SIGIT

SIGIT
Secret


__ADS_3

 


 


“ Dr. Risya boleh saya berkonsultasi dengan Anda?” Ucap Sigit yang kini duduk di depanku.


“ Apa yang bisa saya bantu Pak.” Ucapku kepada Sigit dengan nda professional.


“ Akhir – akhir ini aku sulit sekali tidur dan bahkan tidak bisa tidur,” Ucap Sigit sambil memegang kepalanya seperti ada beban berat yang menghantuinya.


“ Bisa ceritakan kepada saya apa yang membuat Anda tidak bisa tertidur?” Ucapku sambil memandang wajah Sigit dan memegang sebuah pena dan kertas.


“ Saya tidak bisa tidur semenjak saya bertemu dengan seseorang, orang yang sudah lama sekali saya tidak melihatnya kira – kira hampir 6 tahun lamanya.” Ucap Sigit yang langsung menatap kedua bola mataku. Terpancar kesedihan saat Dy mengungkapkan itu. Apakah itu artinya Dy merindukanku selama ini sampai Dy tidak bisa tidur


saat bertemu denganku. Aku yakin orang yang Dy maksud itu aku.


“ Maaf Git saya harus pergi dulu.” Uapku yang hendak berdiri meninggalkan Sigit, aku benar – benar tak sanggup mendengar kata – katanya itu. Saat aku berdiri Sigit memegang tanganku. Aku menatap wajahnya agar Dy melepaskan tanganku, aku tak ingin Arka salah paham dengan ini semua walau aku tau aku mengingikannya tapi aku harus menjaga perasaan Arka.


Sigit melepaskan genggaman tangannya dan Aku pergi menghampiri Amel yang sedang mengajak anak – anak bermain dan belajar. Sigit berdiri dan meninggalkan posko kesehatan.


Kami masih sibuk dengan kegiatan kami, dan aku selalu mencari cara menyibukan diri untuk tidak


mengingat ucapan Sigit tadi.


“ Arka sudah siang kita makan siang dulu.” Ucapku berbisik kepada Arka yang dari tadi masih sibuk.


“ Nanti saja, bisakah kamu membuatkan aku kopi.” Ucap Arka memintaku untuk membuatkan kopi.


Arka benar – benar peduli dengan warga disini. Dy rela tidak makan siang demi mereka yang mengantri untuk berkonsultasi dengannya. Padahal Dy disini tidak kami bayar sepeserpun dan harus meninggalkan hari liburnya.

__ADS_1


“ Ayolah makan dulu ya Ka.” Ucapku dengan nada manja memaksa Arka untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Aku tidak ingin Dy jatuh sakit gara – gara membantuku.


“ Si neng teh kabogoho Pak Dokter? ( Si Neng ini pacar Pak Dokter?” Ucap salah satu Ibu paruh baya yang sedang duduk di depan Arka.


“ Muhun Bu, iyeu calon Istri Abdi. Doa keun supaya langgeng. (Iya Bu, ini calon istri saya. Doakan agar kami langgeng.)” Ucap Arka kepada Ibu itu dan membuatku ternganga. Bagaimana bisa Dy berbahasa Sunda seperti itu.


“ Mani cocok pisan Pak Dokter kasep, Bu Dokter Geulis. Muhun Abdi doakeun supaya langgeng Dunia Akhirat. Aminn. ( Cocok sekali  Pak Dokter Tampan, Bu  Dokter Cantik. Iya saya doakan agar langgeng dunia dan akhirat. Aminn.)” Ucap Ibu itu dengan senyum bahagia dan yang aku mengerti hanya aminnya saja.


“ Aminn.” Ucap Arka dengan senyum bahagia. Mungkin itu doa yang bagus jika dilihat dari ekspresi kedua wajah mereka. Dan aku hanya bisa tersenyum walau tidak paham.


“ Ibu – ibu dan Bapak - bapak mohon maaf sudah hampir Dzuhur kita lanjutkan stelah Dzuhur acaranya, dan untuk makan siang bisa diambil di posko sebelah sana.” Ucapku kepada Warga yang sudah mengantri. Karena jika bukan aku yang berbicara kepada mereka Arka bisa saja tidak makan dan istirahat.


