
Hari ke dua perjalanan.
"Bangun, Robin. kamu mau ikut sholat di mesjid atau tidak." Robert berusaha membangunkan adiknya dengan menjawil-jawil telinga Robin.
"Sholat apa?" Tanya Robin dengan mata yang masih tertutup.
Robert menahan tawa, "Sholat subuh, Robin. Kamu tidur tidak bangun-bangun sepanjang malam, pagi hingga siang sampai malam lagi seperti beruang kutub." Ledek Robert.
"Jangan ganggu adikmu Robert." Mei memperingatkan "Ayo bergegas Robin. Kalian sudah baikan bukan? kita akan sholat subuh di mesjid kapal bersama."
Robin mengangguk. Beranjak turun sambil melotot pada Robert. Ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Apa kamu juga ikut?" Robin bertanya.
"Tidak! Ya, emm, maksudku tidak. Aku tidak ikut masuk ke dalam, hanya menunggu di luar." Jawab Robert.
Robin hanya mengucapkan oh. dengan wajah masih basah berjalan mengikuti langkah kakaknya dan mang Jajan.
Lepas sholat subuh, seperti yang di bicarakan sebelumnya, Saleh mendirikan majelis ilmu. Hampir semua jamaah tua dan muda tetap di mesjid, termasuk Robin. Ia duduk di samping mang Jajan, memerhatikan serius tiap ucapan yang di keluarkan oleh pria yang sedang berbicara.
Saleh hanya membahas singkat persoalan agama, lalu memberikan kesempatan bertanya dua kali pada jamaah, kemudian menutup majelis tersebut.
"Saleh." Panggil Jajan maju ke depan mesjid setelah orang sudah bubar.
"Perkenalkan tuan mudaku, Robin."
Tanpa menunggu di perintah Robin maju ke depan menyalami tangan Saleh.
"Bukankah katamu ada dua bang?"
"Oh yang satunya menunggu di luar."
"Di luar?" Saleh bertanya karena merasa semakin bingung.
Bukannya menjawab, Jajan malah menggaruk kepalanya seperti orang bingung.
"Itu karena Robert belum mau belajar menjadi seorang muslim." Malah Robin yang menjawab.
Jawaban Robin membuat Saleh tertawa, kini ia faham. "Belum bukan berarti tidak bukan."
Robin mengangguk setuju.
__ADS_1
Panggilan dari Mei di depan pintu masuk mengalihkan perhatian ke tiga laki-laki itu. Robin dan Jajan segera bergegas berjalan ke arah Mei, sementara Saleh berdiri di tempatnya terpaku pada kecantikan Mei.
"Rupanya dia islam, dan dia cantik sekali dengan mukena itu." Saleh meninggalkan musholla dengan pikiran terbayang-bayang wajah Mei.
.
.
.
Pukul tujuh tepat, peluit kapal berbunyi nyaring dua kali. Tanda jadwal sarapan telah tiba. Penumpang keluar dari kabin masing-masing memenuhi lorong-lorong, sambil berbicara santai mereka berjalan menuju kantin.
Robin dan Robert sedang berdiri di dek terbuka dekat kabin, tengah asyik menatap kawanan burung laut dara yang terlihat tengah sibuk menangkap ikan. Ke dua kakak-adik itu nampak serius memperhatikan sampai tak memperdulikan seruan dari bi Siti untuk ikut sarapan.
Dua bocah laki-laki itu baru menoleh ketika kakaknya yang berseru dengan suara pelan namun terdengar menyeramkan. Akhirnya keduanya berlari kecil bergabung dengan rombongan mereka.
"Bibi tidak masak di kabin?" Robert bertanya.
"Tidak tuan." Bibi mereka menggeleng, "Tapi bibi membawa sesuatu kesukaan kalian untuk jaga-jaga jika kalian tidak menyukai masakan dapur"
"Ah kentang kering pedas." Robin berseru senang melihat isi kantong plastik yang bibinya bawa. Mereka memang membawa banyak makanan kering yang awet selama berminggu-minggu.
Kantin kapal sudah ramai, terlihat beberapa antrean. Mei menyapa beberapa orang melewatinya sementara Robin dan Robert sudah lebih dulu mengambil piring dan sendok lalu segera pergi ke barisan antrian mengambil makanan.
"Pagi om." Robin menyapa awak kapal yang bertugas di meja gelas-gelas dengan sok akrab.
Awak itu hanya membalas sapaan Robin dengan anggukan kecil. Lalu tanpa berbicara apapun kembali sibuk meletakan tambahan gelas-gelas, mengisi cerek yang kosong hingga kembali penuh.
"Memangnya kamu kenal dia?" Robert berbisik di belakang.
"Kenal yang kemarin memberikan kita minuman jahe, bukan?
"Tapi kamu di cuekin, kasihan." Robert sedang meledek adiknya.
