SIGIT

SIGIT
Ega Sadar


__ADS_3

 


 


 


“ Hmm bukan, tapi dijemput sopir Bus.” Ucapku melepaskan pegangan tangan Sigit dan langsung menaiki Bus yang kebetulan berhenti di depanku.


Dari dalam Bus kulihat wajah Sigit yang tersenyum dan melambaikan tangan kearahku. Aku tidak tahu kalau ternyata saat itu awal kedekatan kami.


“ Risya “ Teriak seseorang dan menarik tanganku dan menghancurkan lamunanku.


“ Arka.” Ucapku kaget, ternyata Arka yang menarik tanganku karena hampir saja aku terjatuh kedalam parit yang tidak kulihat didepanku.


“ Kamu melamun lagi ya, aku memanggil mu dari tadi tetapi kamu diam saja. Hampir saja kamu terjatuh dan masuk kedalam parit itu. Apa yang sedang kamu pikirkan? “ Ucap Arka dengan nada tinggi dan membuatku takut. Tatapan matanya yang tajam membuatku seperti dalam kaedaan kesalahan yang besar.


“ Aku hanya sedang terburu – buru. Aku pikir kamu sudah di rumah Pak Kades.” Jawabku sambil tertunduk dan tidak berani menatap wajah Arka.

__ADS_1


“ Maafkan aku Risya jika menakuti mu, aku hanya tidak ingin kau kenapa – kenapa.” Ucap Arka dengan perasaan penuh bersalah karena telah berbicara dengan nada tinggi kepada Risya. Arka pun memeluk tubuh Risya dan membawanya kedalam mobil Honda Jazz berwarna putih miliknya.


Arka melajukan mobilnya perlahan menuju rumah Pak Kades. Terlihat Amel dan Kiki yang sedang menyusun proposal.


“ Kamu mau ikut turun atau menunggu di mobil?” Tanyaku kepada Arka saat hendak membuka pintu mobil.


“ Aku menunggu mu disini saja, kamu hanya akan menaruh barang – barang mu kedalamkan.” Ucap Arka sambil menggenggam tanganku.


Aku pun keluar dari mobil Arka dan segera masuk kedalam kamar untuk menaruh barang milikku dan mengambil jaket serta tas kecil bermerk Chanel kesayanganku.


“ Kiki, Amel aku akan menjenguk Ega dahulu kerumah sakit di kota, jika ada sesuatu kalian langsung telepon aku saja ya “ Ucap ku sambil berpamitan kepada Kiki dan Amel.


“ Dengan Arka, itu Dy didalam mobil.” Ucapku sambil menunjuk kearah Arka yang kemudian membuka kaca


mobil miliknya.


“ Hati dijalan.” Teriak Kiki saat aku mulai masuk kedalam mobil Arka. Arka menyalakan mobilnya dan melajukan perlahan, kami melambaikan tangan kepada Kiki dan Amel sabgai tanda perpisahan.

__ADS_1


 


 


“ Bagaimana keadaan Ega?” Ucapku kepada Arka saat kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kulihat Arka hanya menarik nafas sambil memegang setir. Pandangannya masih fokus kejalan agar dy tak melakukankesalahan saat berkendara. Tangan Kiri Arka perlahan memegang jemariku.


“ Dy akan baik – baik saja walau kini belum sadarkan diri.” Ucap Arka yang terus memegang jemariku, aku tahu Arka berusaha menguatkaku, Aku tahu Arka tidak mengatakan hal yang sebenarnya, tapi aku percaya apa yang Arka katakana bukan sekedar untuk menghiburku tetapi itu hal yang Ia harapkan juga.


Kami pun sampai di Rumah Sakit dimana Ega dirawat. Aku langsung bergegas menuju ruang perawatan Ega saat ini.


Klikkk Kubuka pintu ruangan itu perlahan, terlihat Bu Risma yang sedang duduk di samping Ega. Tatapan matanya tak sedetikpun mberpaling dari wajah Ega.


“ Bu Risma.” Ucapku sambil memegang bahu Bu Risma yang sedang duduk. Bu Risma sedikit terkejut dengan kehadiranku. Aku tau sedari tadi pikiran Bu Risma kosong dan hanya terarah kepada keadaan Ega. Meski Beliau hanya Ibu asuh Ega tetapi perhatian Beliau terhadap Ega sungguh luar biasa.


“ Nak Risya, Kapan kalian tiba ? “ Ucap Bu Risma yang kemudain berdiri dan menyalami kami.


“ Baru saja Bu, bagaimana Ega apa Dy sudah sadarkan diri?” Tanyaku sambil mengusap halus pipi Ega yang sedang tertidur pulas. Ega bukan hanya tertidur saat itu, Ega sampai saat ini masih belum sadarkan diri. Air mataku jatuh begitu saja ke pipiku. Aku tidak bisa menahan rasa sedihku saat melihat malaikat kecil ini tak berdaya.

__ADS_1


Drrttt…drrtttt…. Terdengar getar Handphone Bu Risma yang nyaring. Bu Risma langssung mengambil Handphone Nokianya yang diatas meja, terlihat ada panggilan masuk dari seseorang yang penting. Bagaimana tidak penting Bu Risma langsung menjawab telepon itu dan keluar meninggalkan kita.


Arka yang berdiri dibelakang memegang pundakku mencoba unuk mengatakan bahwa aku tak boleh menangis lagi.


__ADS_2