SIGIT

SIGIT
JIKA ITU MEMANG TERBAIK


__ADS_3

 


 


 


Hari sudah mulai pagi saat aku membuka kedua bola mataku. Suara Burung dan Ayam membangunkan tidurku. Aku melihat jam dinding di depanku. Waktu sudah menunjukan pukul 06.30 pagi. Aku lihat pintu kamar Sigit yang terbuka, Sigit sudah tidak ada di kamarnya. Aku bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaianku.


Aku turun menuju dapur terlihat sepiring nasi goreng diatas meja makan, dan satu piring kosong bekas makan seseorang. Mungkinkah ini Sigit membuatkan sarapan untukku. Aku memakan nasi goreng yang Sigit buatkan.


Setelah itu aku melihat halaman belakang ternyata Sigit tidak ada disana, aku mencarinya sampai keseluruh bagian rumah namun tidak ada Dia dimanapun. Mungkin Dia sedang ke panti atau perkebunan pikirku. Saat aku akan mengenakan sepatu untuk pergi ke panti, Sigit datang dengan penuh keringat dan handuk yang disangkutkan dilehernya. Ternyata Dia baru saja pulang lari pagi.


Syukurlah Dia baik – baik saja ucapku dalam batin. Sigit masuk begitu saja menghiraukanku.


Apa Dia masih marah terhadapku. Entahlah tetapi ini rasanya sangat menyakitkan melihatnya bersikap dingin terhadapku. Dia bahkan seperti tidak melihatku sama sekali.


Hmmm aku menghela nafas dan meninggalkannya menuju panti. Aku pikir Diapun akan kepanti setelah itu.


“ Assaamualaikum Bu Risma.” Ucapku kepada Bu Risma yang sedang menemani anak – anak sarapan.


“ Wa’alaikum salam, Ya Allah Nak Risya kemari duduk ikut sarapan bersama kami.” Ucap Bu Risma memintaku untik sarapan bersama mereka.


“ Ka Risya.” Teriak anak – anak itu saat melihatku dan mereka menghampiri dan memelukku. Aku sangat terharu diperlakukan special seperti ini oleh mereka.


“ Ayo kembali dan habiskan makan kalian, agar kalian bisa tumbuh tinggi dan sehat.” Ucapku kepada anak – anak itu. Anak – anak itu lansung kembali ketempat duduk mereka masing – masing.


Aku menghampiri Bu Risma dan mencium punggung tangannya sebagai tanda hormat.


“ Aku sudah sarapan tadi Bu Risma, ya Sudah aku akan ketaman untuk mempersiapkan keperluan anak – anak untuk berlajar dan bermain.” Ucapku kepada Bu Risma dan meninggalkan mereka ke taman belakang panti. Terlihat mereka yang makan terburu – buru karena ingin cepat ketaman.


Anak – anak itu sudah selesai makan saat aku selesai mempersiapkan alat lukis untuk mereka.


Mereka berlari kearahku dan duduk di alas tikar yang sudah aku siapkan. Beberpa dari mereka ada yang berebut tempat duduk agar dekat denganku. Adapula yang berebut cat air. Tingkah mereka sangat lucu dan membuatku tertawa.


Kiky datang menghampiriku. Ya saat ini giliran Kiky yang menemaniku mengajari anak – anak ini. Kiky mengajari anak – anak cara membersihkan Gigi mereka lewat media lukis. Mereka sangat antusias sekali, sesekali Kiky bergurau dan membuat mereka tertawa terbahak – bahak.


Aku lihat Sigit datang bersama Aida. Mereka berjalan sambil bencengkrama dan tertawa. Sigit menghampiri kami dan memperhatikan kami melukis sesekali Sigit bergurau dengan Aida, sepertinya Dia sangat bahagia.


