SIGIT

SIGIT
Lulus


__ADS_3

“ Horeeeee kita Lulus “ teriak kami karena baru saja kami diumumkan lulus


Betapa bahagia nya hati kami saat ini, hari ini adalah awal dari kami menuju masa depan, hari ini adalah awal kami mencari jati diri.


Kami meluapkan kegembiraan kami, mulai dari sujud syukur bersama, melepaskan balon ke udara bersama, mencoret – coret baju untuk mendapatkan tanda tangan teman – teman.


Rasa gembira bercampur aduk dengan kesedihan karena kami pun akan berpisah.


Tak terasa 3th kami menuntut ilmu di gedung sekolah yang sama.


Rasa teman berubah menjadi rasa saudara, guru kami adalah orang tua ke dua bagi kami. Tak terasa 3th sudah kami bersenda gurau bersama, di hukum guru bersama, mengerjakan tugas bersama, jajan ke kantin bersama dan masih banyak lagi kegilaan yang kita lalui.


Guru – guru yang kita cintai dan sayangi, selalu memaafkan atas kenakalan kita, guru yang selalu mau mendidik walau kami sering membangkang, guru yang akan kita rindukan saat ini.


“ Risya “ teriak seseorang yang suara nya tak asing lagi, suara yang kadang membuat kita kesal tapi dy selalu ada saat kita butuhkan, suara yang selalu memaafkan ku dikala aku tak ada waktu untuknya. Itu dy suara sahabat ku, sahabat terbaik ku.


“ Elsa, Andin, Via kita lulus “ teriak ku sambil memeluk mereka.


Mereka sahabat terbaik ku, mereka saudara bagi ku, mereka segalanya bagi ku.


“ Risya, kau sudah meminta tanda tangan Sigit. Itu mumpun dy lagi sendiri “ ujar Via sambil menunjuk kearah Sigit yang sedang duduk di depan teras kelas sambil melihat teman – temannya saling kejar – kejaran karena ke usilan mereka.


Tiba – tiba aku teringat 3th lalu awal kita masuk sekolah ini, kita dari SMP yang berbeda, kita dari suku bangsa yang berbeda juga, bahkan agama kita pun berbeda tapi perbedaan itu bukan penghalang bagi kita karena berbeda itu indah.


Bayangan ku kembali menghampiri teringat saat itu aku masih dalam masa MOPD ( Masa Orientasi Peserta Didik ), aku yang datang terlambat berlari karena pintu gerbang akan segera di tutup. Aku dengan Rok biru SMP Diatas lutut, baju putih pas body, rambut di ikat sesuai tanggal kelahiran dengan tali rapiah. Kebetulan aku lahir di tanggal 18 sehingga rambut ku harus di kuncir 18 dengan tali rapiah berwarna warni serta membawa tas yang terbuat dari karung goni.


“ woy cepetan lama banget kalian, telat mulu “ teriak kakak kelas dari arah pintu gerbang dengan tangan berkaca pinggang dan tampang yang menyebalkan

__ADS_1


Aku berlari kencang sekuat tenaga hingga sampai di depan gerbang


“ brukkkkk “ tubuh ku jatuh tersungkur melewati gerbang karena bertabrakan dengan murid pria yang kebetulan juga murid baru.


“ auu sakit “ ucap ku sambil merintih menahan sakit di lutut, para osis itu bukan menolong tapi malah mentertawakan ku.


“ bangun manja banget “ teriak Melda yang tak lain adalah salah satu anggota osis. Melda berambut panjang berparas cantik namun sombong dan angkuh.


Si Pria yang tadi bertabrakan dengan ku menatap mata ku sinis, bukankah dy yang salah harus nya dy meminta maaf padaku tapi pria itu malah berlari begitu saja.


Aku mencoba berdiri dengan menahan sakit, tapi rasa nya kaki ku sedikit terkiliri. Ketika ku mencoba berdiri sambil memegang panggar perlahan melda malah menarik ku.


“ cepetan kelapangan, saya hiitung sampe 5 ya 1, 2, 3 “ suara melda yang begitu keras dan nyaring membuat telingaku seakan mau pecah.


