
“ Risya, temani aku jalan – jalan sore.” Ucap Sigit tiba – tiba memelukku dari belakang saat aku sedang menyapu halaman belakang.
“ Ini sudah sore, tubuhmu dingin sekali. Mengapa kamu tidak mengenakan jaketmu.” Ucapku melepaskan sapu yang aku pegang.
“ Apa aku terlihat seperti orang sakit, Hmm mengapa kamu selalu menganggapku seperti akan mati.” Ucap Sigit menyandarkan dagunya dibahuku.
“ Sttttt… Jangan katakana itu,, aku tidak menganggapmu seperti itu.” Ucapku membalikan badan dan mentapnya. Aku sentuh bibirnya dengan jariku agar Dia berhenti mengatakan yang tidak – tidak.
“ Ya sudah kalau begitu mari bawa aku keliling Desa ini dan menikmati pemandangannya.” Ucap Sigit menarikku untuk jalan – jalan sore.
Kami berjalan perlahan menyusuri setiap kampung untuk melihat keindahan Desa sore ini, embun didedaunan masih terlihat sisa dari hujan siang tadi. Sesekali Sigit batuk dan menahan nyeri ditubuhnya.
“ Kita kembali saja yuk.” Ajakku saat melihat Sigit terbatuk – batuk kerena kedinginan.
“ Aku baik – baik saja Risya.” Ucap Sigit menggandeng tanganku. Dia tersenyum bahagia melihat pemandangan sore ini. Kami berjalan menuju posko kesehatan. Terlihat Kiky, Via dan Runa sedang bersiap – siap untuk kembali kerumah Pak Agung.
“ Nanti jika kamu sudah ke Universitas kamu akan melakukan hal yang sama seperti mereka.” Ucap Sigit sambil menunjuk kerah Teman – temanku. Terpancar kesedihan diwajah mereka saat melihat kondisi Sigit yang banyak perubahan. Tubuhnya yang terlihat semakin kurus dan wajahnya yang pucat.
“ Iya, mungkin kita bisa satu Universitas suatu saat nanti.” Mataku berkaca – kaca tidak sanggup mendengar setiap ucapannya, seakan kita akan berpisah selamanya.
“ Hey mengapa kamu bersedih, walau kita tidak bersama ingat satu hal bukan kepergian yang memisahkan kita. Tetapi hatilah yang mempersatukan kita. Risya jika suatu hari kita berpisah ingatlah satu hal, aku akan selalu ada dihatimu. Panggil namaku maka aku akan datang menemuimu.” Ucap Sigit sambil tertawa. Mengapa setiap kata yang diucapkannya seakan memberitahuku tentang perpisahan, apa Sigit akan benar – benar pergi dariku.
Kami melanjutkan lagi langkah kaki kami menyusuri jalan, disetiap jalan kami bertemu dengan warga yang menyapa kami.
“ Rasanya kita seperti sudah tinggal disini lama ya, warga disini begitu baik sekali. Sering menyapa kita, membawakan kita makanan.” Ucap Sigit dengan polosnya. Dia berpikir bahwa kita disini hanya baru sehari dan untuk liburan saja. Padahal Dia sudah disini bertahun – tahun dan Dia pemilik perkebunan ini.
“ Mungkin mereka sangat menyayangimu.” Ucapku sambil duduk disebuah gubuk kecil tengah sawah yang waktu itu aku awal aku bertemu Aida.
“ Hmm kenapa tempat ini seperti tidak asing ya, apa kita pernah kesini Risya?” Ucap Sigit sambil menatap setiap sudut gubuk bamboo ini.
“ Mungkin, apa kamu mengingat sesuatu?” Ucapku menatap Sigit.
“ Haha Tidak, aku tidak mengingat apa – apa.” Ucap Sigit tertawa dan mengelus halus kepalaku.
__ADS_1
“ Hmm.” Aku hembuskan nafas panjang.
“ Kenapa Risya, apa aku membuatmu kecewa.” Ucap Sigit menyentuh halus pipiku.
“ Tidak Sigit, kamu tidak membuatku kecewa.” Ucapku dengan senyum dan mentap wajah Sigit.
“ Risya lihat, suatu hari nanti sawah ini akan menjadi milikmu, aku kan membelikannya untukmu sebagai hadiah. Siapa ya pemilik persawahan ini? Luas sekali. Aku senang melihat padi – padi itu tumbuh sehat.” Ucap Sigit sambil berdiri dan merentangkan tanggannya. Dia menunjuk perkebunan yang nyatanya ini adalah miliknya.
Aku berdiri dan memeluknya dari belakang. Air mata yang aku tahan sejak tadi mengalir begitu saja.
