
Robin bangun pagi-pagi sekali. Semangat berangkat ke mesjid sholat subuh. Lagi-lagi pagi itu bukan Saleh yang menjadi imam mesjid, pria itu tak terlihat sama sekali.
Pria berusia sekitar empat puluhan yang menggantikan Saleh sedang membahas tentang tauhid. Robin tak terlalu mendengarkan, ia sibuk memikirkan baju baru.
Pagi itu menu sarapannya adalah bubur kacang hijau. Antrian penumpang terlihat riang, sepertinya banyak yang tak sabar keluar dari kapal melihat-lihat kota Labuan, hal itu dapat di ketahui dari percakapan beberapa penumpang.
"Selamat pagi, om awak." Robin menyapa Yusuf, ia sedang mengambil minuman bersama Robert.
"Pagi." Jawab Yusuf ramah, hari ini ia sedang senang.
"Hari ini aku akan pergi ke pasar Labuan." Ucap Robin bersemangat.
"Siapa?" Robert menyikut lengan adiknya.
"Apanya yang siapa?" Robin bertanya balik tak mengerti.
"Siapa yang tanya kamu?" Robert tertawa kecil.
Robin melotot.
Yusuf ikut tertawa melihat wajah jengkel Robin.
Mereka berdua lantas pergi ke meja yang sudah ada kakaknya di sana, tengah asyik berbicara dengan orang dari Kesultanan Riau. Mereka masih membahas tentang harga kopra, rempah-rempah.
Robin memperhatikan kakak perempuannya lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Dua hari ini tingkah kakaknya itu memang cenderung aneh, lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dari pada berbaur. Sungguh mencurigakan.
Lima belas menit kemudian, percakapan antar orang dewasa itu berakhir dengan sendirinya. Mei mengajak ke dua adik laki-lakinya kembali ke kabin untuk bersiap-siap.
Namun bukan Mei yang pergi bersama Robin dan Robert. Pukul sembilan pagi, Jajan bersama Robin dan Robert, sudah berdiri di dek kapal tempat anak tangga akan turun. Kakaknya Mei tak bisa pergi, alasannya ia tak enak badan.
Di depan tangga turun. Ada dua orang awak kapal yang bertugas mencatat nama-nama penumpang yang akan turun, juga ada dua orang tentara Jepang.
Walau tak pergi dengan Mei. Robin tetap semangat menuruni anak tangga, sambil menatap sekitar. Ia baru menyadari, ada banyak sekali calon penumpang yang bersiap naik atas kapal, ia lihat dari tangga yang berbeda.
__ADS_1
Setiap empat tahun sekali diadakannya piala dunia, penumpang dari Labuan biasanya yang paling banyak." Mang Jajan menjelaskan "Tapi masih kalah dengan jumlah penumpang dari Batavia."
"Oh ya?" Robert bertanya nampak tertarik.
"Iya. di Brunei juga terkenal dengan banyak pemeluk agama islam yang taat. Di sekitar sini ada ribuan pesantren, sekolah agama, dan organisasi keagamaan. Banyak ulama-ulama terkenal dari sini."
"Apa mereka sama terkenalnya dengan Bang Saleh, mang?" Robin bertanya, ia kesulitan berjalan di tengah banyaknya penumpang.
"Eh, itu tidak sama, Tuan." Mang Jajan tertawa, "Hati-hati nanti bajunya tersangkut, tuan. Bisakah Tuan Robert membantu menahan tangan Tuan Robin. Kalian jangan jauh-jauh, nanti tertinggal."
"Pasarnya masih jauh dari pelabuhan, Mang?" Robin bertanya lagi.
"Jauh, mungkin sekitar sepuluh kilometer lagi. Kota Labuan lebih luas dari Batavia tuan.
"Jadi kita anak apa ke sana, Mang?" Robert sekarang yang bertanya, "Apa kereta kuda?"
Mang Jajan menggeleng.
"Tidak jalan kaki kan, Mang?" Robin bertanya cemas. Berjalan kaki lima kilometer itu tidak mudah, walau untuk anak laki-laki sepertinya juga.
Sebenarnya dari tadi Robin sudah tertarik menatap sudut pelabuhan yang satu ini. Kenapa ada banyak orang berdiri du situ, seperti menunggu sesuatu. Padahal tidak ada kereta kuda atau mobil di sana, apalagi kapal laut. Tapi orang-orang tetap berkumpul di sana.
