SIGIT

SIGIT
Masakan Sigit


__ADS_3

 


 


“ Risya tumben sekali kamu pagi – pagi sudah ada disini.” Ucap Sigit saat melihatku pagi ini sudah ada dipanti. Ya mulai saat ini aku akan sering berkunjung kepanti ini. Kebetulan ini adalah salah satu tugas KKN yang aku kerjakan.


“ Ya Sigit mulai saat ini aku akan sering kesini untuk melakukan tugas KKN.” Ucapku kepada Sigit sambil membantu anak – anak panti melukis. Aku akan mengajarkan anak – anak ini sebagai terapi psikologis mereka. Ya aku tahu dengan keadaan mereka saat ini kemungkinan besar menggagu psikis mereka.


“ Oh ya, terimakasih banyak Risya mau membantu mereka.” Ucap Sigit dengan senyum manisnya. Sigit sebenarnya ada hal lain aku berada disini, aku ingin selalu ada didekatmu disisa akhir hidupmu agar kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu.


“ Ka Setya kemari gabung bersama kami melukis.” Ucap Ega sambil menarik tangan Sigit untuk duduk bergabung bersama mereka.


“ Aku tidak bisa melukis.” Ucap Sigit manja menggoda anak – anak itu.


“ Tenang saja Ka Setya, ada Ka Risya yang akan mengajari kita.” Ucap Dani sambil menunjuk kearahku yang duduk di depan mereka. Sigit menghampiriku dan duduk disampingku.

__ADS_1


“ Benarkah Ka Risya bisa mengajariku.” Ucap Sigit sedikit menggodaku. Aku tahu Sigit jauh lebih pandai melukis dibanding aku.


“ Aku tidak mau mengajarimu, bukankah Ka Setya jauh lebih pandai dariku.” Ucapku sambil melirik kearah Sigit. Sigit tersenyum kepadaku.


“ Wah Ka Setya bisa melukis ya.” Ucap Ega sambil tersenyum bersama teman – temannya dan saling melirik.


“ Iya Ka Setya waktu sekolah pandai melukis, Dy juga bisa mlukis kalian.” Ucapku kepada anak - anak itu. Mereka antusias sekali dalam melukis ini terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.


“ Oh iya aku juga ingat Ka Setya bisa melukis wajah Ka Risya. Sepertinya aku pernah melihatnya di kamar Ka Setya.” Ucap Ibnu dengan senyum – senyum menggoda Sigit. Wajah Sigit langsung memerah seperti tomat yang matang.


“ Akh lukisan yang mana, kamu salah mungkin.” Ucap Sigit sambil menggelikitik Ibnu. Ibnu tertawa lepas sekali saat itu dan anak – anak yang lain ikut membantu Ibnu membalas mengglikitik Sigit.


“ Saatnya makan siang.” Ucap Bu Risma dari arah teras panti, Bu Risma sudah menyiapkan makan dimeja makan dengan menu special.


Ada ikan mas bumbu kuning, ada Ayam opor, tidak lupa sayur sop, tahu dan tempe goreng serta buah – buahan sudah tertata rapih diatas meja makan.

__ADS_1


30 anak panti sudah duduk rapih melingkari meja makan yang luas dan besar itu. Meraka sudah tidak sabar menikmati hidangan makan siang ini. Kelihatannya semuanya enak sekali.


“ Sepertinya ada satu menu yang tertinggal.” Ucap Sigit sambil membawa semangkuk penuh kentang balado dengan irisan ati sapi. Ya ampun itu kesukaanku. Sigit masih mengingatnya padahal dulu aku hanya satu kali bercerita saat kita tersesat di Gunung Papandayan. Ternyata ingatannya masih kuat dan belum melemah. Aku masih sedikit lega, semoga apa yang dikatakan Arka itu salah dan aku sangat berharap itu.


“ Nikmat sekali sepertinya, kamu masih saja mengingatnya.” Ucapku saat Sigit menaruh tepat di depanku.


“ Aku masih mengingat semua yang kamu katakan.” Ucap Sigit sambil menoleh dan tersenyum kepadaku.


“ Nak Risya ini itu yang memasak Mas Setya loh.” Ucap Bu Risma sambil menyendokkan nasi kepiringku. Sigit tersenyum malu saat Bu Risma memberitahuku. Aku tidak menyangka Sigit sampai menyiapkan semuanya. Betapa terharunya aku saat ini atas perhatian yang Sigit berikan.


Kami berdoa terlebih dahulu sebelum kami makan sesuai ajaran dan kepercayaan kami masing – masing.


Kami makan siang dengan lahap, masakan yang dibuat Bu Risma semuanya enak dan buatan Sigitpun tidak kalah jauh enaknya. Aku tidak pernah tahu jika Sigit bisa memasak. Waktu kami mendaki dulu Sigit hanya memasak mie instan saja.


Seteah selesai anak – anak itu membantu Bu Risma untuk membereskan meja makan dan piring kotor, mereka membagi tugas tanpa harus di perintah sungguh luar biasa hati yang mereka miliki sungguh mulia.

__ADS_1


 


 


__ADS_2