
Sudah 2 hari sejak Sigit tidak sadarkan diri, aku benar – benar tinggal bersamanya. Kesehatannya semakin buruk. Nafsu makannya juga semakin buruk bahkan ingatannya sudah tidak berfungsi lagi. Dia bagaikan hidup dimasalalu, ingatannya kembali ke 6 tahun yang lalu.
Aku kembali kerumah Sigit terlihat Dia sedang duduk di halaman belakang sambil memegang bola basket.
“ Masuk yuk.” Ucapku sambil memakaikan jaket di tubuhnya, tubuhnya terasa sangat dingin, wajahnya terlihat lebih pucat akhir – akhir ini.
“ Sebentar lagi, aku masih ingin menikmati pemandangannya. Duduklah bersamaku disini.” Ucap Sigit menarikku untuk duduk disampingnya.
“ Hanya sebentar saja ya, cuaca sudah mendung aku takut hujan membasahi tubuh kita.” Ucapku menggenggam
tangan Sigit.
“ Bagaimana jika besok kita pergi mendaki.” Ucap Sigit
“ Apa mendaki? tidak sebaiknya nanti saja setelah kondisimu membaik.”Ucapku meyakinkan Sigit, karena aku sangat tidak yakin dengan kondisinya.
“ Tetapi kitakan sudah merencanakannya minggu kemarin, ayo kita wujukan mimpi kita mendaki seribu gunung.” Ucap Sigit penuh harapan.
Beginilah kondisi Sigit saat ini Dia hidup dunia masa lalunya, bukankah itu perjanjian kita 6 tahun lalu, tetapi Dia mengingatnya kembali saat ini.
“ Besok kita ke Gunung Papandayan, katanya disana ada hamparan bunga Edelweis. Bukankah kamu ingin melihatnya.” Ucap Sigit dengan penuh semangat dan tersenyum kepadaku. Aku menatapnya balik dan tersenyum kepadanya,
“ Ya sudah, sekarang kita masuk terlebih dahulu hujan sudah mulai turun.” Ucapku sambil menggandeng Sigit masuk kedalam rumah.
Sigit masih saja bercerita tentang bunga Edelweis yang katanya adalah bunga abadi dan bunga yang sangat langka. Tumbuhnya hanya di bulan April hingga Agustus.
“ Besok aku akan mengajakmu melihat Edelweis dari tempat yang terbaik yaitu Tegal Alun gunung Papandayan. Kita akan lihat keindahan Edelweis yang sebenarnya yaitu pada saat tangkainya bergoyang tertiup angin.” Ucap Sigit yang sangat antusias menceritakan keindahan Edelweis.
__ADS_1
6 tahun lalu padahal kita pernah menyaksikannya, betapa indahnya Edelweis dan kita pernah berjanji sebagai pendaki untuk tidak memetik bunga itu. Biarkan Edelweis bermekaran dan memancarkan keindahannya. Tidak perlu kita membawakan bunga itu untuk orang yang kita cintai tetapi ajaklah orang yang kita cintai untuk melihat bunga itu pada tempatnya. Itulah keindahan yang sesungguhnya.
“ Apa kamu yakin ingin mendaki esok hari ?” Ucapku yang masih berusaha untuk membatalkan rencana Sigit.
“ Aku yakin Risya, apa kamu sudah tidak mau mendaki bersamaku.” Ucap Sigit yang menekuk wajahnya dan terlihat sedih. Aku tidak ingin membuatnya kecewa tetapi jika dilihat dari kondisiny aku yakin Dia tidak akan mampu melakukan pendakian itu.
“ Iya kita akan mendaki esok hari, aku akan berkemas untuk barang yang akan kita bawa.” Ucapku membuat Sigit untuk tidak kecewa lagi.
“ Aku yakin disana akan menjadi tempat yang indah untuk beristirahat. Kita akan pergi siang agar sampai sana tidak terlalu malam, semoga masih ada waktu untuk kita melihat Sunrise pagi harinya.’ Ucap Sigit mengusap manja rambutku, senyumnya begitu tenang sekali.
Aku hanya menganggukan kepalaku agar tidak mengecewakannya, sepertinya rencana ini harus aku beritahu Arka dan Bu Risma mungkin mereka memiliki rencana untuk membujuk Sigit.
“ Aku tidur dulu ya, sepertinya tubuhku lelah sekali.” Ucap Sigit membaringkan tubuhnya diatas kasur. Perlahan Dia memejamkan matanya. Aku menyelimuti tubuhnya agar tidak kedinginan.
*******
“ Hallo Arka.” Ucapku kembali menelepon Arka.
