SIGIT

SIGIT
Desa Cibuyut


__ADS_3

 


 


 


 


“ Bagaimana Risya air nya dingin sekali kah. “ Ucap Amel saat aku keluar dari dalam bilik kamar mandi.


“ Lumayan, nih mulut ku sampai mengeluarkan kabut. “ Ucapku sambil mengeuarkan udara dari dalam mulutku yang berbentuk asap putih seperti kabut.


“ Wah seperti nya aku tak sanggup untuk mandi pagi “ Ucap Kiki satu – satunya Pria yang satu tim KKN dengan kami sambil melilitkan handuk nya di lehernya menahan dingin di tubuhnya.


“ Kau ini Kiki, masa pria tak kuat dingin “ Ledek Via sambil tertawa riang mentertawakan Kiki, Kami pun ikut tertawa.


“ Sudah – sudah aku masuk duluan ya mau Sholat keburu waktu nya habis “ Ucap ku kepada mereka, kebetulan Via dan Runa adalah seorang non muslim tapi kami saling menghargai satu sama lain.


 


 

__ADS_1


Matahari sudah mulai terbit malu – malu para warga sudah mulai melakukan aktifitas mereka masing – masing sebagian warga adalah seorang petani.


Ku tatap warga yang berlalu lalang sambil duduk di kursi rotan di depan rumah Pak Kades sambil di temani secangkir teh hangat dan singkong goreng.


“ Bagamana nak Risya kamu mau ikut ke balai desa hari ini. “ Ucap Pak Kades yang berdiri di depan pintu yang sudah bersiap – siap untuk pergi menjalankan tugasnya di balai desa dengan menggunakan baju Dinas berwarna


coklat, sepatu Fantopel hitam dan memakai songko ( Peci ) hitam.


“ Iya kami akan ikut kebalai Desa, apa balai desa nya jauh dari sini pak ? “ Tanya ku yang lalu berdiri menghadap Pak Kades.


“ Ya kita akan kesana dengan menggunakan sepeda motor, waktu tempuh hanya 15 menit dari sini “ Ucap Pak Kades.


“ Baik pak, saya akan mengambil perlengkapan saya dulu “ Ucap ku sambil masuk kedalam kamar dan mengambil tas serta kamera yang akan kami gunakan untuk survey.


Aku yang di bonceng Pak Kades menggunakan motor GL Pronya, entah ini motor keluaran tahun berapa tapi


mesinnya masih bagus, sedangkan Kiki membawa motor tua Legenda dan membonceng Amel sedangkan Via membawa motor matic berwarna merah dan membonceng Runa, lagi – lagi motor matic merah itu mengingatkan ku akan Sigit.


15 menit perjalanan kami melewati tanah berbatu dan kebun teh serta melewati jebatan kayu yang sudah sedikit rapuh di bawah nya terdapat sungai yang mengalir, sepertinya desa ini jarang terjamah  karena masih banayk fasilitas yang tak layak pakai.


“ Pak apa di Desa ini tak mendapat bantuan? “ Tanya ku keada pak Kades saat tiba di ruangannya.

__ADS_1


“ Dapat neng, Cuma tak besar dan itu pun 2th sekali. Dana itu kami gunakan untuk keperluan fasilitas sekolah karena bagi saya pendidikan itu lebih penting untuk generasi muda disini, jika ada sisa baru saya alihkan ke fasilitas warga. Mungkin karena desa kami masih di pedalaman dan sulit terjangkau makanya belum banyak yang tau tentang desa ini “ Ucap Pak Kades sambil memeberikan beberapa dokumen untuk kebutuhan KKN kami. Pak Kades yang sangat baik dy lebih mementingkan pendidikan kaum muda karena baginya pendidikan bisa memajukan mereka menjadi pemuda pemudi yang berguna kelak dan mereka bisa membantu desa suatu saat nanti.


“ Lalu rencana apa yang akan kalian lakukan untuk KKN ?? “ Sambung pak Kades menanyakan Rencana Kerja kami.


“ Kami akan membuka posko kesehatan dan membeikan pengobatan gratis, kami pun akan memeriksa kebersihan air disini dan membuat irigasi. Itu rencana awal kami tapi setelah melihat rumah kanker itu kami akan memikirkan lagi rencana kerja kami selanjutnya. Saya pun akan mengirim proposal kepada Ayah saya agar mendapatkan dana untuk membantu desa ini “ Ucap ku sambil memberikan proposal susunan rencana kerja kami.


“ Iya pak Kades saya pun akan meminta bantuan kepada Papah saya untuk membantu desa ini, kebetulan beliau seorang politis “ Ucap Kiki yang kebetulan Ayah nya seorang politis dari suatu partai.


“ Wah terimakasih banyak, kalian kaum muda yang luar biasa “ Ucap pak Kades bangga melihat kami dengan senyum hangat nya.


“ Ya sudah pak Kades kami akan mengeliingi Desa dulu “ Ucap ku berpamitan kepada pak Kades.


“ Ya hati – hati kalian jika ada kesulitan minta tolonglah kepada warga disini mereka akan membantu kalian dengan senang hati “ Ucap Pak Kades sambil mengantar kami keluar.


“ Risya, saya  dan Via akan mengecek kea rah timur desa katanya di sana ada tempat yang cocok untuk kita membuka posko kesehatan “ Ucap Aruna yang mengaja Via untuk mengecek lapangan tengah desa.


“ Risya, kamu mau ikut Via atau dengan ku dan Kiki “ Tanya Amel yang akan kembali ke rumah pak Kades untuk membuat laporan.


“ Tidak, saya akan berjalan saja sambil melihat – lihat desa ini. Saya pun akan mengunjungi rumah panti itu lagi “ Ucap ku menepuk pundak Amel. Mereka pun pergi menggunakan motor ketempat tujuan mereka masing – masing.


Aku berjalan menyusuri desa melewati sawah padi yang kebetulan sedang panen. Beberapa warga ada yang sedang mencabuti padi, ada yang sedang menggiling padi ada juga sedang mencangkul dan memandikan kerbau mereka. Aku sesekali mengambil gambar mereka yang sedang bekerja, ku foto bekal mereka yang ada di sebuah saung di tengah swah yang sudah reyot, ada teko jaman dahulu berwarna loreng hijau yang terbuat dari kaleng brisi air teh dan gelas kaleng dengan motif yang sama, bekal di rantang kaleng berwana putih berisi sambal, nasi, ikan asin, daun – daun lalap serta petai yang masih segar.

__ADS_1


 


 


__ADS_2