Senja Dari Timur Tengah

Senja Dari Timur Tengah
Episode 27


__ADS_3

Kepala koki memerintahkan awak dapur menambah meja tempat meletakkan makanan, agar antrean tidak terlalu panjang dengan naiknya penumpang tambahan. Penumpang baru yang masih mengenakan pakaian serba hitam itu menyapa, walupun muka mereka seram, tapi mereka tersenyum ramah.


Kantin semakin ramai. Para awak sibuk, ada yang menambahkan makanan, ada juga yang mengambil piring-piring kotor.


"Malam om. Robin menyapa riang.


"Malam." Yusuf hanya menjawab pendek."


"Mau main tebak-tebakan tidak om?" Robin menawarkan, bersemangat.


"Sebaiknya tidak, Tuan. Antrian panjang di belakang" Mang Jajan mengingatkan pelan sambil menoleh ke arah Yusuf, "Selamat malam, Yusuf. Hei, kau terlihat lelah. Matamu merah dan wajahmu pucat."


"Baiklah..." Setuju Robin kecewa, padahal ia sudah bersiap dengan pertanyaan yang ia pikir sulit.


"Kalau capek istirahatlah, Yusuf. Jangan terlalu memaksakan diri." Mang Jajan terus melangkah. Rombongan bergerak maju dalam antrean.


Yusuf mengangguk pelan, tidak menjawab. Matanya mengarah pada lima puluh enam pria berpakaian hitam di depannya.


"Ibu Anna!!" Robin berseru kencang membuat orang-orang menoleh.


"Mang, Mamang, ini Ibu Anna, guru mengaji Robin. Ah, sayang sekali kakak Mei tidak ikut makan di kabin."


"Aku baru kali ini melihat Ibu Anna makan di kantin, atau hanya karena berbeda tempat duduk selama ini jadi aku tidak tahu?" Mang Jajan bertanya.


"Kami memang belum pernah makan di kantin, Mang." Suami ibu Anna yang menjawab. Seorang pria keturunan China, berusia tiga puluh tahun, sepantaran dengan Saleh dan Yusuf.


"Kalian masak di kabin?" Mang Jajan tersenyum, "Kami juga membawa peralatan masak dan bahan makanan. Tapi, para tuan muda lebih suka makan di kantin. Hanya Nona Mei saja yang tidak bisa ikut karena masih mual-mual."


Saleh yang duduk dekat rombongan kesultanan Riau, dan dua guru sekolah sementara, mencuri-curi pendengaran. Mei masih mual? Ah, ia belum sempat menemui Mei, kekasihnya itu.


Suami Ibu Anna menggeleng, "Kami tidak memasak. Aku mengambil makanan di kantin karena istriku tidak terlalu nyaman jika berada di tempat ramai. Dia pemalu."


Semua orang menoleh menatap Ibu Anna. Membuat Ibu Anna terlihat salah tingkah di perhatikan. Ibu Ann meremas Unjung jarinya yang sudah berkeringat. Jika mengikuti keinginan hatinya, sudah sejak tadi ia meninggalkan kantin itu dan kembali makan di kabin. Ibu Anna merasa setiap saat ada orang yang akan mengetahui siapa dirinya.


"Bagaimana ayam gorengnya, Robin? Lezat?" Melihat Ibu Anna yang seperti tak nyaman, Saleh mengalihkan percakapan.


"Enhak, Khakak Saleehh." Robin menjawab dengan mulut yang masih terisi.


"Jangan bicara saat mengunyah, Robin. Kau bisa tersedak." Saleh terkekeh kecil.


Robin menelan makanannya cepat sebelum kakaknya, Robert ikut-ikutan menegur.

__ADS_1


Penumpang dewasa segera terlibat percakapan. Rombongan dari kesultanan Riau bercakap dengan Bapak Hatta dan Bapak Andipati tentang kondisi jalan dan transportasi darat pulau Jawa, membandingkannya dengan kondisi di Riau.


"Bang. Bisa bicara sebentar denganku nanti." Ucap Saleh, berbisik.


Mang Jajan mengangguk.


"Itu pakaian China, Tuan Robin." Suami Ibu Anna menjelaskan saat Robin berbisik, lagi-lagi bertanya pada kakaknya, apa nama pakaian cerah yang sering di gunakan Ibu Anna.


"Leluhur kami berasal dari Singkawang, Kalimantan. Namun orang tua kami lahir dan menetap di kawasan Percinaan Kota Manado. Aku dan istriku berteman sejak kecil di kampung China itu, sempat terpisah beberapa waktu karena istriku pindah tinggal ke Manila."


"Wah, Manila?" Robin langsung tertarik, menoleh ke arah Saleh yang sedang asyik bercakap dengan Mang Jajan.


"Kakak Saleh," Robin memotong percakapan, "Kita jadi makan di Manila, bukan?"