“ Sigit mengajakku untuk mendaki esok hari, sepertinya sakitnya semakin parah. Dia selalu mengingat kejadian 6 tahun lalu.” Ucapku kepada Arka dengan nada tersedu – sedu.
“ Ya Tuhan, Dia tidak boleh melakukannya. Kita harus segera mengambil tindakan.” Ucap Arka dengan nada kaget, sepertinya Arka jauh lebih tahu dengan kondisi yang dialami Sigit.
“ Aku tidak bisa membujuknya, Dia akan kecewa jika aku menolaknya. Arka kembalilah esok aku membutuhkanmu.” Ucapku yang terus menangis. Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa membujuk Sigit. Sedangkan Dia sudah lupa dengan Bu Risma. Sigit selalu menganggap Bu Risma sebagai orang lain. Mungkin dengan melihat Arka Dia bisa mengurungkan niatnya.
“ Aku akan mengusahakannya Risya, kamu ikuti saja suasana hatinya.” Ucap Arka dengan nada bingung. Arka sungguh baik Dia masih mengijinkanku tetap tinggal dan menjaga Sigit.
“ Aku sudah lelah Arka, aku tidak tahan lagi melihat kesedihan ini.”
“ Sabar sayang, kita akan melakukan yang terbaik untuknya. Jika memungkinkan malam aku bisa ke Bandung aku akan langsung terbang kesana.” Ucap Arka berusaha menguatkanku.
“ Ya sudah, kamu jangan lupa makan siang. Aku akan menemui Bu Risma terlebih dahulu.”
__ADS_1
“ Iya sayang. Hati – hati ya. Assalamualaikum.” Ucap Arka mengakhiri percakapan kita.
“ Wa’alaikum salam.’ Aku menutup telephone.
Baru saja aku turun untuk menemui Bu Risma ternyata Beliau sudah terlebih dahulu sampai disini.
“ Bu Risma, kebetulan sekali.” Ucapku saat membuka pintu dan melihat Beliau sudah berdiri di depanku.
“ Nak Risya, bagaimana keadaan Mas Setya.” Ucap Bu Risma yang langsung menanyakan Sigit.
Hmmm aku menghela nafas dan menundukan pandanganku.
“ Kita bicara didalam saja Bu.” Ajakku kepada Bu Risma untuk berbincang di ruang tamu.
Aku membuatkan Bu Risma secangkir teh dan sepiring cemilan yang ada di dapur. Aku duduk di samping Bu Risma dan menceritakan tentang rencana Sigit.
“ Sepertinya kondisi Dia semakin buruk, ingatannya semakin tidak baik. Dia mengajakku untuk mendaki esok hari.” Ucapku menundukan pandanganku dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
“ Saya juga tidak tahu harus berbuat apa Nak Risya, sedangkan Mas Setya sendiri sudah tidak mengingat saya.” Ucap Bu Risma dengan penuh penyesalan dan bingung.
“ Iya Bu, Saya memahaminya. Tetapi jika saya tidak mengikuti kemuannya saya takut Dia akan kecewa.” Kebingungan ini sungguh membuat kami ambigu. Kami sudah buntu tidak tahu harus bagaima lagi.
Bu Risma mendekatiku dan merangkulku. Aku tahu Beliau bisa memahamiku saat ini. Dia selalu berada di sisiku selama ini dan memberikanku semangat. Beliau adalah sosok wanita yang luar biasa, disini aku sudah menganggapnya sebagai Ibuku sendiri. Karena Beliau selalu ada disaat aku terpuruk.
“ Mungkin kita harus segera meminta Orang Tua Sigit untuk segera kemari.” Ucap Bu Risma yang meneteskan Air matanya.
Terakhir kali Orang Tua Sigit berkunjumg 2 hari yang lalu setelah mendapat kabar Sigit tidak sadarkan diri, namun sayang Sigit tidak mengenalinya juga dan baru mengenalinya beberapa jam kemudian.
“ Saya akan menghubunginya untuk segera kamari. Saya juga sudah menghubungi Arka untuk segera kemari. Arka bilang kita harus segera memberikan tindakan Operasi dan kemotrapi.”
“ Iya Nak Risya, semoga besok Mas Setya bisa kita bujuk. Ya sudah saya harus kembali kepanti dan tidak bisa berlama – lama disni.” Ucap Bu Risma yang berpamitan untuk kembali ke panti karena anak – anak membutuhkannya juga.
__ADS_1
Aku menghubungi Orang Tua Sigit dan malam ini mereka akan segera ke Bandung.