SIGIT

SIGIT
Pertemuan


__ADS_3

Suara yang tidak asing lagi, Bahkan suara yang selalu aku rindukan setiap saat.


“ Siang Pak..” Ucapku sambil mengangkat kepalaku yang dari tadi fokus memainkan HP dan berdiri menyambut pria itu, betapa terkejutnya saat aku lihat pria itu. Ya tuhan apakah aku sedang bermimpi jika iya aku mohon jangan bangunkan aku dari mimpi ini.


“ Risya.” Ucap Sigit dengan nada kaget saat melihatku. Bukan hanya Dy saja yang kaget aku jauh lebih kaget darinya. Apakah yang ada di hadapanku ini benar – benar Sigit yang aku cari selama ini. 6 tahun sudah kami tidak bertemu dan ini pertama kalinya kami bertemu kembali. Meski sudah lama tetapi tidak banyak perubahan dalam diri Sigit sehingga aku masih mudah untuk mengenalinya ( sound Element “ Rahasia Hati “ )


“ Hy Sigit, jadi kamu pemilik panti ini ?” Ucapku sambil mengulurkan tangan memberi salam padanya.


“ Iya Risya, silahkan duduk,” Ucap Sigit sambil membalas uluran tanganku, tangannya masih terasa hangat seperti 6 tahun lalu saat terakhir aku bersalaman dengannya saat kami lulus, senyumnya masih terasa sama saat terakhir Dy tersenyum padaku saat itu. Dy yang saat ini berdiri dihadapan ku dengan menggunakan kemeja Maroon dan celana hitam walau terlihat lebih dewasa tetapi Dy tetap Sigit yang sama, Sigitku  di 6 tahun yang lalu.


“ Bagaimana kabar mu saat ini Risya.” Ucap Sigit yang kini duduk di sofa yang ada di sampingku. Bu Risma memberikan kami teh hangat dan cemilan namun Dy langsung kembali ke dapur meningalkan kami berdua.


“ Aku baik – baik saja, bagaimana dengan mu.” Ucapku kepada Sigit, mungkin tubuhku baik – baik saja tetapi apa kau tahu Sigit hatiku selama 6 tahun ini sangat buruk keadaannya, separuh hatiku hilang bersama mu.


“ Aku juga baik – baik saja, sebelumnya aku ingin berterimakasi kepadamu karena telah menolong Ega dan membantu anak – anak disini.” Ucap Sigit kepadaku dengan senyum termanisnya. Tetapi apa yang Dy bilang bahwa Dy baik – baik saja, sedangkan aku masih ingat apa yang di katakan Bu Risma bahwa pemilik panti ini seorang yang terkena kanker juga. Ya tuhan apa itu benar – benar Sigit.


“ Iya sama – sama, kebetulan itu juga tugas kami sebagai calon seorang Dokter.” Ucapku sambil meminum teh hangat yang di berikan Bu Risma tadi.


“ Wah jadi kamu seorang calon Dokter kalau begitu bisakah aku menjadi pasienmu.?” Ucap Sigit yang membuat jantungku langsung seperti berhenti berdetak, apakah benar Dy sekarang sedang sakit.?

__ADS_1


“ Hey Risya, kamu kenapa bengong.” Ucap sigit yang menatap wajahku dekat.


“ Oh maaf, aku hanya teringat sesuatu. Memang kau sakit apa sehingga ingin menjadi pasienku.” Ucapku sambil menatap balik wajahnya. Wajahnya kini begitu dekat denganku. Jantungku jauh lebih berdetak kencang saat ini. Ini kali pertamanya kami saling menatap.


“ Sakitku ada disini.” Ucap Sigit menarik tanganku dan menyentuh dadanya, tepat dihatinya. Jika kamu tahu Sigit bahwa ada obat yang bisa menyembuhkan luka hati mungkin aku akan meminumnya terlebih dahulu agar aku tak merasakan sakit saat aku merindukan mu.


Airmataku tidak dapat tertampung lagi, seketika aku meneteskan air mata kerinduan ini. Sigit mendekatkan duduknya di sampingku dan memeluk tubuhku hangat.


“ Apa yang kau tangisi, jangan menangisiku yang sudah menyakiti mu. Jangan menangisiku orang yang tak bisa membahagiakanmu, aku bukan pria yang pantas kau tangisi tetapi aku jauh lebih pantas menjadi pria yang kau benci.” Ucap Sigit membisikan kata – kata di telingaku yang membuat hatiku semakin terluka dan bersedih. Tidak kah kau tahu Sigit aku tak bisa melupakanmu.


            Meski Hujan badai menentang perasaanku padamu


            Meski Gunung Tinggi menjulang menetang ingatanku padamu


            Entah kenapa Hati dan Pikiran ini tak mampu menghapusmu dari ingatanku


            Entah mengapa hati dan Pikiran ini tak bisa mengubur dalam dirimu


            dan menenggelamkannya di Laut yang luas.

__ADS_1


            Andai saja aku bisa membencimu


            Mungkin sudah aku lakukan dari dulu.


             ( Sound Element “ Rahasia Hati “ )


Dari dalam Bu Risma dan Via yang menyaksikan pertemuan mereka ikut menangis dan terharu.


“ Jadi apakah Bu Risma sudah tahu dari awal tentang Risya dan Sigit?” Tanya Via kepada Bu Risma yang ternyata tadi merencanakan pertemuan mereka.


“ Ya nak Via, saya tahu sejak pertama melihat Nak Risya, saya teringat foto yang ada di meja kamar Mas Sigit. Saya juga teringat cerita Mas Sigit dulu yang bercerita tentang Nak Risya. Beliau tak ingin melihat nak Risya sedih jika tahu bahwa Mas Sigit sakit parah. Mas Sigit sudah sakit sejak 6 bulan sebelum lulus sekolah, dy di vonis terkena kanker otak jinak. Namun lambat laun penyakit itu semakin berkembang dan menggerogoti tubuhnya hingga kini sudah stadium akhir. 6 tahun ini Dy berjuang keras untuk melawan sakitnya. Mas Sigit sengaja


menghindari Risya selama ini, Dy juga mendirikan panti ini dengan nama Rumah Knaker Risya karena besarnya Cinta Dy terhadap nak Risya. Hanya karena ingin melihat Risya bahagia sehingga Dy memilih untuk melihat Risya bahagia bersama orang lain.” Ucap Bu Risma kepada Via dengan isak tangis yang mendalam, ternyata selama ini Cinta Risya pun terbalas oleh Sigit namun apadaya Tuhan telah merencanakan ini semua, mungkin jika keadaan Sigit baik – baik saja mereka akan hidup bahagia.


Via yang mendengarkan cerita Bu Risma ikut menagis dan bersedih dan tidak menyangka bahwa Sigit begitu jauh menderita selama 6 tahun ini. Dy menyembunyikan sakitnya dari siapapun termasuk keluarganya. Dan yang mengetahui Dy sakit hanya Dokter dan Bu Risma. Anak – anak di panti ini pun tak mengetahui kedaan Sigit yang sebenarnya. Dy selalu terlihat ceria dihadapan anak – anak itu.


“ Ya Tuhan, aku tidak sanggup memberikan kenyataan ini kepada Risya. Betapa Dy akan bersedih mendengar kenyataan ini.” Ucap Via yang terlihat lemas setelah mendengar semua cerita dari Bu Risma dan tidak henti – hentinya menangis.


“ Biarlah Mas Sigit yang memberi tahu nak Risya sendiri. Yang saya tahu bahwa umur Mas Sigit tidak lama lagi.” Ucap Bu Risma yang tidak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2