
"Bagaimana kondisinya?" Saleh bertanya pelan. Mengepalkan tangannya di bawah, apa yang sebenarnya terjadi pada kawannya itu
"Aku belum tahu. Dokter masih memeriksanya, Saleh. Kita hanya bisa berharap yang terbaik sekarang." Kapten Diego menggeleng.
Di ruang perawatan juga sudah tiba Chef Ruben, yang baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi, "Dia di temukan dimana?" Tanya Chef Ruben.
"Ditemukan di ruangan kecil dekat cerobong asap. Melihat dari kondisinya, Yusuf sepertinya sudah terjebak sehari semalam di sana atau mungkin lebih. Dengan kondisi terikat, serta mulut di sumpat, sehingga tidak bisa meminta bantuan."
Chef Ruben menghela nafas, mengusap rambutnya.
Lucas si awak kepala, orang yang terakhir tiba. Ia tergesa-gesa masuk ruang perawatan. Mendorong pintu kencang sekali, berlari, hampir menabrak Saleh dan Chef Ruben.
"Bagaimana kondisinya? Bagaimana?" Lucas dengan nafas yang masih tersengal sudah bertanya. Ia baru saja mendapat kabar tentang Yusuf, hingga bergegas berlarian dari kabin.
"Jesus Christ, Lucas." Kapten Diego melotot, "Tindakanmu dapat menggangu pekerjaan dokter dengan seluruh keributan yang kau buat."
"Maaf, Kapten. Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Lucas berusaha mengatur nafasnya kembali. Yusuf adalah teman sekabinnya. Walaupun Yusuf dengannya selalu terkesan diam, tapi dia menghawatirkan pria itu. Bahkan seharian kemarin, ia sudah dua kali menyisir seluruh bagian kapal, demi mencari di mana Yusuf. Hingga putus asa, menyimpulkan bahwa awak baru itu tertinggal di Manila.
"Dokter masih memeriksa, Lucas. Kita juga belum tahu." Chef Ruben menjelaskan.
Sebenarnya, kalau saja situasinya lebih baik. Chef Ruben hendak tertawa. Lihatlah, si awak kepala itu hanya mengenakan celana pendek sepaha dan kaos dalam tanpa lengan. Lucas rupanya belum sempat berganti pakaian, langsung bergegas ke sini.
Sepuluh menit kemudian, dokter menyibak tirai keluar. Ruang perawatan itu lebih dari memadai. Ada ruang emergency, dipan-dipan rawat inap, laboratorium, dan juga perawat yang bertugas dua puluh empat jam selama perjalan. Kapal Karel Ambo adalah salah satu kapal penumpang yang memiliki perlengkapan dan tenaga medis terbaik zaman itu.
"Bagaimana Tuan Bram?" Saleh lebih dulu bertanya pada dokter Belanda itu?
"Dia kelelahan. Terkena radang tenggorokan serius dan demam. Kondisi tubuhnya memburuk tanpa perawatan. Terlambat satu atau dua jam di bawah ke sini, mungkin dia sudah tidak tertolong lagi. Tapi sekarang semuanya sudah terkendali. Fisiknya tangguh, di atas standar, menganggukkan. Ia hanya butuh istirahat tiba hari."
"Syukurlah kalau begitu dokter."
Dokter mengangguk, "Aku akan meninggalkannya sebentar dengan perawat. Kalian lihat, aku bahkan belum mencuci muka saat pintu kabin ku di gedor tadi."
Lucas terlihat menghela nafas lega mendengar penjelasan dokter. Saleh menyeka pelipisnya yang sudah berkeringat sepagi ini.
__ADS_1
Belum ada yang bisa membesuk Yusuf. Perawat masih merang siapapun menemuinya. Yusuf sedang tertidur lelap, butuh banyak istirahat.
Suara peluit tanda makan pagi terdengar kencang. Chef Ruben sudah pergi duluan ke kantin. Lucas dan Kapten Diego kembali ke kabin istirahatnya masing-masing, meninggalkan Saleh sendiri yang katanya akan menunggu Yusuf.
Kapal tidak berhenti lama, hanya menaikkan penumpang. Biasanya tak banyak penumpang yang berangkat dari San Fernando. Yang membuat menunggu adalah memasukan puluhan ton batu bara di lambung kapal. Belasan butuh angkut terlihat memikul karung-karung besar.
.
.
.
Kabar tentang Yusuf yang ditemukan di ruang kecil menyebar dengan cepat. Mei mendengar dari salah satu awak yang bertugas berjaga di meja gelas dan cerek-cerek, itulah alasan kenapa Saleh pergi ke ruang perawatan tadi.
"Ada apa, Kak?" Robin bertanya penasaran saat mereka tiba duduk di meja.
"Abang Yusuf di sakit, Robin."
"Om Yusuf?" Mata Robin membulat sempurna, "Aduh kasihan." Wajah Robin berubah sedih.
"Itu om yang memberi aku dan Robin teh jahe?" Robert bertanya, tertarik.
"Iya, itu om Yusuf." Mei mengangguk.
