
Kamipun tiba dirumah Pak Kades, Arka menggendongku menuju kamar. Rumah Pak Kades masih sepi sepertinya yang lain masih berada di posko.
“ Ganti bajumu, jika sudah panggil aku. Aku akan mengobati luka mu.” Ucap Arka yang meletakanku diatas kasur. Dy pun mengambilkan handuk serta baju ganti dari dalam tasku.
“ Terimakasih Arka.” Ucapku saat Arka hendak berjalan keluar dan menutup pintu kamarku. Arka menoleh dan tersenyum kepadaku.
Aku mengganti pakaian yang basah dan mengeringkan tubuhku.
“ Arka.” Ucapku memanggil Arka bahwa aku sudah selesai berganti baju. Arka membuka pintu dan masuk kembali ke kamarku. Di bersihkan luka dikakiku oleh Arka.
“ Maaf Arka selalu merepotkanmu.” Ucapku sambil memnundukan kepala dengan penuh penyesalan. Kini hatiku mulai lebih baik saat Arka ada dihadapanku.
“ Kenapa kamu tidak meneleponku saat kamu tersesat tadi.” Ucap Arka sambil mengompres memar dimata
kakiku.
“ Aku tidak ingin mengganggu mu, kamu bilang hari ini kamu akan sibuk sekali. Dan kamu pun tidak membalas pesanku sejak tadi pagi.” Ucapku kepada Arka dengan menahan nyeri dikaki. Arka meniupi luka lecet dikakiku sambil memberikan antiseptic.
“ Maafkan Aku Risya, aku bukan bermaksud mengabaikanmu. Aku tidak akan melakukan itu lagi.” Ucap Arka memeluk tubuhku. Pelukan Arka membuatku sedikit tenang. Aku tahu hanya Arka yang selalu ada buatku.
“ Kamu tidak boleh meminta maaf, aku yang salah. Lalu bagaiman kamu bisa tahu aku ditempat itu?” Ucapku penasaran sambil bersandar dibahu Arka dan tangan Arka masih memelukku.
“ Via meneleponku dengan nada yang sangat panik, aku langsung bergegas kemari untuk mencarimu. Untung saja aku pernah menyambungkan HP mu dengan HP milikku sehingga dengan mudah melakukan pencarianmu.” Ucap Arka memberikan penjelasan. Jadi Via yang memberitahukan tentangku kepada Arka. Hujan diluar sudah sedikit
reda.
Terdengar suara motor terparkir didepan, mungkin itu Pak Kades dan yang lain sudah kembali.
“ Risya.” Ucap Sigit yang kini berdiri didepan kamarku. Arka langsung melepaskan pelukannya saat Sigt dan yang lainnya kembali.
“ Bagaimana kedaanmu Nak Risya?” Ucap Pak Kades yang juga terlihat khawatir.
“ Saya baik – baik saja Pak, hanya terkilir sedikit kakikun saja. Untung saja Arka cepat menemukan saya.” Ucapku kepada Pak Agung sambil menoleh sejenak kepada Arka. Terlihat penyesalan diwajah Sigit saat itu.
__ADS_1
“ Aku sungguh mengkhawatirkanmu Risya.” Ucap Via yang langsung memeluk tubuhku dan meneteskan air matanya.
“ Terimakasih Via, jika bukan karena kamu menelepon Arka mungkin aku bisa hiportemia karena kedinginan.” Ucapku sambil memeluk Via. Mereka semua sangat baik terhadapku. “ Maafkan aku yang selalu menyusahkan kalian.” Ucapku kepada mereka yang sudah begitu baik kepadaku selama ini.
“ Ya sudah kita mengobrol didepan saja biarkan Risya beristirahat.” Ucap Arka sambil menyelimuti tubuhku. Merakapun keluar meninggalkan diriku di kamar. Rasanya mataku saat ini begitu ngantuk dan tubuhku sangat lelah.
“ Sigit ada yang harus aku bicarakan sama kamu.” Ucap Arka saat itu yang sedang duduk berdua dengan Sigit diteras rumah Pak Kades.
“ Apa yang ingin kau bicarakan, apa ini ada hubungannya dengan penyaktku?” Ucap Sigit dengan tetap bersikap tegar meski Dy akan mendapat berita buruk.
“ Kamu harus segera melakukan operasi, penyakitmu semakin parah. Aku takut hal buruk bisa menimpa mu kapan saja. Selain itu ingatan mu lambat laun akan berkurang.” Ucap Arka dengan penuh penyesalan memberitahukan berta ini kepada Sigit.
Sigit menundukan kepalanya dan memegangnya bagai orang yang frustasi, bagaimana tidak dirinya saat ini sudah diambang kematian.
“ Maksudmu aku akan kehilangan ingatanku. Apa itu akan permanen?” Ucap Sigit meyakinkan hal buruk apa saja yang akan menimpa ingatannya.
“ Ya itu bisa saja terjadi, perlahan kamu akan kehilangan ingatanmu. Mungkin suatu hari nanti kamu akan lupa dengan namamu sendiri.” Ucap Arka menjelaskan prihal tentang ingatan Sigit yang bisa hilang sewaktu – waktu. Bahkan Dy akan lupa dengan namanya sendiri.
“ Aku tidak bisa memastikan itu, kemungkinan 50% ingatanmu akan bertahan.” Ucap Arka karena memang tidak ada cara lain, sedangkan penyakit Sigit benar – benar sudah parah dan kemungkinan sangat tipis jika Dy akan sembuh kecuali hanya Tuhan yang bisa melakukannya.