Suara teng-teng-teng pelan terdengar. Dari tikungan dermaga muncul sebuah kotak besar persegi panjang berjendela, ada belalai di atasnya, terkait di kabel-kabel panjang
"Benda apa itu?" Mata Robin membesar.
"Itu namanya trem. Kereta listrik." Robert yang menjawab, "Banda itu melintas melalui rel. Tenaganya dari listrik, dari kabel-kabel di atasnya.
"Bagaimana kamu tau?." Robin bertanya lagi, meragukan penjelasan kakaknya.
"Aku pernah naik kereta itu beberapa kali ketika mengikuti ayah dan ibu ke Surabaya. Kamu tidak tau, karena waktu itu kamu masih kecil."
Robin tak terima, hendak menyanggah ucapan kakaknya. Namun, "Ayo Tuan, nanti kita tidak kebagian tempat!" Mang Jajan berseru sambil menarik tangan keduanya.
__ADS_1
Robin menatap bagian dalam trem dengan seksama. Ia dan Robert kebagian tempat duduk, sementara Mang Jajan berdiri memegang pegangan di atas kepala.
"Seru bukan?" Robert berbisik.
Robin mengangguk cepat, ini seru sekali. Ia asyik menatap keluar jendela. Ada banyak mobil, kereta kuda, sepeda memenuhi jalan-jalan. Kesibukan kota Labuan sudah terlihat pagi itu, orang-orang dengan pakaian rapi, Tentara jepang, dan penduduk setempat.
Robert menyenggol lengan Robin, menunjuk ke depan. Robin segera menoleh. Ada trem lain berpapasan dengan mereka. Robin baru tau kalau ada dua jalur rel bersisian. Ia menatap trem itu hingga hilang di tikungan.
Sepuluh menit kemudian, trem yang mereka tumpangi berhenti di stasiun ketiga. Mang jajan dan Robert segera turun, di susul Robin yang masih berdiri di menatap trem yang baru saja ia tumpangi berjalan hingga hilang di ujung rel.
Robin tertawa. Ini pengalaman baru baginya. Naik trem amat menyenangkan, karena biasanya ia hanya naik mobil Jeep. Ia beberapa kali ingin naik kereta kuda, namun ayahnya berkata jika tunggangan seperti itu hanya untuk rakyat biasa.
Sayangnya bukan pengalaman naik trem yang paling di ingat robin hari itu, bukan juga saat ia berbelanja pakaian baru.
Pagi itu, pasar ramai oleh pengunjung lokal dengan pakaian setempat berbaur dengan orang Jepang. Kalangan pejabat dan bangsawan mengenakan baju yang rapi di antara rakyat biasa.
Ada banyak suku bangsa di sana, orang Melayu, bercampur dengan pedagang dari China juga beberapa pedagang dari India ada di sana. Beberapa tentara jepang terlihat patroli di gerbang yang ada pos tentara Jepang di situ. Para tentara itu berjalan membawa senapan dengan wajah galak.
Robin dan Robert berjalan membuntuti langkah Mang Jajan, keduanya tau jika mereka kini tidak berada di wilayah kekuasaan kedua orang tuanya. Walau begitu keduanya tetap memerhatikan sekeliling dengan rasa ingin tau yang luar biasa.
Mereka akhirnya tiba di bagian khusus pakaian, persis di tengah pasar. Mang jajan mengajak ke dua tuannya masuk ke dalam toko yang paling besar.
Setengah jam berlalu, Robin sudah menunjuk banyak pakaian yang ia suka. Sesekali bertengkar dengan Robert yang seperti biasa mendadak menjadi pengamat baju.
Pemilik toko merangkap sebagai kasir, seorang warga keturunan China, sempat berbasa-basi memuji pilihan Robin. Bilang berselera tinggi, tentu saja keduanya adalah bangsawan. Mang jajan membayar semuanya dengan uang lokal.
Lima menit kemudian, Robin membawa sendiri satu kantong besar berisi pakaian miliknya. Ia kekeh ingin membawa sendiri baju barunya, kesusahan menyibak pengunjung yang semakin ramai di dalam toko.
Saat Robin ingin melangkah mendekat Mang jajan, suara dentuman tiba-tiba terdengar keras dari arah gerbang pasar.
"BUUUM!"
Tiga tentara Jepang yang sedang berjaga langsung terpental. Tiga lainnya terkepal di dalam pos yang porak poranda.
__ADS_1
Itu suara granat.