"Siapa yang di cuekin, kamu tidak lihat tadi om-nya mengangguk?" Ucap Robin membela diri, "Mungkin om-nya sibuk, jadi dia terus bekerja."
Pagi itu menu sarapannya masih nasi goreng, tapi kali ini lauknya bukan ikan melainkan telur dadar, tempe, dan tahu. Ada juga kerupuk dan sambal terasi.
Rombongan keluarga Mei memilih meja dekat tiang. Di sana sudah lebih dulu duduk rombongan dari Kesultanan Riau. Rombongan mereka berenam, terdiri dari dua perempuan dan empat laki-laki, mereka sudah naik kapal itu lebih dulu dua minggu sebelumnya dari Riau.
Awalnya mereka tak terlalu menggubris sapaan ramah Mei, karena jelas perawakan wajah dan pakaian mahal milik Mei dan ke dua adiknya menunjukkan jika mereka adalah bangsawan Negara Asing.
__ADS_1
Namun itu tak berlangsung lama, karena pembahasan soal harga rempah-rempah yang Mei jelaskan. Lalu para orang dewasa itu juga mulai membahas tentang kabar kegagalan Gubernemen Maluku sampai di buat tiga provinsi baru, dan apa pengaruhnya atas perdagangan hasil bumi.
Sarapan pagi itu berlangsung lancar. Hingga tiba-tiba masuklah dua tentara Jepang beserta Lucas si Bōsun ke dalam kantin.
Kedatangan mereka menghentikan gerak tangan serta percakapan penumpang. "Mengapa tentara Jepang datang ke kantin? Apakah mereka hendak makan? Tapi bukannya mereka punya kantin sendiri?" Kira-kira seperti itu pertanyaan yang muncul dari raut wajah bingung orang-orang.
Lucas menatap ke sekeliling meja-meja, seperti mencari seseorang. Dan saat matanya melihat Mei, ia segera melangkah cepat, di ikuti oleh dua tentara Jepang di belakangnya.
Lucas tersenyum ramah saat tiba di depan meja milik rombongan keluarga Mei, dua tentara Jepang di belakangnya menunduk hormat, jelas tau siapa perempuan yang ada di depan mereka.
"Ada apa?" Tanya Mei tegas, ia nampak merasa terganggu dengan kehadiran 3 orang di depannya itu.
"Maaf menganggu sarapan anda Lady. Kapten Diego meminta anda ke kabin kerjanya." Lucas berbicara sopan dalam bahasa Jepang.
"Apa kamu tidak melihat jika aku sedang sarapan? Pergilah, sepuluh menit lagi aku ke sana." Jawab Mei.
"Bangō. Maaf nona tapi Gunsō Heiho meminta anda untuk ikut sekarang juga!" Salah satu tentara jepang menyela cepat, "Ada si pembuat onar Saleh juga di sana."
Ketegangan segera masuk melingkupi suasana kantin. Meski tak mengerti apa yang sedang para Jepang itu bicarakan, namun mereka jelas mendengar nama Saleh di sebut. Jelas hal itu mendatangkan bisik-bisik dari orang di sekitar.
Mei terdiam sejenak, berusaha menduga apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Apalagi ulah kakak kali ini." Gumam Mei pelan.
"Sersan Heiho yang meminta untuk segera diadakannya pertemuan. Mungkin sebaiknya Lady mengikuti kami sekarang." Ucap Lucas lagi.
"Ada apa kak?" Robin bertanya.
"Kalian berdua ingin ikut menemui kak Heiho atau tidak?" Tanya Mei ramah sambil mengusap kepala si bungsu.
"Kakak pergilah, kami akan melanjutkan sarapan kami." Robert yang menjawab, ia nampak sekali terlihat merasa terganggu.
Mei tersenyum, "Baiklah kalian lanjutkan sarapannya."
Sementara rombongan Kesultanan Riau menatap dua tentara Jepang itu tajam, mengingat bagaimana para penjajah itu menyiksa masyarakat pribumi. Seluruh perhatian penumpang kapal juga tertuju pada dua tentara Jepang itu.
Mei berdiri dari kursinya, mengangkat tangannya ke atas berusaha menenangkan situasi dengan berkata semua baik-baik saja, lalu mengambil langkah ke pintu kantin.
Lucas si kepala awak berjalan cepat, berusaha mendahului Mei, "Mari saya tunjukkan jalannya, Lady."
"Tidak perlu, aku sudah tau jalannya." Jawab Mei ramah.
Walaupun Mei kesal karena sarapannya di ganggu, tapi yang pasti ia mengetahui jika masalah ini tidak datang dari Kapten Diego atau pria bernama Saleh itu. Ini pasti ulah Heiho. Entah apa lagi masalahnya kali ini, hingga menganggu sarapan paginya.
__ADS_1