Aku mencoba untuk mengalihkan pandanganku dari mereka tetapi aku tidak bisa, aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Kenapa Sigit melakukan ini di depanku. Kata Bu Risma Sigit hanya menganggapnya sebagai Adik tetapi yang aku lihat lebih dari itu.


Sigit mengayunkan Aida di sebuah ayunan, sesekali Sigit mengelus lembut rambut Aida dan memasangkan sepucuk bunga di telinganya. Jantungku rasanya sakit sekali dan sangat sakit melihat ini semua.


“ Kak Risya ada apa?” Ucap Husna yang tiba – tiba mengusap halus pipiku.

__ADS_1


“ Tidak ada apa – apa Husna sayang, coba aku lihat lukisanmu.” Ucapku melihat secarik kertas yang berisi lukisan Husna.


“ Aku tidak pandai melukis Kak.” Ucap Husna menekuk wajahnya.


“ Tidak apa Husna ini sangat bagus, tetapi bukankah tema hari ini Gigi dan Kuman, lalu ini apa yang kamu buat?” Ucapku saat melihat gambar Husna.


“ Ini adalah Kak Risya, Ini Kak Setya dan ini Husna. Husna sayang kalian.” Ucap Husna menjelaskan gambarnya. Dia membuat satu gambar keluarga kecil.


“ Wah terimakasih Husna telah membuatkan Kak Risya sebuah gambar, ini bagus sekal.” Ucapku sambil


memeluk Husna.


“ Husna ingin sekali mempunyai Orang Tua, tidak apa – apakan jika Husna menganggap Kak Setya dan Kak Risna sebagai Ayah dan Ibu Husna?” Ucap Husna sambil mengusap halus wajahku. Husna di temukan dan dirawat di panti sejak Bayi, Ibunya meninggal saat melahirkannya dan Ayahnya pergi entah kemana karena depresi. Kini Husna dititipkan di panti kanker ini. Sejak lahir Dia memiliki kelainan ditubuhnya,


Dia terlahir dengan jantung yang bocor. Husna telah melakukan beberapa Operasi atas penyakitnya.


Sigit mendengarkan perkataan Husna dan menghampirinya.


“ Husna sayang, Kami adalah Orang Tuamu. Kamu tidak perlu meminta ijin untuk menganggap kami Orang Tuamu.” Ucap Sigit dengan mata berkaca – kaca dan mengelus halus rambut Husna dan mencium keningnya. Anak usia 6 tahun yang tidak tahu wajah Orang Tuanya seperti apa, sungguh luar biasa Husna adalah anak yang cerdas bahkan Dia adalah salah satu penghafal Al Qur’an. Meski tubuhnya tidak sesehat anak lain tetapi semangat Dia sangat tinggi.


“ Kak Setya bagaimana jika kami memanggil kalian Ayah dan Ibu saja.” Ucap anak – anak itu dengan bahagia.


Kiky yang melihat anak – anak itu menangis terharu. Aku menatap Sigit yang juga menatap kepadaku.


Saat Aida mengatakan itu hatiku terasa sakit, namun aku tetap tersenyum dihadapan anak – anak itu. Aku sadar aku bukan siapa – siapa untuk Sigit jadi Sigit bebas memilih pasangan hidupnya, toh akupun telah memiliki Arka sebagai pasanganku. Aku egois jika cemburu.


“ Tetapi Husna hanya ingin Kak Risya.” Ucap Husna manja sambil memelukku.


Aida memandangku dengan tatapan sinis. Aku yakin Aida sangat tidak menyukaiku. Mungkin aku pikir biar saja Aida yang merawat dan menjaga Sigit. Mungkin malam ini aku akan memutuskan untuk tidak tinggal di rumah Sigit lagi.


“ OK Anak – anak pelajaran hari ini selesai, saatnya kita bermain.” Ucap Kiky mencairkan Susana agar tidak memanas. Kiky yang terlihat sangat senang menghadapi anak – anak panti ini.


