
Di dalam kereta kuda, meski ingin, namun Robin dan Robert tidak berani bertanya-tanya. Mei juga ikut diam, hanya memperhatikan jalanan, merasa tidak sopan jika ia memperhatikan Ibu Anna yang sedang menangis kecil sambil tangannya menutup muka.
Orang dewasa seperti Mei bisa langsung menyimpulkan apa yang sedang terjadi dengan menebak-nebak. Tapi bagi Robin semuanya gelap, bahkan Robert yang biasanya paling bisa melihat situasi juga ikut tidak faham. Mereka masih terlalu muda untuk memahami masalah orang dewasa.
Mei akhirnya angkat bicara. Itupun hanya singkat, "Aku akan meminta Abang Saleh mencari guru mengaji sementara untuk anak-anak. Istirahatlah sore ini, Ibu Anna."
Suami Ibu Anna mengangguk. Sementara Ibu Anna masih diam hingga mereka tiba di dermaga, menaiki anak tangga kapal.
Selepas kembali dari Oud Manila, Robin dan Robert bermain di dek kapal, menonton keramaian dari pinggir pagar, melupakan kejadian tadi. Mereka bergegas kembali ke kabin ketika adzan sholat Ashar terdengar. Mengambil peralatan sholat dan mengaji. Selesai sholat, berkumpul di mesjid menunggu Ibu Anna.
Lama, guru mengaji mereka itu tidak juga datang. Bosan menunggu, anak-anak mulai bermain di mesjid.
Mei belum sempat menyuruh Saleh mencari guru mengaji baru. Bukan karena ia lupa, melainkan karena Saleh belum juga balik ke kapal. Mei mulai khawatir. Di tambah ada kejadian kecil tapi serius di atas dek kapal, tempat penumpang baru naik. Kapten Diego meminta Mei datang kesana, membantu menerjemahkan percakapan. Ada beberapa penumpang yang ketahuan menggunakan surat menyurat orang lain saat naik kapal.
"Maaf merepotkan Lady. Yusuf, awak baru kami yang bisa berbahasa Belanda sekaligus Bahasa Filipina tidak ada di kabin sejak semalam." Kapten Diego menjelaskan.
Apalagi ini? Kenapa Yusuf juga ikut-ikutan menghilang.
Awak yang bertugas di meja kecil tempat penumpang menyerahkan dokumen perjalanan mereka, menemukan dua penumpang yang foto di dokumennya berbeda dengan aslinya. Dua penumpang itu ngotot tetap ingin naik kapal.
Salah satu penumpang beralasan jika fotonya itu foto lama. Yang satunya lagi mengaku ia menggantikan saudaranya yang tidak bisa berangkat. Meja itu semakin kacau karena Tentara Jepang anak buah Sersan Heiho yang bertugas menjaga di dek, hendak langsung menangkap dua penumpang itu. Para tentara Jepang itu berseru-seru bilang bahwa penyalahgunaan dokumen itu melanggar aturan atas wilayah kekuasaan Jepang.
Tidak bisa mengendalikan situasi situasi, salah satu awak memanggil Kapten Diego. Yang kemudian memanggil Mei datang menjadi penerjemah sekaligus membantu menjelaskan kepada dua penumpang itu tentang pentingnya kesesuaian dokumen.
Sementara di mesjid, Robin berdiri di pintu, menatap keluar.
"Kita kembali ke kabin saja, yuk!" Salah satu temannya memberi usul.
Sebagian anak-anak mengangguk.
"Ini sudah lewat setengah jam, tapi Ibu Anna tidak juga datang. Aku akan pulang duluan." Salah satu anak dari rombongan yang naik dari pelabuhan Labuan menyerah. Yang lain ikut merapikan peralatan, menyusul kembali ke kabin. Meninggalkan Robin dan Robert.
__ADS_1
"Fiuh.." Robin mengeluh pelan. Wajahnya kecewa. Ia akhirnya memasukan Al-Qur'an dan buku tulis ke dalam tas. Robert sudah sejak tadi menunggu adiknya di depan pintu musholla. Mereka melangkah di lorong, kembali ke kabin
Tapi ketika melewati anak tangga, Robin tiba-tiba berbelok.
"Eh, kau mau kemana, Robin." Robert bertanya.
"Aku mau ke kabin Ibu Anna." Robin menjawab.
"Buat apa?"
"Mencari tahu."
"Ingat, Kakak melarang kita bertanya-tanya, Robin." Robert mengingatkan.
Robin menggeleng, "Aku tidak akan bertanya-tanya, hanya ingin tahu, apakah Ibu Anna baik-baik saja atau sakit."
