
Kantin ramai oleh suara percakapan dan denting sendok.
Ada dua puluh empat penumpang dari pelabuhan San Fernando. Dua puluh laki-laki dan empatnya perempuan. Delapan belas orang dari penumpang itu adalah satu rombongan keluarga besar. Mereka membawa belasan peti-peti besar berisi perbekalan, menghuni dua kabin besar di lantai atas dek tengah.
Mereka adalah keluarga Leonardo, salah satu pedagang sukses dari San Fernando. Ada dua anak laki-laki seumuran Robert di rombongan itu.
Penumpang yang baru naik segera berbaur dengan jamaah lain. Jadwal makan siang adalah waktu terbaik untuk saling menyapa, berkenalan, dan bertanya tentang latar belakang. Selalu menyenangkan saat menemukan kecocokan satu sama lain, untuk saling menghargai perbedaan.
"Harga lada sedang baik-baiknya setelah sepuluh tahun turun drastis." Ada empat orang baru yang bergabung di meja makan rombongan Robin.
"Iya, semua harga komoditas turun sekali karena depresi besar di Amerika tahun 1930. Tapi sekarang sudah jauh lebih baik." Mei membalas, jelas menemukan kecocokan dalam topik yang di bicarakan penumpang baru itu.
Mereka adalah petani besar yang memiliki ladang lada putih belasan hektar di pedalaman San Fernando.
"Apa harganya masih mungkin terus naik, Lady?" Salah satu petani itu bertanya, menyadari kalau orang yang sedang mereka ajak bicara itu pasti tahu banyak soal harga hasil bumi.
"Tergantung situasi dunia. Kalau perang kembali terjadi, harga barang pasti jatuh lagi. Kali ini mungkin bisa jadi lebih buruk daripada sebelumnya. Ekonomi dunia sangat tergantung dengan keamanan dan stabilitas politik. Tidak ada yang akan berdagang jika peluru melintas di atas kepala"
Petani itu diam. Topik yang meraka bahas sedikit sensitif untuk di bicarakan dengan putri seorang Jenderal besar.
"Doakan saja semoga tidak terjadi perang, Pak." Mei tersenyum, mencoba menghibur.
Robin memutuskan menghabiskan makanan dengan cepat. Ia sama sekali tidak tertarik dengan topik pembicaraan orang dewasa. Apalagi di meja mereka tidak ada Eyang Ran dan Eyang Putri yang biasanya kadang bisa membuat suasana menjadi meriah. Pasangan sepuh itu makan di kamar, beristirahat.
Robin kembali ke kabi setelah makan siang. Lepas dari teluk San Fernando, ombak lebih tinggi di bandingkan sebelumnya. Kapal bergoyang.
Mei melarang mereka bermain di luar meski cuaca cerah. Dua kakak-adik itu tidak banyak protes, mengalihkan perhatian mereka dengan mengerjakan PR. Saleh lagi-lagi ada dalam kabin itu. Ia sedang duduk termenung. Tidak banyak pilihan yang bisa dikerjakan, radio dan televisi masih menjadi barang super langka waktu itu.
Mereka baru keluar kabin saat adzan Ashar terdengar.
Robin menyiapkan peralatan mengaji, berharap sore ini Ibu Anna sudah kembali mengajar. Robin dan Robert berpapasan di tengah kabin antara Musholla dan Katedral dengan dua anak laki-laki yang baru naik dari pelabuhan San Fernando itu. Kedua anak itu sedang menuju katedral.
Bukan Ibu Anna yang mengajar, melainkan Saleh.
__ADS_1
Sore itu, Saleh memutuskan mengajar sendiri anak-anak. Robin senang dengan guru sementaranya. Berharap setelah semua anak menyetor bacaan, mereka akan mendengarkan cerita lagi seperti terakhir kali Saleh ikut mengajar.
Tapi sayang sekali, setelah teman terakhirnya menyetor bacaan, Saleh langsung menutup pelajaran. Ia berpesan agar anak-anak sering berlatih membaca Alquran di kabin, agar semakin lancar.
Wajah Robin terlihat kecewa.
"Kau mau ikut denganku, Robin?" Saleh sudah berdiri, siap meninggalkan Mushollah.
"Ikut kemana Kakak Saleh? Asyik. Wajah Robin kembali Riang.
"Kita akan menjenguk Om Yusuf. Kau juga bisa ikut Robert kalau mau."
