
“ Bagaimana Risya apa semua sudah sesuai?” Tanya Sigit menghampiriku saat aku menata meja makan di taman yang akan Dia gunakan untuk makan malam bersama Aida.
“ Sudah.” Ucapku sambil menahan tangisku. Jujur saja sejak sore tadi selama aku menata tempat ini aku tidak kuasa untuk menahan tangisku.
Hmm mungkin aku terlalu lemah atau terlalu berlebihan menanggapi ini semua atau karena cintaku yang begitu dalam terhadap Sigit.
“ Apa kamu baik – baik saja? Sepertinya kamu sangat lelah.” Ucap Sigit menatap wajahku.
“ Aku baik – bak saja. Jangan hiraukan aku.” Ucapku sambil tersenyum kepada Sigit.
“ Ya sudah, oh iya Risya nanti ke kamarku ya jika sudah selesai. Aku mau meminta tolong sesuatu.” Ucap Sigit dan langsung meninggalkanku.
Aku menyentuh dadaku yang terasa sakit seketika tubuhku lemas, aku berlutut dihamparan rumput taman belakang rumah Sigit. Kenapa aku selemah ini ? kenapa hatiku tidak sekuat tubuhku. Ya Tuhan bantu aku agar aku lebih tegar menghadapi ini semua.
Segera aku bereskan semua kerjaanku menata dengan baik setiap inci dari tugasku. Mungkin ini sangat melelahkan dan menyakitkan. Seadainya saja tempat ini di buat untukku mungkin tidak akan terasa selelah ini.
Setelah aku selesaikan semua tugasku, aku berjalan menghapiri Sigit yang ada dikamarnya.
TOK.. TOKK..
Aku mengetuk pintu kamar Sigit perlahan.
“ Masuk Risya.” Ucap Sigit dari dalam kamar. Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam kamar Sigit, terlihat diatas kasur baju yang berserakan.
“ Risya menurutmu aku harus mengenakan baju yang mana ya.” Ucap Sigit sambil berkaca pinggang melihat baju yang berserakan diatas kasurnya.
__ADS_1
“ Heum mengapa aku harus memilihkan untukmu.” Tanyaku sambil berusaha tegar dihadapannya.
“ Karena seleramu pasti bagus Risya.” Ucap Sigit menghampiriku dan mengangkat daguku agar aku bisa mentap wajahnya.
“ Lepas Sigit.” Ucapku meminta Sigit melepaskan tangannya dari wajahku, Dia terlalu kencang memegang daguku.
“ Katakan padaku Risya bahwa kamu tidak baik – baik saja.” Ucap Sigit menatap wajahku dengan tatapan tajam.
Aku hanya terdiam tidak bisa berkata, mataku sudah berkaca – kaca. Sigit apa mau kamu, kenapa kamu melakukan ini. Teriakku dalam hati.
“ Apa kamu kecewa denganku Risya? Kenapa kamu membantuku menyiapkan ini semua Risya.” Ucap Sigit menatapku dengan mata yang berkaca – kaca.
“ Hentikan Sigit, aku baik – baik saja. Jika kamu bahagia dengan Aida mengapa aku harus mempermasalahkannya.” Ucapku meneteskan airmata.
" Kamu bohong Risya.” Ucap Sigit menarikku dan mendorongku keatas kasurnya. Dia menidurkanku dan duduk diatas ku. Tangannya menahan tubuhku untuk tidak bisa bergerak.
“ Kamu mau apa Sigit.” Ucapku kencang, Sigit apa yang akan kamu lakukan terhadapku. Sungguh perlakuan Sigit ini membuatku sangat kecewa. Dia mencium bibirku dengan paksa, menarik bajuku hingga kancingku terlepas dan memperlihatkan bagian dadaku yang masih tertutup bra. Ini tidak seperti Sigit yang aku kenal.
Mata Sigit merah dan berkaca – kaca. Dia terus menahan tubuhku dengan kencang dan menatap wajahku. Aku tidak sanggup untuk menatapnya aku palingkan wajahku darinya dan berusaha untuk melepaskan tubuhku, air mataku mengalir deras dipipiku.