Di meja itu sudah ada Eyang Ran dan Eyang Putri, Bapak Hatta, Bapak Andipati, dan rombongan dari kesultanan Riau. Asyik bercakap tentang Kota-kota di Filipina, Negara tempat kapal berada sekarang.
"Aku baru tahu" Eyang Ran tiba-tiba ikut bicara. Membuat yang lain ikut menoleh.
"Baru tahu apa, Eyang?" Robin bertanya.
"Aku baru tahu kalau ada tempat berna Yusuf. Ah ternyata dunia ini luas sekali. Nama tempat itu seperti nama orang."
Robin menepuk dahi, aduh! Ini pasti gara-gara sebelumnya satu meja tengah membahas tentang Kota-kota di Filipina, lalu tiba-tiba pindah soal Yusuf. Eyang Ran yang pendengarannya terganggu jadi tidak nyambung.
__ADS_1
Meja panjang itu ramai oleh tawa.
"Lucu sekali nama tempat itu bukan? Kalian saja sampai tertawa mendengar nama tempat itu. Yusuf." Eyang Ran berkata dengan yakin, sambil menyendok nasi goreng.
Robin dan Robert berangkat ke sekolah sementara setelah selesai sarapan. Berlari-lari kecil sepanjang lorong. Sempat berhenti sejenak di dek terbuka. Menatap kesibukan dermaga, menatap tumpukan batu bara yang bagai bukit kecil berwarna hitam.
Robert kemudian mengingatkan adiknya jika mereka bisa terlambat. Robin mengangguk, keduanya melanjutkan perjalanan. Kalau bisa memilih, Robin lebih suka menonton bongkar muat di dermaga pagi ini di banding pergi ke sekolah.
"Eh, kita mau kemana?" Tanya Robin yang baru tiba di kelas, menatap bingung pada anak-anak yang beranjak keluar."
"Kita akan belajar langsung dari alamnya, Robin. Kalian pasti suka." Bapak Andipati tersenyum.
Sepertinya nasib baik sedang berpihak padanya. Bapak Andipati yang mengajar ilmu pengetahuan lam di jam pelajaran pertama, justru mengajak anak-anak keluar dari ruangan kelas.
Mereka turun dari kapal. Guru mereka menemui awak di meja dekat anak tangga, menjelaskan tujuan mereka dalam bahasa Belanda yang fasih. Awak itu menatap wajah antusias anak-anak. Berdiskusi sebentar dengan temannya, dan akhirnya mengangguk.
Awak itu menarik selembar kertas, kemudian mencatat nama dua belas anak-anak itu. Memberikan izin turun selama satu jam.
Bapak Andipati mengajak anak-anak mendekat ke tumpukan batu bara. Pagi itu pelajaran mereka tentang mineral dan tambang. Bagaimana proses penambangan dilakukan, mulai dari penyelidikan lokasi, hingga alat-alat yang di datangkan. Kemudian, hasil bumi di bawa oleh kapal ke seluruh dunia.
Satu jam pelajaran yang tak terasa. Robin dan teman-temannya bahkan diperbolehkan membawa bongkahan batu bara oleh petugas pelabuhan, setelah bapak Andipati meminta izin.
Persis ketika waktu yang di berikan oleh awak di meja dek habis, mereka kembali naik ke atas kapal.
Masih ada pelajaran kedua, yaitu ilmu pengetahuan sosial. Anak-anak kembali ke ruangan sekolah sementara mereka. Lanjut memperhatikan peta besar yang di pinjamkan Kapten Diego kepada mereka. Tengah belajar letak geografis dunia.
Saat Robin dan teman-temannya sedang membereskan buku tulis, hendak memasukkan ke dalam tas. Saat itu juga peluit berbunyi nyaring. Itu tanda bahwa kapal akan kembali berangkat.
Anak-anak bersorak riang. Dalam sekejap sudah berada di lorong. Mereka saling berebut berlari satu sama lain secepat mungkin ke dek terbuka. Ingin menonton proses keberangkatan kapal. Mereka tertawa-tawa saling mengejar, kemudian menaiki anak tangga.
Dek telah ramai oleh penumpang lain. Seperti biasa, mereka melambaikan tangan ke arah dermaga. Ada puluhan sanak-kerabat dan penduduk setempat yang juga ikut melepaskan keberangkatan kapal. Buruh angkut batu bara berhenti bekerja sejenak, ikut menonton. Juga nelayan-nelayan di perahu kertas masing-masing.
Robin ikut melambaikan tangan berseru-seru, "Selamat tinggal semua! Bapak! Ibu! Kakek! Nenek! Doakan perjalanan kami lancar."
__ADS_1
Robert tertawa melihat wajah serius adiknya. Mereka tengah mengulang ritual setiap kali kapal berangkat yaitu berpura-pura mengenal para pengantar yang sedang melambaikan tangan di dermaga.
Minggu ke sembilan perjalanan, pukul dua belas siang kapal Karel Ambo meninggalkan pelabuhan San Fernando. Dengan cepat, barisan pohon kelapa tertinggal di belakang. Juga bukit-bukit yang hijau permai. Kapal menuju pemberhentian selanjutnya, kota Vigan.