Tanpa menunggu persetujuan kakaknya, Robert sudah berlari duluan di lorong menuju kabin Ibu Anna.
Langkah kaki mereka justru terhenti di unjung lorong. Saat berbelok, hampir bertabrakan dengan Saleh.
"Kalian hendak kemana buru-buru hingga tidak melihat jalan." Saleh mengusap wajahnya. Ia kaget, dua bocah laki-laki itu tiba-tiba saja muncul di depannya.
"Ini karena Robin, Kakak Saleh. Dari tadi dia terus berlari." Robert melotot ke adiknya. Kami akan menjenguk Ibu Anna."
Saleh menggeleng, "Belum bisa sekarang. Ibu Anna belum mau di temui siapapun. Suaminya yang bilang begitu padaku tadi. Aku beru saja berbicara dengan suaminya."
"Yaa... jadi bagaimana?" Robin kembali kecewa, "Apa Ibu Anna tidak akan mengajar kami mengaji lagi? Lalu siapa yang akan mengajar? Sore ini saja kami sudah libur." Keluh Robin.
"Insyaallah besok sudah ada guru sementara yang akan mengajarkan kalian. Kakak yang akan mencari. Nah, sekarang kalian kembali saja ke kabin, jangan sampai Mei mencari kalian.
Robin dan Robert saling menatap sejenak. Robin mengangguk, baiklah. Mereka batal mengunjungi kabin Ibu Anna. Membalikan badan, berjalan bersama Saleh di lorong. Kembali ke kabin mereka masing-masing.
__ADS_1
.
.
.
Proses menaikkan penumpang di pelabuhan Manila terlambat sekali, baru selesai ketika matahari bersiap tenggelam. Masalah dokumen yang di salahgunakan tadi berlangsung hingga berlarut-larut, membuat penumpang lain jadi tertahan.
Berbeda dengan kasus mesin rusak di Labuan, kali ini Kapten Diego tidak bisa lagi menunda keberangkatan. Jadi ia mengambil keputusan tegas kepada dua penumpang tersebut. Entah apa nanti reaksi Sersan Heiho. Kapten Diego memutuskan kapal harus segera berangkat.
Ada empat ratus sepuluh penumpang yang naik dari pelabuhan Manila. Tiga Ratus dua puluh adalah laki-laki, sisanya perempuan. Meski jumlah mereka banyak, tapi hanya ada dua anak-anak perempuan di antara mereka.
Saat Kapten Diego memerintahkan anak tangga segera di tarik, saat itulah seorang tentara Jepang berteriak kepada Kapten Diego, menyuruh menurunkan kembali tangga.
Seorang Sersan Kepala bernama Akio berjalan mendekat, menjelaskan bahwa ia telah pencarian Sersan Heiho di seluruh kapal. Namun, Sersan mayor itu tidak di temukan di manapun. Berasumsi bahwa Heiho belum kembali naik ke atas kapal.
Akio mendesak Kapten Diego untuk menunda keberangkatan hingga Sersan Heiho di temukan.
Kapten Heiho jelas tidak setuju dengan permintaan Akio. Hingga terjadi perdebatan panjang antara Kapten Diego dan Sersan Kepala Akio mengenai keberangkatan kapal.
Kira-kira pukul 19.00, para tentara Jepang lainnya datang. Menodongkan senjata ke arah Kapten Diego, mengancam Kapten tersebut, “Jika Kapten tidak menghentikan keberangkatan kapal, akibatnya mungkin akan terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar – besaran malam ini."
Syukurlah Mei datang tepat waktu. Ia mendengar apa yang para tentara Jepang itu lakukan, “ Turunkan senjata kalian!" Hardik Mei ketika baru sampai di tempat.
"Sersan Akio, Kita sekarang bukan berada di atas kapal perang. Tujuan kalian naik kapal ini adalah menemaniku perjalanan keluargaku hingga tiba di Jepang. Jadi, jangan membuat kekacauan di atas kapal ini."
"Tapi nona, Sersan Heiho belum kembali ke atas kapal."
Mendengar hal itu Mei cukup terkejut, namun dengan cepat kembali bersikap biasa saja, "Jika memang seperti itu, mengapa kalian tidak turun kapal dan mencari Sersan Heiho itu sendiri? Mengapa harus menyuruh satu kapal menunda keberangkatan?"
"Tapi Nona."
__ADS_1
"Kau ingin turun, Sersan Akio? Jika tidak biarkan Kapten Diego menjalankan tugasnya."