
“ Ya Tuhan, kau terkena kanker otak dan sudah stadium akhir. Ini berkas mu waktu pengobatan di Sinagpura. Lalu kenapa kau tak melanjutkan pengobatanmu disana.” Ucap Arka yang keget seperti tersambar petir di siang bolong saat melihat hasil MRI Sigit. Ternyata selama 6 tahun ini Sigit berjuang melawan kanker otaknya yang sudah memasuki stadium akhir.
“ Beginilah keadaanku saat ini Dr. Arka. Tidak.. aku ingin menjalani pengobatan di Negaraku saja. Dan jikapun aku nanti akan mati maka aku ingin mati di Negaraku.” Ucap Sigit yang berusaha terlihat tegar menutupi kesakitan yang Dy alami.
“ Aku akan berusaha membantumu semoga tuhan membrikanmu keajaiban sehingga kau bisa sembuh kembali.” Ucap Arka memberikan semangat kepada Sigit agar Dy tak pernah putus asa.
“ Boleh aku bertanya sesuatu padamu.” Ucap Sigit menatap foto yang ada diatas meja Arka.
“ Apa kau ingin bertanya tentang Risya?” Ucap Arka yang tahu apa yang akan Sigit tanyakan kepadanya.
“ Ya, bagaimana keadaanya. Apa kau bersamanya kembali.” Ucap Sigit mengambil foto yang ada diatas meja Arka dan memandangi wajah Risya dengan penuh kebahagiaan.
“ Kabarnya baik – baik saja, dan Dy pun akan segera menjadi seorang Dokter psikiater. Kami bersama kembali setelah kepulanganku dari London.” Ucap Arka yang berusaha tenang meski kekasihnya dirindukan pria lain yang kekasihnya harapkan juga.
“ Syukurlah kalau Dy baik – baik saja, hmmm.” Ucap Sigit tersenyum bahagia dan menghembuskan nafasnya. Dy berpikir sejenak seandainya dahulu tidak seperti itu munkin saat ini beda ceritanya.
“ Apa kau merindukannya? Jika iya aku akan memberitahunya telah bertemu denganu.” Ucap Arka yang selalu tetap sabar dan ingin membhagiakan Risya meski Dy tahu akan sakit hatinnya saat Risya bertemu dengan Sigit.
“ Berjanjilah padaku jangan pernah memberitahunya bahwa aku menemuimu terlebih aku pasien mu.” Ucap Sigit penuh harapan kepada Arka. Agar Arka tidak memberitahu Risya tentang pertemuannya. Sigit tak ingin Risya tahu tentang penyakitnya, Sigit khawatir jika Risya tahu Dy akan begitu mengkhawatirkannya. Dan Sigitpun tidak ingin
__ADS_1
mendapatkan belas kasihan.
“ Baiklah jika itu mau mu, aku akan berusaha menyembunyikannya tetapi jangan salahkan aku jika takdir mempertemukan kalian.” Ucap Arka yang menutup kembali berkas yang sudah Dy lihat.
“ Terimakasih Dokter Arka, aku sangat mempercyaimu.” Ucap Sigit yang kemudian menaruh foto Risya kembali ketempatnya semula.
Akhirny setelah mereka berbincang lama Sigit berpamitan untuk pulang karena ada banyak hal yang harus Dy lakukan hari ini. Arka pun memberikan jadwal untuk pengobatan Sigit sehingga tidak mengganggunya ketika sedang bekerja. Ya kini Sigit telah menjadi pengusaha sukses dibidang pertanian. Perusahaannya sudah berkembang di 5 kota di Indonesia salah satunya termasuk di Bndung ini.
“ Jika ada keluhan silahkan langsung hubungin saya.” Ucap Arka kepada Sigit yang hendak berpamitan pulang, Arka menyalami Sigit dengan senyum hangat.
“ Terimakasih Dr. Arka.” Ucap Sigit membalas jabatan tangan Arka. Sigit pun berjalan keluar ruangan Arka. Arka mengantarkan Sigit hingga depan ruangannya. Sigit pun berjalan menjauh hingga tubuhnya sudah tidak terlihat lagi oleh Arka.
Arka kembali menutup pintu ruangannya. Dy pun kembali duduk di kursinya, sesekali Dy menyandahkan kepalanya ke kursinya dan duduk memutar – mutar kursi kerjanya, terlihat Dy memegang keningnya seperti orang yang terlihat pusing. Begitu banyak pikiran yang menggangunya saat ini sehingga membuat kepalanya menjadi
sakit.
“ Bu Risma sepertinya kami harus kembali ke rumah Pak Kades karena hari sudah mulai sore.” Ucap Risya yang hendak berpamitan kepada Bu Risma.
“ Apa tak sebaiknya nak Risya tidak menunggu pemilik panti ini datang, sebentar lagi juga beliau sampai. Beliau sangat ingin bertemu nak Risya dan teman – temannya.” Ucap Bu Risma mencoba menahan kami untuk bertemu dengan pemilik panti.
__ADS_1
“ Maaf Bu Risma bukan kami tidak mau, tapi hari sudah senja. Kami tidak ingin kemalaman dijalan.” Ucapku mencoba membuat pengertian kepada Bu Risma.
“ Iya Bu Risma, mungkin besok kita akan kembali lagi dan bertemu dengan pemiik panti ini.” Ucap Kiki tidak ingin membuat Bu Risma kecewa. Bu Risma pun mengerti kedaan kami. Kami berpamitan kepda Anak – anak panti itu dan mereka mengantarkan kami hingga pintu depan.
Ketika kami keluar pintu gerbang sebuah mobil Honda Accord A/T berwarna hitam melintas memasuki
rumah panti itu. Aku pikir mungkin itu si pemilik jika melihat dari mobil mewahnya. Ya sudahlah aku temui Beliau besok saja. Ucapku dalam batin. Kami pun bergegas berjalan menuju rumah Pak Kades karena hari sudah mulai gelap dan langit terlihat mendung.
“ Risya.” Ucap Via yang memangilku dan menghampiriku saat aku sedang berdiri mamandangi langit
malam yang kelam dan disambut oleh rintikan gerimis.
“ Hey Via, ada apa?” Ucapku saat Via memanggilku dan menepuk pundakku.
“ Apa yang kau pegang itu?” Tanya Via yang mengarah kepada origami yang ada ditanganku. Origami yang diberikan Devi saat di panti itu masih aku simpan rapih dan sesekali aku selalu memainkannya karena origami ini selalu mengingatkan diriku akan sosok Sigit.
“ Oh ini origami yang diberiika Devi anak di panti kanker itu. Origami ini selalu mengingatkan diriku akan sosok Sigit.” Ucapku kepada Via, Via sangat menegerti kedaanku saat ini Dy pun memelukku dan menenangkanku.
“ Sabar Risya, jika Tuhan mengijinkan kalian bertemu pasti kalian akan dipertemukan.” Ucap Via sambil memeluk tubuhku dan membuat tenang dengan kata – katanya. Kami pun duduk di pinggir ranjang dipan tempat kami tidur.
“ Lalu apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu kembali dengannya?” Ucapku sambil terus menatap Origami yang aku pengang saat ini, sesekali aku memutar origami itu perlahan.
__ADS_1