peta milik Kapten Diego.


Bapak Andipati menunjukan banyak tempat-tempat menarik di dunia, kota-kota bersejarah, lokasi delapan keajaiban dunia, dan terakhir menunjukan rute Kapal Karel Ambo yang sedang mereka naiki.


Robin takjub. Mereka bahkan baru sepertiga perjalanan, masih jauh sebelum sampai Jepang. Namun setidaknya mereka sudah melewati perairan dalam.


Saat anak-anak masih asyik menyimak peta raksasa di dinding, peluit kapal terdengar kencang. Semuanya saling menoleh. Bukankah sekarang baru pukul sepuluh? Masih lama hingga jadwal makan siang.


"Lihat petanya anak-anak. Kita sudah tiba di kota Coron, bagian terluar selatan Negara Filipina yang paling berdekatan dengan Brunei Darussalam ." Bapak Andipati menjelaskan, "Peluit menandakan kita akan segera berlabuh di dermaga dekat sini."


Kapal berlabuh lagi? Anak-anak bersorak antusias ketika Bapak Andipati membubarkan kelas, padahal masih ada satu mata pelajaran tambahan.


Kota Coron 1943 adalah satu kota pesisir Filipina yang indah.


Hal pertama yang terlihat dari kejauhan saat kapal akan merapat adalah mercusuar di pelabuhan. Bangunan itu tinggi, gagah, kokoh. Jika kapal tiba pada malam hari, mereka pasti bisa melihat cahaya lampu mercusuar yang bagai senter raksasa.


Aktifitas di pelabuhan Coron tidak terlihat sesibuk seperti yang terlihat di pelabuhan-pelabuhan indonesia. Siang itu, pelabuhan hanya di penuhi kapal-kapal kargo besar. Hanya kegiatan bongkar muatan yang terlihat.


Tidak jauh dari pelabuhan, terdapat pusat perdagangan yang di sebut Ciudad, masih tersisa puluhan bangunan bergaya Spanyol serta satu benteng bernama Vieja yang tidak di rusak Jepang ketika mengambil alih Filipina.


Bapak Andipati berbaik hati menjelaskan seluruh detail kota Coron kepada anak-anak. Walau tak mengajar, ia mengajak mereka ke dek terbuka. Setelah asyik memperhatikan kota dari dek kapal, anak-anak menuju kantin.


Kapal Karel Ambo hanya berhenti enam jam di pelabuhan Coron untuk menaikan penumpang. Jadi tidak ada penumpang yang berniat turun.


"Kalian baru selesai sekolah?" Saleh yang bertemu rombongan anak-anak di pintu kabin bertanya, menatap mereka yang masih membawa buku dan alat tulis.


"Sudah selesai sejam yang lalu, Tuan." Bapak Andipati menjawab, tersenyum, "Mereka penasaran sekali dengan pulau ini, jadi aku menemani mereka di dek kapal, menjelaskan tentang kota Coron. Dulu aku pernah menetap di kota ini selama enam minggu."


Saleh mengangguk, menatap anak-anak, "Apakah kalian sudah di ceritakan tentang makanan lezat kota Coron?"

__ADS_1


Anak-anak menggeleng.


Makanan apa Kak, Saleh? Robin bertanya penasaran.


"Banyak, Robin. Sayangnya kita berlabuh hanya enam jam. Jika sepanjang hari, aku bisa mengajak kau makan siang di luar. Mungkin nanti, jika kita berlabuh di Manila. Kalau cuaca cerah, insya Allah ku ajak makan kau di luar." Saleh tertawa melihat wajah berbinar Robin.


"Benarkah?" Kakak Saleh berjanji? Robin sudah bersemangat.


"Kita lihat nanti, Robin."


"Kalau begitu Kakak harus berjanji." Robin kekeh pada pendiriannya.


Robert di sebelahnya langsung menyikut Robin, menyuruhnya agar bersikap sopan.