Akhirnya semua Warga meninggalkan posko Arka dan mengambil jatah makan siang mereka. Aku mengambilkan jatah makan siangku dan Arka.


“ Apa yang tadi kamu bicarakan dengan Ibu itu?” Tanyaku kepada Arka dengan penasarn.


“ Lalu apa kata Ibu itu?” Ucapku sambil membuka kotak makanku.


“ Kata ibu itu kamu sangat jelek dan aku tampan, Dy juga bilang bahwa kamu tidak cocok denganku. Masih ada gadis Desa sini yang lebih cantik dari mu.” Ucap Arka dengan sengaja menggodaku dengan senyumnya khasnya.


“ Aku tidak yakin, dan jikapun iya. Ya sudah kamu cari saja wanita itu.” Ucapku lalu melahap makananku setelah membaca Doa.


“ Apa kau cemburu dan marah?” Ucap Arka mencoba menatapku namun aku mengalihkannya.


“ Tidak, untuk apa aku marah untuk ucapan palsu mu.” Ucapku kepada Arka sambil menyuapinya karena dari tadi Nasi miliknya hanya di aduk – aduk saja.


Ketika kami sedang asik makan tiba – tiba seorang warga berbisik kepada Arka.


“ Risya, maafkan aku. Aku ada keperluan terlebih dahulu. Kamu bisa tunggu disni.” Ucap Arka yang langsung menutup kotak makannya dan mengambil baju dokter kebanggannya. Aku pun sampai tidak sempat bertanya mau kemana Dy karena Dy langsung bergegas menuju mobilnya dan meninggalkanku.

__ADS_1


“ Ada apa Risya, sepertinya Arka buru – buri sekali.” Ucap Amel yang menghampiriku bersama Via.


“ Entahlah Dy tidak bilang bahkan aku tdak sempat bertanya, Dy pergi begitu saja.” Ucapku dengan penuh rasa khawatir saat ini.


Di Panti.


Ternyata tadi yang menghampir Arka adalah warga yang diminta Bu Risma untuk menjemput Arka ke panti karena Sigit tiba – tiba tidak sadarkan diri.


“ Assalamualaikum.” Ucap Arka saat baru saja tiba dipanti.


“ Wa’alaikum salam.” Ucap Bu Risma dan membawa Arka menuju kamar Sigit.


“ Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Arka sambil memeriksa tubuh Sigit.


“ Saya tidak tahu Pak Dokter, tadi setelah Mas Setya tiba dari posko Dy sudah terlihat pucat. Mungkin Dy terlalu lelah.” Ucap Bu Risma dengan nada khawatir.


“ Mungkin saya akan menyuntikan obat ini untuk meredakan sakit di kepalanya. Biarkan Dy istirahat.” Ucap Arka sambil mennyuntikan sebuah obat dilengan Sigit. Saat itu Sigit masih belum sadarkan diri namun kedaannya tidak begitu parah.


Bu Risma keluar mengambilkan minum untuk Arka. Arka berdiri disamping rak buku dan banyak buku – buku tertata rapih disitu. Ada beberapa buku tentang bisnis, buku tentang pertanian dan agraris, adapula buku tentang kesehatannya. Dideretan pojok terdapat buku sastra dan beberapa Novel serta puisi.


Arka mengambil buku yang bersampul kusam dengan judul  “ Mekar Karena Memar “ Buku novel sastra yang pernah Arka lihat dahulu di kamar Risya.


Arka membuka buku itu dan jatuh sebuah foto dari dalam buku itu. Arka mengambil foto yang terjatuh di lantai dan ternyata itu foto Risya candid waktu memakai baju SMU yang sengaja Sigit ambil secara daiam – diam.


“ Ya tuhan apa mereka saling mencintai dan apa aku besalah memisahkan mereka. Aku harus berbuat apa, akupun sangat mencintai Risya.” Ucap Arka saat memandang foto Risya itu. Betapa hancur saat itu hati Arka dan betapa merasa bersalahnya dirinya saat itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2