Akhirnya aku bisa terlepas dari genggaman Sigit dan berlari keluar dari kamarnya.
BRUKKKKK. Aku banting pintu kamarku dan aku kunci pintu itu. Aku beringkan tubuhku diatas kasur. Sungguh aku sangat kecewa dengan perlakuan Sigit.Mengapa Sigit tega melakukan ini terhadapku? Mengapa Dia membuatku takut? Sigit apa yang terjadi terhadapmu?
Aku terus meneteskan air mata, apa yang harus aku lakukan. Aku benci dengan ini semua, aku sungguh benci.
Malam akhirnya tiba, Aida datang dengan begitu anggun.
__ADS_1
“ Mengapa kamu disini? Mana Sigit?” Ucap Aida saat aku membukakan pintu untuknya.
“ Oh tadi Sigit memintaku disini untuk mendokumentasikan kalian.” Ucapku sambil tersenyum kepada Aida. Aku membawa Aida ketaman belakang yang sudah disiapkan.
“ Duduklah dulu aku akan memanggilkan Sigit.” Ucapku meminta Aida untuk duduk dan menunggu Sigit.
Aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamar utama.
Tok … Tokk…
Aku ketuk pintu kamar Sigit.
“ Sigit, Aida sudah datang.” Ucapku perlahan terhadap Sigit. Jujur aku masih takut untuk bertemu dengannya.
Sigit membuka pintu dan menatap sinis wajahku. Dia membanting pintu dan langsung pergi meninggalkanku.
Akhirnya mereka duduk bersama dan saling berhadapan. Aku berada di depan mereka dengan sebuah Video Cam ditanganku. Aku nyalakan Video Cam itu dan merekam setiap inci yang mereka lakukan layaknya seorang cameramen.
Bagaimanapun aku harus kuat melihat mereka. Telah tersedia 2 orange juice, 2 piring steak, dan 2 sweet cake sebagai makanan penutup mereka. Sigit mulai menyuapi Aida sepotong steak dan mengelap bibir Aida dengan tisu karena tersisa sedikit makanan dibibir Aida.
Begitu banyak adegan romantis yang mereka lakukan dihadapanku, begitu banyak kata – kata romantis yang Sigit ucapkan untuk Aida. Kuat Risya kamu harus kuat melihat semua ini. Aku terus menyemangati diriku sendiri.
Ini saat yang dinantikan, Sigit mengeluarkan kotak merah berbentuk hati dari saku Jas hitam yang dipakainya. Tanganku kini semakin bergetar saat Sigit menarik Aida dan berlutut dihadapannya. Hatiku sangat sakit dan sakit melihat itu. Sampai aku tidak menyadari air mataku mulai menetes dipipiku.
Sigit membuka perlahan kotak merah yang berisi cicin yang akan dilingkarkan di jari tangan Aida. Tanganku semakin lemas dan bergetar. Akhirnya aku pada puncak kesakitanku. Video cam yang aku pegang tiba – tiba terjatuh dan menghancurkan moment penting mereka. Sigit tiba – tiba menghentikan perkataan yang baru saja akan Dia ucapkan dan melihat kearahku.
Aku sungguh tidak berrdaya saat ini, aku lari meninggalkan mereka ke dalam kamarku. Aku menutup pintu kamarku dan menguncinya dari dalam. Sungguh hancur hatiku saat ini. Aku sandarkan tubuhku di daun pintu kamar. Aku berlutut dan terus menangis mengenang setiap moment yang aku lihat. Jujur aku tidak pernah merasakan sesakit ini.
Orang yang aku cintai selama bertahun – tahun kini melamar wanita lain dihadapanku.
__ADS_1
Orang yang aku cari – cari selama bertahun – tahun ternyata tidak pernah mencintaiku.
Bagaimana bisa aku mencintai seseorang selama bertahun – tahun dan bertepuk sebelah tangan.