
"Hanya itu saja? tidak bisa. Jika cuman begitu, kamu tetap di untungkan. Bagaimana jika kamu masih menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku."
"Lalu kau ingin apa? Membunuhnya? Tidak, jangan sampai kau lakukan itu." Teriak Mei, mulai kehilangan kesabarannya. Berbicara dengan Heiho sangat menguras emosi.
"Minta dia menceraikan mu. Tidak ada bantahan. Jika dia tidak mau, ketika sampai Manila, aku akan memulangkan kau dengan kapal lain ke Batavia. Biarkan ayah dan ibumu yang memutuskan hukuman yang pantas untukmu."
"Tapi dalam agamaku, perempuan hamil muda tidak bis_"
"Aku tidak perduli, Mei. Bagaimanapun kalian harus bercerai di depanku." Sela Heiho sambil berdiri dari kursi, "Aku beri waktu untukmu berfikir. Kau tau bukan aku orang tidaknya sabaran, jadi berpikirnya jangan lama. Kalau kau sudah siap. Bawa Saleh serta para saksi dan juga Walimu kemari, dan lakukan perceraian sesuai agamamu. Jangan coba-coba menipuku atau berfikir hal-hal untuk menentangku." Heiho keluar dari kabin.
.
.
.
Kapal masih terlambat di pelabuhan Coron hingga beberapa jam ke depan.
Setelah selesai sholat Ashar, anak-anak belajar mengaji dengan Ibu Anna di musholla. Saleh baru terlihat di dalam musholla, menemani anak-anak yang sedang bergilir menyetor bacaan.
Saleh tak tau menahu tentang percakapan Mei dan Heiho, begitu juga Robin dan Robert. Kedua kakak-adik itu, langsung keluar dari kabin untuk pergi bermain ketika mengetahui Heiho datang. Keduanya tak ingin mendengar apalagi terlibat dalam percakapan orang dewasa, apalagi Heiho suka sekali membentak, membuat keduanya semakin tak suka berada dalam satu ruangan dengan Sersan itu.
Setelah semua anak-anak selesai menyetor, Saleh mengambil alih kelas mengaji. Ia menawarkan untuk bercerita tentang kisah orang paling mulia di dunia. Anak-anak tentu saja suka mendengar cerita. Mereka beringsut duduk lebih rapat.
__ADS_1
Sambil tersenyum, mulailah Saleh bercerita tentang masa kanak-kanak nabi Muhammad. Saleh telah terbiasa menjadi seorang pembicara yang telah lihai menghadapi banyaknya pemuda-pemudi, baginya membuat ceritanya terdengar indah namun seru tak susah.
Robin bahkan tidak sadar menahan napas ketika Saleh tiba di bagian perjalanan ibu Nabi dan Nabi Muhammad mengunjungi makan ayah Nabi yang meninggal di Yastrib.
Mereka tinggal selama satu bulan di sana. Setelah itu, mereka memutuskan kembali ke Mekkah. Namun, dalam perjalanan yang letaknya antara Mekkah dan Madinah, Siti Aminah meninggal dunia karena sakit. Sehingga pada usia keenam Nabi menjadi yatim, dan di asuh oleh pamannya Abdul Muthalib. Itu bagian yang membuat Robin sedih. Robert yang biasanya acuh tak acuh juga terdiam, ikut menunduk sedih.
Lepas bercerita, Saleh menyuruh anak-anak menulis ulang kisah di buku tulis masing-masing, agar mereka bisa mengingatnya dengan lebih baik. Ia tersenyum senang melihat Robert dapat bergaul bebas dengan anak-anak seusianya dan dapat mendalami ilmu agama.
Walaupun Robert belum mau sholat apalagi menganut agama. Sebuah kemajuan besar sekarang ia telah masuk Al-Qur'an jus ke dua.
"Bagaimana kabar, kau?" Saleh menoleh, bertanya pada Ibu Anna, perempuan yang seumuran dengan Mei.
"Baik, Bang."
"Lancar, Bang. Mereka pintar dan patuh. Justru aku yang cemas, jangan-jangan cara mengajarku ada yang salah.'
"Aku perhatian, kau sudah mengajar dengan baik, Anna. Aku hanya ingin memastikan apa kau kesulitan mengajar anak-anak atau ada sesuatu yang kau butuhkan."
"Tidak ada, Bang." Ibu Anna menggeleng.
"Baguslah. Omong-omong, kalau tidak salah, kau belajar mengaji di pesantren palu? Sejak kapan?"
"Baru lima tahun terakhir, Bang. Itu juga pertama kalinya bagiku. Aku terlambat sekali mengenal agama." Jawab Ibu Anna, Perempuan berdarah China itu menjawab pelan, menunduk menatap karpet hijau musholla.
__ADS_1
"Tidak ada kata terlambat dalam belajar, Anna." Saleh menggeleng.
Ibu Anna ikut menggeleng. Ia sungguh terlambat. Baru usia dua puluh ketika cahaya agama menyentuh hatinya. Ibu Anna ragu-ragu ingin mengangkat kepala, ada sesuatu yang ingin sekali ia tanyakan kepada Saleh. Sebuah pertanyaan yang kau simpan sendirian selama bertahun-tahun. Ia punya kesempatan baik sekarang, menanyakan perihal itu kepada seorang pemuda berwawasan luas. Tapi mulutnya tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
"Kau naik kapal bersama siapa, Anna? Aku jarang melihatmu makan di kantin."
"Aku berangkat bersama suamiku, Bang. Kami biasanya makan di kabin. Kami memang jarang keluar kabin, hanya keluar saat sholat atau keperluan penting lainnya."
"Menurutku, sesekali kau perlu bergaul dengan orang lain, Anna. Mereka bisa jadi teman perjalanan yang menyenangkan. Apalagi kau seorang guru mengaji, setidaknya kau harus mengenal orang tua dari murid yang kau ajar."
"Maaf, tapi aku tidak nyaman berada di keramaian, Bang." Ibu Anna berkata pelan, masih menunduk. Tentu bukan itu saja alasannya. Ibu Anna masih menyembunyikannya.
"Baiklah, aku faham. Beberapa orang memang mungkin lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Akan tetapi, bagi anak-anak jika kau mengenal orang tua mereka, dan orang tua mereka bisa mengenal guru mengaji mereka itu akan baik bagi semuanya." Saleh tersenyum, "Jadi, kalau kau tidak keberatan, ajaklah suamimu makan bersama di kantin sesekali."
Ibu Anna terdiam, masih menatap karpet.
"Baik, Bang. Insyaallah, malam ini kami akan makan di kantin." Akhirnya ibu Anna setuju. Suaranya terdengar bergetar.
Inilah alasan utama kenapa sore itu Saleh mengajak Ibu Anna berbicara.
"Baik, anak-anak. Siapa yang sudah selesai duluan? Ada yang bersedia membaca tulisannya?" Saleh sekarang menoleh ke anak-anak yang sebagian masih sibuk menulis.
Robin dengan semangat langsung mengacungkan tangannya ke atas tinggi-tinggi.
__ADS_1