
Poooonggg!!
Robin terlonjak kaget dari sofa ruang tamu kabin saat peluit kapal berbunyi.
"Hore!! Kapal berlabuh!"
Mereka semua sudah tahu saat sholat Subuh di mesjid tadi, menguping percakapan penumpang lain, kalau sebentar lagi kapal merapat di pelabuhan San Fernando.
Kalau mengikuti keinginan Robin, ia sudah berdiri di dek kapal. Menunggu disana, menonton proses kapal merapat. Namun, kakaknya menolak mentah-mentah hal tersebut.
Meski tidak hujan seperti kapal merapat di Manila, cuaca sekeliling masih gelap. Sambil menunggu, Robin menghabiskan waktu dengan membaca buku yang Ia pinjam dari Saleh. Robert sibuk belajar. Nanti siang mereka sudah masuk sekolah lagi setelah kemarin di liburkan.
Robin bergegas menuju jendela bundar kecil, ingin melihat keluar. Robert juga meletakkan buku yang sedang ia baca, berdiri di belakang Robin.
Sejak Sersan Heiho tidak ada di kapal, sejak saat itu pula Saleh selalu menyempatkan waktunya datang di kabin milik Mei. Walau masih ada tentara yang berjaga tapi tidak seketat dulu saat Heiho masih ada. Karena itu pagi ini, setelah selesai sholat Subuh, Saleh sudah berkunjung di kabin milik Mei.
Saleh berdiri, "Kalian mau ku temani menonton kapal berlabuh di dek atas?"
Kedua bocah kecil itu mana mungkin menolak.
Mei hendak protes, melarang.
"Tidak apa-apa. Tidak setiap saat mereka boleh bermain di luar kabin pagi-pagi buta begini. Aku akan menemani mereka. Kenakan baju tebal kalian, Robin, Robert. Di luar dingin."
"Atau kau mau sekalian ikut? Sudah tidak terlalu mual lagi setiap pagi bukan? Kita bisa sekalian menonton matahari terbit dari dek kapal. Itu pasti romantis sekali, meski tidak ada apa- apanya dibanding kisah Eyang Ran dan Eyang Putri." Saleh berbisik, menggoda Mei.
Mei hendak kesal karena adik-adiknya tidak mau menurut, di tambah pria yang di cintainya malah kompak membela mereka. Tapi itu tak berlangsung lama, Mei mulai berbuah pikiran. Ragu-ragu menatap suami rahasianya itu.
Adik-adik Mei belum tau jika Saleh dan Mei sudah menikah. Kunjungan Saleh yang hampir tiap hari ke kabin mereka dipikir sebagai bentuk persahabatan antar kakaknya dengan Saleh. Mang Jajan dan Bibi Situ sudah tau jika nona mereka sekarang adalah Istri dari Saleh.
__ADS_1
"Ayo, sayang atau kau akan di tinggal anak-anak." Saleh masih berbisik.
Jadilah mereka berempat pergi ke dek atas, tempat paling asyik menyaksikan pemandangan. Ternyata tidak terlalu gelap. Sekitar kapal sudah mulai terang. Semburat matahari nampak di langit timur. Sementara di depan, Pelabuhan San Fernando terlihat.
Pelabuhan itu kecil. Hanya ada satu kapal besar di dermaga dan beberapa kapal kayu milik nelayan setempat. Tapi itu tetap pemandangan yang menarik. Lihatlah, pohon kelapa sejauh mata memandang, seperti berbaris rapi di tepi pantai.
Terlihat rumah-rumah panggung milik penduduk. Beberapa masih menyala petromaksnya. Di kejauhan terlihat bukit hijau dan hutan lebat. Kabut putih membungkus bukit-bukit, khas alam pulau.
Robin dan Robert berpegangan erat di pagar kapal. Ada banyak penumpang di sekitar mereka yang ikut menonton kapa merapat. Di sebelah mereka, Saleh dan Mei sedang memperhatikan sunrise.
"Lihat matahari terbitnya, Mei. Cantik seperti kamu." Saleh menggenggam tangan Mei.
Mei mendongak, ikut menatap matahari dari kejauhan, sambil mengelus perutnya yang sudah mulai kelihatan membesar.
Pelabuhan San Fernando berada di teluk. Jadi, matahari terbit tidak terlihat di kaki langit, melainkan muncul dari belakang bukit-bukit. Sensasi pemandangan yang berbeda. Secercah matahari pertama menyentuh kapal, menyinari wajah-wajah penumpang. Sementara kapal masih terus mendekat ke dermaga, kecepatan kapal berkurang.