“ Jangan pernah pergi lagi Sigit.” Aku terus memeluknya erat dan tidak ingin melepaskannya.
“ Kamu kenapa, aku tidak akan pernah pergi dari hatimu. Meskipun kamu menemukan yang lebih baik dariku dan pergi bersamanya percayalah aku akan selalu ada untukmu. Pergi itu bukan akhir dari segalanya. Simpan aku selalu dihatimu.” Ucap Sigit membalikan badanku dan memelukku dari depan. Dia sandarkan dagunya di atas kepalaku.
Ditengah sawah disore hari, angin berhembus begitu kencang, langit yang mulai memerah dan matahari yang sudah mulai turun seakan malu melihat kita.
Jingga itu indah namun aku tidak suka, karena jingga adalah warna perpisahan.
Dimana matahari akan berpisah dengan bumi. Mungkin jika hari esok cerah matahari akan menampakan dirinya lagi, tetapi jika ada awan hitam matahari itu akan tertutup.
Jika tuhan menciptakan Jingga untuk Senja
Mengapa Dia tidak menciptakanmu untukku
Mengapa Tuhan tidak menciptakanmu untuk melengkapi hidupku
Andai aku menjadi senja apa tuhan akan membuatmu menjadi Jinggaku.
Mengapa harus ada pertemua jika harus ada perpisahan.
Mengapa harus ada Cinta jika akan membuat penderitaan.
Angin ini berhembus begitu kencang seakan berbicara kepada kami.
Apa yang kalian ratapi?
Apa yang kalian harapkan?
Jika Tuhan sudah menuliskan takdirnya kalian bisa berbuat apa.
__ADS_1
Ya benar semua ini sudah ditakdirkan, lalu kita bisa berbuat apa. Hanya doa dan harapan yang bisa kita lakukan.
Matahari sudah tidak terlihat lagi, jingga kini telah berganti warna. Bintang – bintang mulai bermunculan satu persatu. Dinginnya angin malam mulai terasa. Kami memutuskan untuk kembali kerumah.
“ Arka.” Ucapku saat melihat Arka sudah duduk di depan teras rumah Sigit. Arka tersenyum kepada kami.
“ Siapa Risya?” Tanya Sigit saat melihat Arka, Sigit sungguh tidak ingat dengan Arka sekalipun.
“ Saya Arka, Kakaknya Risya.” Ucap Arka mengulurkan tangannya memberi salam kepada Sigit.
Arka menatapku dan memberi kode bahwa aku harus mengatakan hal yang sama.
“ I..iya Dia Kakakku.” Ucapku terbata - bata. Aku melihat Arka tersenyum kepadaku.
“ Oh ya sudah ajak Dia masuk, aku keatas dulu.” Ucap Sigit berjalan meninggalkan kami berdua.
Aku mengajak Arka untuk masuk kedalam, dan duduk diruang tamu. Aku membuatkan Arka minum dan membawakan makanan ringan.
“ Sudah menunggu lama?” Ucapku yang duduk disamping Arka.
“ Tidak, baru saja.” Ucap Arka menggenggam tanganku.
“ Arka apa yang terjadi dengan Sigit, mengapa saat ini Dia hanya mengingat kejadian 6 tahun lalu.” Ucapku penuh rasa ingin tahu.
“ Sebenarnya kasus ini sering terjadi kepada orang yang menderita kanker otak, jadi Dia hanya mengingat hal yang selama ini tidak ingin Dia lupakan atau kasarnya Dia selalu mengingat semua hal tentangmu dan bersamamu.” Ucap Arka menjelaskan tentang prihal memory Sigit.
Aku meneteskan lagi Air mataku, aku tidak percaya selama ini Sigit selalu mengingat tentangku.
“ Lalu apa ini akan berangsur lama?” Ucapku sambil menggigit ibu jariku dan memejamkan mataku sejenak.
“ Kamu harus kuat Risya, sebenarnya ini adalah pertanda bahwa penyakitnya semakin parah.” Ucap Arka mengusap air mata yang mengalir dipipiku, aku sandarkan kepalaku dibahu Arka.
“ Arka aku lelah.”
“ Jangan berkata seperti itu Risya, yakinlah Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untuk setiap umatnya. Kamu harus kuat, aku ada disini untuk menemanimu.” Ucap Arka perlahan sambil mengelus halus rambutku.
“ Terimakasih Arka.”
Jika ini pertanda Sigit akan meninggalkan kami semua, mungkinkah aku bisa menghadapi kenyataan ini.
__ADS_1
Apa benar kata orang Cinta Pertama itu tidak bisa kita miliki dan hanya tersimpan didalam hati selamanya?