Risya ternyata mendengar percakapan mereka. Betapa terkejutnya mendengar berita buruk ini. Air matanya tidak bisa tertampung lagi di kedua bola matanya. Risya terus menangis mendengar percakapan Sigit dan Arka.
Ya Tuhan mengapa kau begitu tega memberikan penyakit itu kepada Dy, apa salah dan dosanya. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak sanggup menutupi aku tidak tahu apa – apa tentang penyakitnya. Mengapa kau hadirkan kebahagiaan ini dan pada akhirnya kau akan mengambil semuanya secara permanen. Ucap Risya dalam batinnya.
Air matanya terus mengalir membasahi pipinya, kini Risya tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri tubuhnya lemas seketika mendengar itu semua.
Risya duduk di palang pintu sambil menangis tersedu – sedu, kedua tangannya menutupi mulutnya agar tangisannya tdak terdengar oleh Sigit dan Arka.
“ Sigit aku tinggal kedalam sebentar.’ Ucap Arka yang hendak masuk kedalam rumah karena ingin ketoilet.
“ Iya silahkan.” Ucap Sigit
Arka berjalan menuju toilet, didepan pintu Dy melihat Risya yang sedang menangis.
“ Risya kamu kenapa.” Ucap Arka yang langsung menggendong Risya ke kamarnya.
__ADS_1
“ Arka jelaskan padaku apa yang terjadi dengan Sigit.” Ucapku sambil menarik kerah baju Arka agar Dy mau memberitahuku semuanya. Kenapa Arka menutupi ini semua dariku.
“ Apa kamu sudah mendengar percakapan kami Risya?” Ucap Arka sambil menundukan kepala, Arka sudah berjanji kepada Sigit untuk tidak memberitahu Risya. Tetapi kini Risya mengetahui dengan sendirinya.
“ IYA Arka aku sudah mendengar semuanya, kenapa kamu tidak memberitahuku? Sejak kapan kamu mengetahui tentang penyakitnya?” Ucapku yang kini bersandar di dada bidang Arka dan terus menangis, Aku sungguh tidak bisa menahan air mata ini lagi untuk tidak mengalir.
“ Maafkan aku Risya, aku sudah berjanji kepada Sigit untuk tidak memberitahu siapapun tentang penyakit ini.” Ucap Arka dengan penuh penyesalan. Kini Arka dalam situasi yang bimbang bagaimana Dy menjelaskan kepada Risya dan Sigit.
“ Apa Dy akan pergi selamanya Arka?” Ucapku sambil menatap wajah Arka, Arka memalingkan wajahnya dan terlihat air mata yang terbendung dimatanya.
“ Kita berdoa saja semoga Tuhan berbaik hati kepadanya dan mengangkat semua penyakitnya. Berjanjilah satu hal padaku Risya. Pura – puralah kau tidak tahu tentang penyakitnya ini saat dihadapannya. Aku taku itu akan membuat Down dirinya saat Dy tahu kamu mnegetahui penyakinya.” Ucap Arka sambil memeluk tubuhku.
“ Mana mungkin Arka, aku takut air mata ini akan terus mengalir saat dihadapannya. Arka boleh aku minta sesuatu darimu?” Ucapku dengan nada tersedu – sedu. Sungguh aku tidak bisa menerima semua ini.
“ Apa itu Risya?” Ucap Arka yang terus mengelus rambutku halus.
“ Ijinkan aku untuk merawat Sigit untuk terakhirkalinya. Ijinkan aku menjaganya diakhir hidupnya. Aku sangat berharap agar kamu bisa mengijinkanku Arka. Aku berjanji hanya merawatnya untuk yang terakhir kali dan aku akan tetap bersama mu selamanya.” Ucapku penuh harapan agar Arka mengijinkanku untuk merawat Sigit disatu bulan terakhirnya.
“ Baiklah Risya aku mengijinkanmu, meski ini berat bagiku tetapi aku tidak ingin melihatmu bersedih dan menyesal suatu hari nanti.” Ucap Arka dengan berat hati, kini airmata Arka tidak dapat terbendung lagi. Perasaannya benar – benar hancur. Tetapi Dy tidak ingin Risya mneyesal nantinya jika sesuatu terjadi kepada Sigit. Arka mencium dan membelai rambutku.
( Sound Fiersa Besari Ft Tantri “ Waktu Yang Salah “ )
Betapa besar cintanya kepadaku, aku berjanji akan menghabiskan sisa hidupku untuk bersama Arka.
Arka mengangkat wajahku dan menghapus airmataku yang mengalir deras dipipiku.
“ Sudahlah Risya jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihatmu begini. Beristirahatlah. Aku akan kembali menemani Sigit.” Ucap Arka sambil memegang keduapipiku. Aku mencoba memejamkan mata namun sulit untuk air mata ini tidak mengalir lagi.
Aku memegang tangan Arka dan menggelengkan kepalaku memberitahu Arka bahwa ini sulit aku lakukan.
Arka menatap mataku dan mencium keningku. Aku ditidurkan oleh Arka diatas ranjangku. Arka menyelimuti tubuhku dengan selimut Doraemon kesayanganku yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Aku memeluk guling dan memejamkan mataku masih mencoba untuk tidak mengis lagi.
Arka berjalan keluar dan menutup pintu kamar perlahan. Ini sangat sulit aku membayangkan jika Sigit benar – benar akan meninggalkanku selamanya. 6 tahun Dy meninggalkanku saja Aku tidak sanggup bagaimana dengan selamanya dan terpisah oleh ruang dan waktu. ( Sound Element “ Maaf Dari Surga “ )
__ADS_1