Merekapun mengumpulkan lukisan mereka dan pergi bermain bersama Kiky. Aida pergi meninggalkan panti entah dengan alasan apa dan Sigit mengantarnya.


“ Bisa aku bantu.” Ucap Sigit sambil membereskan hasil kerja anak – anak itu. Aku pikir tadi Dia pergi bersama Aida tetapi mengapa tiba – tiba Dia disampingku.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk kepada Sigit. Kami membawa lukisan itu keruangan Bu Risma.


Hari ini Bu Risma sedang pergi ke Kota karena ada urusan yang penting.


Aku rebahkan badanku dan duduk di kursi taman sambil melihat anak – anak itu bermain,


rasanya sungguh lelah sekali. Terlebih semalam aku tidak bisa tidur kerena memikirkan Sigit.

__ADS_1


“ Risya.” Ucap Sigit yang menyusulku dan duduk disampingku.


“ Iya.” Jawabku sambil melirik kearah Sigit.


“ Apa Kamu bisa membantuku.” Ucap Sigit sambil menundukan kepalanya, tangannya memegang kursi besi yang kami duduki. Sigit menselonjorkan kakinya yang panjang itu. Kini tubuh Sigit terlihat sedikit lebih kurus.


“ Membantu apa Git?” Ucapku yang penasaran.


“ Nanti malam aku akan mengajak Aida makan malam, aku berniat akan melamarnya.  Bisakah malam ini kamu mengatur dekorasinya. Cukup sederhana saja ditaman beakang rumahku.’ Ucap Sigit yang masih menundukan


kepala dan tidak memandangku sedikitpun.


DEG.. Rasanya jantungku tiba – tiba berhenti begiitu saja, apa aku tidak salah mendengarnya secepat itukah Sigit akan melamar Aida. Ya Tuhan jujur aku tidak sanggup untuk membantunya, tetapi aku tidak boleh egois aku harus menghempaskan semua rasaku untuknya. Aku pikir jika ini membuat Sigit bahagia dan bisa membuatnya lebih


semangat untuk hidup kenpa tidak.


“ Baik, aku akan membantumu. Jam berapa Sigit kamu akan makan malam dengan Risya.” Ucapku sambil menahan air mata yang sudah bergelinang di bola mataku.


“ Mungkin jam setengah 8 malam, aku ingin kamu mendokumentasikan semuanya. Aku ingin memiliki kenangan untuk hari itu dan agar aku tidak melupakannya.” Ucap Sigit semakin membuaat hatiku sakit dan hancur.


“ Iya aku akan mempersiapkan yang terbaik untukmu.” Ucapku sambil lebih dalam lagi menahan air mataku dan kesakitan hatiku.


“ Terimakasih Risya.” Ucap Sigit yang berdiri dan menyentuh bahuku. Aku tidak berani menatap wajah Sigit. Sigit meninggalkanku sendiri setelah itu.


Setelah Sigit pergi air mataku jatuh di pipiku. Ya Tuhan  rasa sakit ini sangat luar biasa. Bagaimana aku bisa mendokumentasikan saat seorang yang aku Cintai melamar orang lain. Bagaimana bisa aku tersenyum


saat orang yang aku Cintai melingkarkan kcincin dijari manis wanita lain.


Jika aku tahu Cinta itu menyakitkan aku ingin sekali terlahir tanpa cinta.


Jika aku tahu Cinta itu membuat penderitaan mungkin aku ingin terlahir tanpa mengenal cinta.


Ada dua alasan mengapa seseorang pergi begitu saja.


Pertama karena benci yang sangat dalam


Kedua karena Cinta yang begitu dalam


Dan aku memilih pergi karena Cintaku yang sangat dalam kepada Sigit.


Jika dengan aku jauh darinya membuat Dia Bahagia maka aku akan pergi sejauh mungkin darinya.


( Ost Ungu “ JIKA ITU YANG TERBAIK “ )

__ADS_1


__ADS_2