SIGIT

SIGIT
Selamat Jalan


__ADS_3

 


 


Pagi ini aku langsung bergegas kembali ke Panti, dijalan aku mencoba untuk tidak mengingat – ngingat kejadian kemarin. Kali in aku ditemani oleh Runa.


Tepat didepan panti aku melihat sebuah bendera kuning terpasang dipagar, dan beberapa warga masuk ke panti dengan menggunakan baju hitam.


Ya tuhan bukankah bendera kuning tanda orang berduka, siapa yang sedang beduka. Ucapku dalam batin. Kami berdiri tertegun memandangi panti.


Halaman panti sudah dipasang tenda dan kursi dan beberapa warga sudah duduk dikursi itu. Terlihat kesedihan diwajah mereka.


Aku dan Runa langsung berlari kedalam. Terlihat seseorang sudah ditidurkan diruang tamu dan di tutupi oleh kain dan terbungkus kain kafan. Air mataku tidak dapat terbendung lagi dan mengalir dipipiku.


Rasana tubuhku sudah tidak bertenaga lagi, aku terjatuh di samping Jenazah itu, aku buka perlahan kain penutup yang menutupi wajahnya.


Ya Tuhan mengapa kau secepat itu mengambil Ega dari kami, padahal kemarin kami masih sempat bermain dengannya dan bahkan makan bersama dengannya. Kini wajah Ega terlihat lebih tenang.


Aku tidak dapat menahan air mataku. Aku peluk tubuh Ega yang sudah menjadi dingin dan kaku,


kucium keningnya untuk yang terakhiir kali.


Runa langsung menghubungi Arka dan yang lainnya untuk segera ke Panti. Terlihat Bu Risma yang terus menangis di samping Ega sambil memegang Al Qur’an.


“ Sudah jangan menangisinya lagi, Dy sudah tenang disana, Dy sudah tidak merasakan sakit lagi.” Ucap Sigit sambil memberikan tisu untuk menghapus air mataku. Wajah Sigit yang terlihat tegar tetapi aku tahu bahwa hatinya rapuh dan hancur saat ini.


Sigit membawaku ke taman belakang untuk menenangkanku. Dy memberikanku segelas air mineral agar aku lebih tenang. Air mataku benar – benar tidak bisa terhenti.


Aku masih ingat awal bertemu dengan Ega, Dy gadis yang sangat manis dan baik. Dy tidak pernah mengeluh karena sakitnya sampai Dy pernah kritispun Dy tidak pernah terlihat sedih.


Dy anak yang kuat dan tangguh. Dy selalu terlihat bahagia. Dy anak yang sangat baik dan luar biasa.


Sigit menghapus Air mata yang mengalir dipipiku, tidak ada sepatah kata dari mulut kami berdua.


Sigit menyandarkan kepalaku di bahunya. Rasanya sedikit tenang dan nyaman saat


Sigit mengelus rambutku dengan halus. Meski Dy bersedih Dy tidak menunjukannya dihadapanku.

__ADS_1


“ Lebih baik kita kembali kedalam, tamu sudah mulai ramai. Apa kamu sudah mulai membaik Risya?” Ucap Sigit saat hatiku sudah mulai membaik dan lebih tenang. Aku tegakan kembali dudukku. Aku hapus air mata yang membasahi pipiku.


“ Sudah Risya kita doakan yang terbaik untuk Ega, mungkin Tuhan lebih sayang kepadanya.” Ucap Sigit sambil menatap wajahku dengan senyumnya yang membuatku hangat, aku masih belum bisa berkata apa – apa. Aku balas senyum darinya.


Kami berjalan menuju ruang tengah kembali, tamu yang datang sudah semakin banyak. Aku lihat Arka yang sedang berbincang dengan Pak Agung.


“ Arka, sudah lama kamu datang.” Ucapku saat menghampiri Arka ketika Pak Agung masuk kedalam untuk melihat Ega. Arka memperhatikan mataku yang sembab.


“ Tidak sayang aku baru saja tiba.” Ucap Arka sambil menyentuh pipiku halus.


“ Mari kedalam kita lihat Ega untuk terakhir kalinya.” Ucapku mengajak Arka masuk untuk melihat Ega. Di samping Ega sudah ada Via dan yang lainnya. Bu Risma kini terlihat lebih tegar. Tidak ada air mata yang mengalir lagi.


“ Yang sabar ya Bu, mungkin ini yang terbaik buat Ega.” Ucap Arka sambil memberikan salam kepada Bu Risma.


 


 


“ Kapan jenazah Ega akan kita kebumikan?” Ucap Pak Agung kepada Sigit. Karena hari sudah makin siang dan Jenazah harus segera dikebumikan


“ Bagaimana sehabis Sholat Dzuhur pak? “ Ucap Sigit  dengan nada halus sambil melihat ke jam tangan Hublot Big Bang yang Dy kenakan.


Aku, Arka dan Sigit kini duduk bersama sambil menunggu pemakaman. Sepertinya sudah lama sekali kami tidak seperti ini, terakhir kali kita berbincang bertiga pada saat terakhir masa MOPD itu.


Namun suasana saat ini jauh berbeda dari 9 tahun yang lalu.