"Robin, jangan menyela percakapan orang dewasa." Robert menyenggol lengan adiknya, melotot.


"Tidak apa." Saleh tertawa, "Insya Allah, Robin. Kita akan makan di Manila."


Robin bersorak, insyaallah.


"Tuan jangan merepotkan, Saleh. Nona bisa marah nanti." Mang Jajan mengingatkan.


"Aku tidak merepotkan kok, Mang. Hanya mengingatkan, siapa tau kakak Saleh lupa."


Di tengah percakapan pagi itu, orang-orang tidak memperhatikan wajah Ibu Anna yang tampak cemas. Ia beberapa kali memegang lengan suaminya, berbisik sesuatu. Suaminya balas berbisik, samar terdengar tentang, "Tidak ada yang tau tentang Manila, Bou. Tidak ada."


.


.


.


"Kau dari mana saja, Saleh?" Yusuf membuka matanya, masih terpicing sebelah. Akhir-akhir ini Yusuf lebih sering tidur di kabin milik Saleh.


"Sekarang pukul berapa?" Yusuf merangkak, mencoba melihat jam di atas meja. Di luar masih gelap, "Astaga pukul empat pagi dan kau baru kembali ke kabin?"


Saleh duduk di samping Yusuf, mukanya di tekuk sedemikian rupa, "Aku dari kabin milik keluarga Mei. Aku menjenguknya tadi, melihat kondisinya. Dia rapuh sekali."


Yusuf terkejut, membuka matanya sempurna.


"Lalu bagaimana? Apakah dia benar-benar hamil?"

__ADS_1


Saleh hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Sial, bagaimana bisa?"


"Apanya yang bagaimana bisa? Tentu saja karena kami melakukannya." Saleh menjitak kepala Yusuf.


"Iya, aku tau. Maksudku. Ah, entahlah." Yusuf kehabisan kata-kata.


"Aku akan berkata sejujurnya kami sudah menikah."


Respon Yusuf sama seperti Respon Heiho ketika Mei mengatakan hal yang sama. Yusuf tertawa mengejek, tidak percaya.


Saleh menjelaskan kepada Yusuf seperti Mei menjelaskan kejadian perkara kepada Heiho.


"Syukurlah kalau kalian sudah menikah. Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan kalian? Apa tidak masalah jika Sersan Heiho tau?"


"Dia sudah tau."


Yusuf kembali kaget, menepuk jidatnya. Ia menatap Saleh khawatir, takut jika Sersan Heiho berbuat sesuatu pada kawannya itu.


"Jangan menatapku seperti itu, Yusuf. Tenang saja, aku akan mengatasi Sersan sialan itu. Berani sekali ia menyuruh Mei memilih antara meninggalkanku atau menggugurkan kandungannya."


"Apa?" Yusuf memastikan pendengarannya tidak salah.


"Jika Mei tidak memilih keduanya, maka Mei harus menceraikan aku."


Yusuf mengumpat sial.


Saleh terkekeh, menghibur kawannya itu jika semuanya telah ia atur dengan baik.


Malamnya, di kantai dua kapal bagian terluar, di sisi paling gelap. Saleh tengah menghisap sebatang rokok, menunggu kedatangan orang-orang suruhannya. Lima puluh enam pria berjas hitam yang kemarin naik dari pelabuhan kota Coron tiba di dek lantai dua, tengah berdiri di hadapan Saleh. Menunduk hormat.


"Selamat malam, Bos." Sapa dua orang pria sekaligus. Mereka berdua nampak seumuran dengan Saleh.


"Fahri, Rio, aku ada tugas untuk kalian." Saleh memanggil nama keduanya. Fahri pria dengan tato bunga lili di bagian leher kirinya, sementara Rio memiliki tato bunga lili hitam tersembunyi di balik lengan jasnya yang panjang.


"Sebelumnya, apa kalian sudah melihat nona muda kalian tadi?"


Semuanya mengangguk serempak.


"Dia adalah istriku, Mei De Houten. Kalian pasti kenal dia bukan? Tidak perduli siapa orang tuanya. sekarang dia adalah istriku, sekaligus nona muda kalian. Jika ada yang tidak suka dengannya, kalian boleh keluar dari Geng Lili Hitam." Saleh berkata pelan namun dengan nada penuh ancaman, aura gelap yang jarang sekali terlihat keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


Tidak ada yang mengeluarkan suara. siapa yang berani membantah Saleh sang ketua Geng Lili Hitam. Benar sekali, Saleh adalah seorang ketua Mafia besar. Belum ada yang tau soal ini, bahkan Mei dan Yusuf sekalipun.


Saleh tadi sudah mendengar segalanya dari Mei. Ia berkata pada wanitanya itu menyerahkan segala masalah padanya, biar dia yang mengerus Sersan Heiho. Rencananya sebentar lagi akan terungkap.


__ADS_2