Kesibukan dermaga kecil itu juga mulai jelas terlihat. Tidak sesepi yang di bayangkan Robin. Beberapa petugas sudah bersiap menyambut di sana. Juga kerumunan calon penumpang dan para pengantar.
Saleh menoleh ke arah kapal yang di tunjuk Robin.
"Itu tongkang pengangkut batu bara, Robin." Saleh menjelaskan, " Bentuknya memang seperti itu. Baru bara di tumpahkan ke dalam tongkang hingga penuh, lantas tongkang ditarik kapal mesin uap lainnya. Itu bukan kapalnya.
"Lalu, apa itu batu bara?" Robin jadi tertarik.
"Itu bahan bakar mesin uap, seperti mesin kapal yang kita naiki sekarang. Bentuknya seperti batu, berwarna hitam legam. Sebenarnya itu adalah kayu yang yang tumbuh jutaan tahun lalu. Kayu Itu tertimbun di dalam perut bumi, mengalami tekanan dan panas, sehingga berubah menjadi batu."
"Ada sebuah tambang besar di pedalaman Sab Fernando, dulunya di operasikan oleh Spanyol, sekarang sudah di ambil alih oleh Jepang. Nah, batu bara hasil tambang itu kemudian di bawa oleh kereta di pelabuhan ini. Di naikkan ke atas tongkang. Di bawa hingga Eropa, Amerika, hingga benua-benua jauh."
"Batu bara adalah sumber tenaga paling penting bagi mesin uap. Tidak ada batu bara, berarti seluruh mesin uap tidak akan berfungsi."
__ADS_1
Robin mendengarkan penjelasan Saleh dengan seksama, sambil menatap kesibukan dermaga. Diding kapal sudah menyentuh pelan bibir dermaga, Tali temali sudah di lemparkan.
Sekali lagi peluit kap terdengar nyaring dan panjang. Tanda kapal sudah terikat mantap di pelabuhan. Sekitar mereka sudah terang benderang.
"Sebaiknya kalian kembali ke kabin. Mandi dan bersiap-siap sarapan." Ucap Saleh.
Dua bocah laki-laki itu mengangguk.
Saat Saleh hendak menuruni anak tangga menuju ke kabinnya sendiri, salah satu awak menemuinya.
"Goedemorgen, Tuan Saleh."
"Morgen."
"Maaf menganggu kesibukan anda, tapi Kapten Diego menunggu Tuan di ruang perawatan sekarang. Jika Tuan berkenan, harap segera kesana." Awak kapal itu menyampaikan pesan.
Mei membalikan badan, memegang tangan Saleh, ada apa?
Saleh mengelus pelan tangan Kekasihnya, tersenyum, "Kamu kembalilah duluan dengan adik-adikmu. Tidak apa-apa. Mungkin, Kapten memerlukan seorang penerjemah."
Perempuan itu mengangguk. Bersama dengan kedua adiknya menuruni anak tangga. Sementara Saleh mengikuti langkah awak menunju ruang perawatan kapal.
.
Kemana Yusuf selama 36 jam terakhir? Pagi itu ada jawabannya.
Seorang awak yang bertugas merawat cerobong asap pagi itu datang melakukan pemeriksaan rutin. Saat ia membuka tempat ruangan kecil tempat peralatan, Yusuf akhirnya di temukan dengan tubuh meringkuk, kaki dan tangannya terikat tali menjadi satu. Tubuh itu dingin dan kaku seperti es, tapi untungnya, hidungnya masih menghembuskan nafas.
Awak kapal itu segera berlari tergesa-gesa, sambil berseru-seru mencari pertolongan. Dua awak lain yang sedang bertugas di dekat cerobong mendekat. Mereka membopong Yusuf ke ruang perawatan segera.
__ADS_1
Dokter kapal di panggil, situasi darurat. Kondisi Yusuf buruk. Salah satu awak mengetuk pintu kabin istirahat milik Kapten Diego, melapor. Kapten Diego yang masih memakai piyama segera datang ke ruang perawatan. Sambil menunggu dokter memeriksa, dia meminta awak memanggil Saleh, Chef Ruben, dan Lucas di awak kepala. Mereka sebaiknya tahu situasi ini.
Pemuda itu telah di temukan.