“ Mau aku buatkan kopi.” Ucapku kepada Arka dan Sigit sambil beranjak dari kursi yang aku duduki.


“ Boleh, aku buatkan teh hangat saja.” Ucap Arka sambil mentap kearahku.


“ Aku juga ingin teh hangat saja.” Ucap Sigit yang menatapku juga. Saat Sigit menatapku wajah Arka terlihat sedikit tidak senang. Aku langsung bergegas ke dapur untuk membawakan mereka teh hangat, kedua orang itu menyukai teh yang tidak terlalu manis jadi aku tidak sulit untuk membuatkannya.


“ Ini tehnya silahkan diminum, aku akan membantu yang lain menyiapkan minum dan makanan untuk para tetangga yang melayat.” Ucapku kepada mereka sambil memberikan teh hangat dan sedikit cemilan untuk mereka.


“ Terimakasih Risya.” Ucap mereka bersamaan dan menatap wajahku. Tidak butuh waktu lama aku langsung kembali kedapur dan meninggalkan mereka berdua untuk berbincang.


Kadang saat aku bersama dengan mereka berdua aku seperti dihadapkan pada sebuah kesalahan.

__ADS_1


Mengapa mereka hadir didalam kehidupanku ? Mengapa mereka mengisi hatiku ? Dan mengapa aku bodoh tidak bisa menolak salah satu dari mereka.


Mungkin kalian pikir aku paling bahagia bisa di cintai oleh dua pria sekaligus. TIDAK kalian salah, aku orang paling menderita dengan semua ini, harusnya aku jauh lebih pandai untuk memilih tetapi kenyataannya aku hanya bisa menyakiti hati mereka dan menyakiti hatiku sendiri.


Adzan Dzuhur sudah berkumandang, kami bersiap – siap untuk sholat berjamaah setelah itu kami akan ke TPU Cibuyut untuk mesemayamkan jenazah Ega.


 


“ Risya kamu mau ikut mobil jenazah atau bersama aku.” Ucap Arka setelah kami sholat dan bersiap untuk membawa jenazah Ega ke TPU.


“ Aku ikut denganmu saja Ka, aku tidak ingin meneteskan air mata lagi dihadapan Ega.” Ucapku kepada Arka, akupun ingin menghargai Arka yang sudah jauh – jauh untuk kemari.


“ Ya sudah mari kita menunggu dimobil.” Ucap Arka sambil menuntunku. Dari jauh Sigit memperhatikan saat kami melangkah bersama dan berpegangan tangan.


Kami berbondong – bondong mengiringi jenazah Ega ke TPU Cibuyut, jarak TPU dan Panti membutuhkan waktu 20 menit yang ditempuh dengan kendaraan.


Sesampai di TPU kami menghampiri sebuah tanah yang sudah digali, lubang lahat itu seukuran tubuh Ega. Jenazah Ega dimasukan keliah lahat oleh Sigit, Arka dan di bantu oleh 2 warga lainnya.


Sigit membuka tali pocong yang terikat di tubuh Ega dan mengadzankannya untuk yang terakhir kali. Setelah mereka naik keatas permukaan tanah, sedikit demi sedikit tanah diturunkan dan menutupi tubuh Ega yang ada didalamnya. Air mataku tidak bisa terbendung lagi saat melihat tubuh Ega kini ditimbun dengan tanah itu.


Anak kecil yang malang dan tidak berdosa itu kini sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi. Ega sudah bahagia di Surga sana bersama sang pencipta.


Arka menyandarkan aku dibahunya dan memberikanku tisu untuk menghapus airmataku.


Kini tubuh Ega sudah benar – benar tidak terlihat lagi, lubang yang tadi dibuat kini sudah tertutup tanah dan menggunung. Aku taburkan serpihan bunga diatas pemakaman Ega, Mungkin esok aku akan sering berkunjung kepemakaman Ega, meski nanti aku sudah kembali ke Jakarta aku akan meluangkan waktu untuk menemui Ega


dan anak – anak panti.


Kami mendoakan Ega bersama, setelah itu satu persatu warga yang ikut meninggalkan pemakaman begitu pula dengan Bu Risma dan anak –anak panti. Pak Kades, Via dan yang lainnya kembali pulang juga.


“ Risya mari kita pulang.” Ucap Arka sambil berlutut disampingku. Aku mencium batu nisan Ega sebagai salam perpisahan.


Terlihat Sigit yang masih berdiri disamping makam Ega dan terus memandanginya.


“ Sigit mari kita pulang.” Ucap Arka kepada Sigit sambil menepuk bahu Sigit.


“ Aku masih ingin disini, kalian pergi terlebih dahulu saja.” Ucap Sigit sambil membuka kacamata hitamnya yang menutupi mata merahnya sedari tadi.

__ADS_1


“ Ya sudah kami pulang terlebih dahulu ya.” Ucapku sambil bersalaman dengan Sigit. Aku tahu betapa sedihnya Sigit saat ini, meski anak – anak ini tidak memiliki hubungan darah dengannya tetapi Sigit sudah mengurus mereka sangat lama.


Aku berjalan bersama Arka dan meninggalkan Sigit sendiri dipemakaman. Sesekali aku menoleh kebelakang terlihat Sigit yang berlutut memegang batu nisan Ega.


__ADS_2