Saleh tertawa, " Kakak tidak bisa berjanji, Robin. Tapi insya Allah, Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok lusa."


Robin cemberut, hanya mengangguk sok paham soal makan insya Allah.


Selesai makan. Robert menarik tangan Robin keluar kantin. Khawatir tentang kondisi Kakak Mei, kakaknya itu apa masih mual? Sementara Saleh memperhatikan langkah dua-adik kakak itu sampai menghilang di balik pintu.


"Mang, Kota Manila masih berapa jauh lagi?" Robin bertanya ke Mang Jajan saat mereka sudah duduk di kursi sofa. Mang jajan tengah menikmati secangkir kopi.


"Kalau kita berangkat sesuai jadwal nanti sore, mungkin lusa sore kita sudah tiba di sana, Tuan."


"Kenapa kau bertanya?" Mei buka suara.


"Kakak Saleh bilang, dia akan mengajak Robin makan di kota Manila." Robin menjawab santai


"Hah?" Kening Mei terlihat, " Bukan kau yang memintanya bukan?"


"Tidaklah, Kak." Robin menggeleng, " Kakak Saleh yang mengajak sendiri. Katanya insya Allah, iyakan Robert?" Robin mengangkat bahu.


Wajah Mei nampak serius, " Tidak usah merepotkan, Robin. Jangan membuat masalah."


"Masalah apa, Kak. Bukannya kami cuman akan pergi makan siang."

__ADS_1


"Apa kau lupa kejadian tadi pagi? Kakak Heiho sudah cukup marah, jangan membuat ia punya alasan untuk semakin marah. Apalagi dia tidak suka Kakak Saleh yang seorang pribumi." Robert mengingatkan.


Robin berdiri tegak. Ia lupa hal itu. Ia sangat ingin pergi. Tapi baiklah, mengangguk-angguk mengerti.


Baru saja di bicarakan, ketukan pintu di susul suara barat Sersan Heiho terdengar dari depan kabin. Ke tiga adik-kakak itu saling pandang, apalagi kali ini?


Mei memberi perintah kepada Mang Jajan lewat tatapan mata untuk segera membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Heiho masuk langsung mengambil tempat duduk di samping Robin dan Robert. Sementara dua tentara Jepang yang tadi ia suruh menjaga Mei, bersiaga depan pintu kabin dari pagi tadi.


Kabin menjadi lenggang beberapa saat.


"Aku ingin bertanya sekali lagi, siapa ayah dari anak dalam kandunganku?" Sersan Heiho menghela nafas, berbicara dengan nada sepelan mungkin. Ia mencoba untuk tidak emosi.


Mei kembali menunduk.


"Kau sungguh tak ingin menjawab?"


"Dia hanya anakku, Kakak. Dia tidak memiliki ayah. Hanya itu yang dapat aku katakan kepadamu. Kau boleh melakukan apa saja padaku, tapi jangan mengungkit tentang ayah dari anak dalam kandunganku." Mei menjawab panjang sekali.


"Biar ku tebak, pria itu pasti seorang neitubu." Heiho tersenyum mengejek melihat respon tubuh Mei yang seperti menyetujui ucapannya.


"Dia pasti seseorang yang aku benci."


Tubuh Mei bergetar hebat sebagai reaksi dari perkataan Heiho. Sepertinya, sepupunya itu tahu sesuatu.


Sersan Heiho terkekeh kecil, "Jadi benar? Aku lebih suka dengan bahasa tubuhmu yang jujur daripada mulutmu yang selalu diam." Heiho berkata datar.


Mei menunduk, kembali tidak bereaksi.


"Seseorang melaporkan padaku kalau beberapa kali melihatmu dengan pria berbahaya dari Batavia?"


Mei diam, tidak menjawab.


"Bicaralah, Mei. Apa perlu ku tembak mati pria bernama Saleh itu baru kau mau buka suara."


"Jangan." Mei menggeleng cepat kuat-kuat.

__ADS_1


__ADS_2