Jadilah, mereka bertiga melewati lorong-lorong. Menuruni anak tangga, berbelok dua kali, melewati ruang jahit, hingga tiba di depan ruang perawatan.
"Permisi." Saleh membuka pintu, menyapa.
Terdengar jawaban pelan dari, itu suara Perawat. Yusuf terlihat masih terbaring lemah di atas dipan, tak sadarkan diri. Perawat berjalan mendekat ke arah pintu.
"Baik, tidak masalah." Saleh tersenyum, " Tapi dia baik-baik saja, bukan?
"Iya, Tuan Yusuf baik-baik saja. Hanya perlu istirahat."
"Baiklah kalau dia baik-baik saja. Tolong nanti beritahukan kepadanya jika aku datang, jika dia sampai berfikir aku tidak menjenguknya, dia pasti akan merajuk." Saleh terkekeh, bercanda.
Hanya itu yang di lakukan Saleh, berbicara di depan pintu ruang perawatan. Robin menatap tidak mengerti. Ini sih, sama seperti awak kapal yang sedang mengantar makanan, hanya sampai di pintu masuk, tidak masuk. Apanya yang menjenguk?
Saleh kembali menutup pintu ruang perawatan dari luar, "Ada apa Robin?" Saleh tertawa melihat wajah Robin yang kelihatan kesal.
"Hanya begitu saja?" Robin akhirnya angkat bicara. Mereka sudah berjalan kembali di lorong.
"Iya. Memangnya tadi kau berharap apa Robin?" Saleh nyengir, menurut ekspresi wajah Robin yang suka sekali melakukannya setiap kali bertengkar dengan kakaknya.
"Eh," Robin jadi bingung sendiri, memangnya tadi dia berharap apa?
__ADS_1
"Mungkin maksud Robin kenapa kita tidak masuk ke dalam, Kakak Saleh? Duduk di dalam, melihat keadaan Om Yusuf. Mungkin menghibur dia agar tidak terlalu merasa sakit."
"Om Yusuf belum bisa di temui, Robin. Hal terbaik yang bisa kita lakukan agar dia cepat sembuh adalah membiarkan dia beristirahat yang cukup. Begini saja, memangnya kalau kau sakit apa yang paling kau perlukan?"
"Tentu saja istirahat, Kakak Saleh. Dia kalau sudah sakit. Seluruh rumah kacau balau. Kucing peliharaan Ibu saja tidak bisa mendekatinya." Robert menjawab, tertawa.
"Iya, Kakak Robek. Iya" Robin nyengir, selalu punya cara membalas kakaknya.
Lorong kapal itu mendadak menjadi lokasi pertengkaran. Robert hendak mencubit adiknya membuat Robin berlari menjauh.
"Sudah Robert." Saleh tertawa, "Hei, sudah hentikan."
Robert mengehentikan kejarannya.
Robin tetap siaga menatap kakaknya. Siapa tahu nanti Robert tetap mencubitnya meski Kakak Saleh sudah menyuruhnya berhenti.
"Baiklah, sebagai gantinya. Bagaimana kalau kalian menghabiskan waktu sepanjang sore di kabin milikku?"
Robin dan Robert mengangguk cepat, serempak.
"Kalau begitu, kembalilah dulu ke kabin. Katakan pada Mei jika kalian akan ke kabin ku. Cepatlah. Aku punya pempek Palembang. Ada penumpang yang baru naik, mereka berasal dari Palembang yang menetap di Filipina. Membagikan satu kantong besar. Terlihat lezat.
Belum habis ucapan Saleh, Robin dan Robert sudah bergegas lari menuju kabin mereka.
Saleh, Jack Karaeng tertawa lebar melihat dua bocah kecil itu. Dua adik laki-laki dari istrinya itu benar-benar bisa menjadi penghibur terbaik di seluruh kapal.
Saleh kembali terdiam, jadi teringat Yusuf. Ia mengepalkan tangannya kuat
Siapa yang sudah mengikat dan memasukan Yusuf ke dalam ruang kecil itu? Sampai sekarang Saleh belum menemukan titik terang siapa musuh kawannya itu.
Saleh tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali belum pernah berbincang langsung dengan Yusuf.
Satu hal yang pasti. Ia tidak akan diam saja jika mengetahui pelakunya.
__ADS_1