Aku berjalan tertatih kearah lapangan, semua murid baru sudah berkumpul dan berdiri tegap di tempat itu juga sudah ada anggota osis yang siap meng ospek kita.


“ kamu yang telat berdiri sini “ teriak Bayu sang ketua osis sambil menunjuk kearah ku.


Aku berdiri di samping murid pria yang tadi menabrak ku.


Murid pria yang terlihat angkuh walau parasnya lumayan tampan di banding dengan 4 orang di sampingnya.


“ kamu kenapa jalan seperti itu koala “ Tanya ka Arka wakil ketua osis, ka Arka kakak kelas tertampan menurut versi ku, dy juga baik dan perhatian tidak seperti yang lainnya.


Koala itu sebutan ku di saat MOPD ini, kami di beri nama oleh para kakak kelas itu dengan berbagai maca nama hewan untung saja aku tak mendapatkan nama seperti babi atau hewan aneh lainnya.


“ tadi saya jatuh kak, seperti nya kaki saya terkilir “ ucap ku kepada ka Arka perlahan sambil tertunduk menahan nyeri di kaki ku.

__ADS_1


Ka Arka kemudian jongkok di depanku, di buka sepatu ku oleh nya perlahan dan dy lihat kaki ku ternyata bengkak dan memar, pantas saja rasanya begitu nyeri.


“ obati dulu kaki mu di UKS, mari aku antar “ ujar Ka Arka sambil memopong ku dengan perlahan


“ mau kemana kalian “ Tanya Melda sinis menatap wajah ku seakan ingin menerkam ku


“ kaki nya terkilir aku akan membawanya ke UKS ujar Ka Arka


“ Manja sekali diantar, dy bisa jalan sendiri ke UKS Arka. Dari pada kamu mengurusi satu orang seperti ini lebih baik kamu mengurusi murid baru yang lain “ ucap Melda dengan nada seolah dy tak menyukai ku.


“ biar aku saja yang mengantar nya, kebetulan dy sepupuhku ucap Bayu “ yang lansung memopong ku ke uks


Ya sebenarnya Bayu memang sepupuhku tadi nya kami akan merahasiakan ini agar tak terjadi kesalah pahaman. Tapi situasi kali ini memaksa Bayu untuk mengatakan hubungan kami.


Aku dan Bayu berjalan menuju UKS disana sudah ada anak PMR yang menjaga UKS.


“ Dinda tolong obati dy, dy terkilir “ ucap Bayu kepada kak Dinda, ka Dinda adalah kekasih Bayu kami juga sudah saling kenal. Ka Dinda menghampiri ku dengan senyum manis nya. Ka Dinda memang sangat manis, baik, feminim dan sopan.


“ kok bisa terkilir kaki nya Sya “ Tanya ka Dinda sambil mengompres kaki ku dengan lembut


“ Risya gak aneh kalo gak berulah, paling juga dy jatuh “ ledek Bayu sambil mencubit ke dua pipi ku lembut


Bayu bagi ku bukan sekedar sepupuh tapi dy bagai kakak kandungku. Kami tumbuh besar bersama karena kebetulan rumah kami pun bersebelahan..


Dinda pun tak pernah marah saat aku bersikap manja pada Bayu karena dy sudah tau bahwa Bayu menganggap ku seperti adik kandung nya sendiri. Bayu selalu melindungi ku dan menjaga ku.


“ tadi katika aku berlari menuju gerbang tiba – tiba aku bertabrakan sama pria yang tadi berdiri di samping ku “ aku menjelaskan kejadian tadi pagi kepada mereka, sontak bukan prihatin yang aku dapat tapi malah mereka mentertawakan ku. Entah dimana yang lucu tapi mereka tertawa puas.

__ADS_1


“ au sakit ka “ rintih ku saat Dinda menekan kaki ku yang memar.


Akh rasanya nyaman sekali pada hari itu aku bebas dari kakak kelas yang menyebalkan itu, aku membaringkan tubuh ku di ranjang UKS, ranjang kecil yang muat untuk di tiduri satu orang dengan seprai berwana putih dan selimut belang khas rumah sakit. Aku tak menyangka ruangan itu akan aku rindukan saat aku lulus.


__ADS_2