
“ Risya hujan sudah berhenti, mari kita lanjutkan perjalanan kita ke desa Cibuyut “ Ucap Via, ya jarak dari stasiun ke desa Cibuyut sekitar 1 jam lagi dan kita bisa menempuh dengan sepeda motor.
Beberapa pengendara ojeg telah menjemput kami, Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan ke desa itu. Ini desa yang sangat Asri masih banyak kebun teh disini. Di tengah perjalan ku lihat sebuah rumah bertulisan " Rumah Kanker Risya." Namanya seperti nama ku, apa pemiliknya juga bernama Risya.
“ Pak apa itu Rumah Kanker Risya ? “ Tanya ku pada driver ojeg
“ Oh eta ( itu ) neng rumah khusus penderita kanker, loba na sih barudak leutik ( banyaknya sih anak kecil ). Kasian saya mah kalo melihat anak – anak itu, bahkan ada yang udah gak punya orang tua “ Ucap driver ojeg
sambil mengendarai motornya.
“ Apa si pemiliknya bernama Risya pak ? “ Tanya ku penasaran, sepertinya aku tertarik dengan rumah itu.
__ADS_1
“ Sanes neng, pemilik na mah pameget ( bukan neng, pemiliknya mah seorang pria ). “ Ucap driver ojeg, aku pun banyak bertanya tentang rumah itu dan begitu penasaran kebetulan jarak dari lokasi ku KKN kerumah itu tidaklah jauh jadi aku bisa mengunjunginya dengan mudah pikir ku.
Akhirnya aku sampai di tempat tujuan di rumah kepala desa Cibuyut.
“ Selamat datang “ Ucap kepala desa kepada kami yang baru datang dengan ramah dan sopan mereka menyambut kehadiran kami.
“ Terimakasih pak untuk penyambutannya Saya Risya dari Jakarta yang akan melakukan KKN dan ini teman saya Via, Amel, Runa dan Kiki “ Ucap ku memberi salam kepada kepala desa sambil memperkenalkan diri.
“ Saya Agung kepala desa disini. Untuk selama KKN neng Risya bisa tinggal di rumah saya atau di rumah penduduk sini yang dekat dengan lokasi KKN neng Risya dan kawan – kawan “ ucap Pak Agung sopan dan hangat, mereka begitu baik memberikan tumpangan selama kami disini, kurang lebih kami akan tinggal disini selama 2 minggu. Akhirnya kami memilih tinggal di rumah pak Agung karena rumah nya cukup luas dan
memiliki banyak kamar.
“ Risya kamu mau kemana “ Tanya Via saat aku akan melangkah keluar kamar.
“ Aku mau berjalan – jalan sebentar Via, kamu mau ikut “ Ucap ku mengajak Via berkeliling kampung untuk survey.
“ Aku masih capek Risya, kamu saja tidak apa – apa kan “ Ucap Via yang merebahkan tubuh nya di atas ranjang Dipan dengan kasur kapuk diatasnya.
__ADS_1
“ Ok Via taka pa, aku pergi dulu ya “ Ucap ku lalu melanjutkan perjalanan. Desa ini begitu Asri, udara yang masih segar bangunan rumah yang masih terbuat dari kayu, terlihat beberapa anak kecil sedang bermain petak umpet, penduduk yang sopan dan ramah selalu tersenyum dan bertegur sapa ketika mereka bertemu. Sungguh desa yang indah.
Tak sadar kaki ku melangkah hingga depan Rumah Kanker Risya.
“ Ka mau bermain bersama “ Ucap seorang anak memegang tangan ku, anak kecil berumuran 7th dengan tubuh kurus, dan menggunakan hijab. Anak yang begitu cantik. Anak itu menarik ku ke dalam rumah itu, di
taman terlihat beberapa anak yang sedang bermain dan kondisi mereka sangat memprihatinkan, ada yang menggunakan kursi roda, ada yang sedang di gendong bahkan mereka ada yang tak memiliki rambut. Tubuh kurus mereka sangat terlihat bahwa mereka semua tidak sehat, air mata ku terbendung berkaca –kaca saat melihat mereka tapi ketahuilah mereka tak pernah mengeluh dan terlihat sedih padahal mereka anak – anak terkena kanker tapi mereka tak pernah terlihat putus asa.
“ Hy sayang nama kamu siapa “ Sapa ku kepada salah satu anak yang sedang duduk tak ikut bermain.
“ Aku Ega ka, usia ku 8 tahun. Nama kakak siapa, sepertinya kakak bukan orang sini ya “ Ucap ega mencium tangan ku, begitu sopan anak itu. Ega anak usia 8 tahun, anak yang cantik walau dy tak memiliki rambut sehelai
pun di kepala nya, dy tersenyum senang saat melihat teman nya bermain.
“ Saya Risya, iya saya dari Jakarta “ ucap ku sambil memeluk anak itu, rasa nya aku ingin menangis saat melihat mereka. Betapa aku tidak pernah bersyukurnya selama ini masih di beri kesehatan, hidup berkecukupan dan masih memiliki orang tua. Tapi apa kadang aku masih mengeluh dengan hidup ku, kadang aku berkata tuhan tidak adil ternyata aku salah disini mereka jauh lebih menderita tapi mereka terlihat seperti anak – anak yang ceria dan penuh syukur. Ya tuhan maaf kan aku ini yang selalu mengadili mu, begitu banyak dosa ku pada mu.
“ Wah nama kakak sama kaya nama panti kami “ Ucap anak itu menghapus air mata yang mengalir dipipi ku
__ADS_1
“ Permisi nak “ Ucap seseorang paruh baya menyapa ku dengan senyum hangat.
“ Oh iya bu, maaf saya masuk begitu saja ketaman ini. Nama saya Risya saya mahasiswa dari Jakarta yang sedang KKN “ Ucap ku memperkenalkan diri pada ibu itu.