
“ ngga ka “ ucap ku sambil menggelangkan kepala, ya aku gak pernah merasa takut dengan hal apapun kecuali yang ku takuti hanya Allah swt. Karena aku seorang muslim.
“ ya sudah bagus, sebelum mulai kita berdoa menurut ajaran masing – masing. Berdoa mulai “
Setelah selesai berdoa kami berjalan menaiki tangga menuju gedung lantai 2, suasana sekolah yang sepi dan mencekam. Di tambah lampu – lampu sengaja di matikan. Sekolah SMU pertiwi ini sangat luas, sedangkan murid yang di terima di sekolah ini hanya kurang dari 80 orang jadi walau saat ini ada acara di sekolah tetap kami tak bisa bertemu satu sama lain dengan kelompok lain.
“ ok bagaimana kalo mencari nya kita berpencar, jadi biar lebih cepat “ ujar Arka tegas
“ iya ka itu ide bagus “ jawab Galuh sambil mengangguk, dan yang lain pun ikut setuju dengan ide bagus Arka itu
“ Galih, Kholis dan Rian mencari kearah sana, saya, Sigit dan Risya mencari keatas hingga Roof top “ ucap Arka sambil menunjukan arah dengan senter nya
“ kenapa tidak berdua – berdua saja ka, jadi ada yang di lantai dasar juga “ ujar Rian memberikan pendapat
“ ya tadi nya saya berpikir begitu, tapi untuk tidak menimbulkan fitnah karena Risya cewek sendiri dan ini malam hari “ ucap Arka dengan bijak dan berwibawa. Mendengar perkataan Arka saat itu aku makin kagum dengannya. Sepertinya Dy sosok lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
“ bener juga Ka Arka, saya salut dengan cara berpikir ka Arka “ ucap Galuh yang sama bangganya dengan ku saat mendengar perkataan Arka itu.
“ ya sudah, sekarang kita mulai berpencar “ ucap Arka memberi kode untuk kita tak lama lagi berbincang.
__ADS_1
Aku, Ka Arka dan Sigit berjalan ke lantai 3, suasana yang sepi dan horror. Tenang Risya kamu berani ucap ku dalam batin.
“ kamu kenapa Risya “ Tanya Arka sambil melihat kanan kiri dan mengarahkan senter
“ gak apa – apa kok kak “ ucap ku pada ka Arka, sambil berjalan diantara Sigit dan Arka
Sejak perjalanan kita ini saya memperhatikan hanya Sigit yang dari tadi diam saja, dy cuek dan benar – benar angkuh bahkan untuk berbicara dengan kita pun seakan dy tak sudi.
Tubuh kekar Sigit kini berjalan di depan ku, Dy memasuki ruang kelas yang saat itu hanya ruangan itu yang terbuka. Kami mengikuti Sigit masuk kedalam ruangan itu, kali ini gerak gerik Sigit terlihat aneh dan membuat kita penasaran.
“ ada apa Git “ tanya ku semakin penasaran dengan tingkah nya
“ stttt “ ucap Sigit memberi kode agar kita diam dan tak bersuara
“ aaaaaaaa “ teriak ku sambil jongkok dan menutup mata, mungkin tampang ku saat itu sangat bodoh.
Arka mengarahkan senternya kearah Vas bunga itu, tapi tak ada – apa disana.
Hati ku semakin deg degan apa yang membuat Vas itu terjatuh. Sigit menghampiri ku saat itu dan memegang tangan ku, menguatkan ku mungkin.
“ aduh Risya gak usah berisik napa sih “ ucap Sigit menarik ku berdiri dengan gemas, ternyata dy bukan menguatkan ku hanya risih dengan tingkah ku.
" maaf aku cuma kaget " ujar ku dengan muka berharap mendapat belas kasihan dari mereka.
__ADS_1
" lihat nih, Vas itu jatuh karena ada benang yang di hubungkan. Dan kamu Risya yang telah menginjak benang itu " ujar Sigit sambil mengarahkan senter ke arah benang yang ku ijak.
Di depan pun Arka sudah menyadari nya jadi hanya aku disini yang tertipu dan terbodohi.
Kami melanjutkan perjalanan ke arah Roof Top.
Pemandangan disini terlihat begitu indah dan menarik kebetulan bintang - bintang di langit sedang bertaburan.
treettttttt bunyi bel berbunyi tanda sudah ada yang menemukan bendera itu.
hmmm sia - sia pencarian kami selama satu jam ini.
Sigit duduk di teras Roof top menselonjorkan kaki nya. Aku tau dy sangat lelah saat itu.
Arka pun mengikuti Sigit untuk duduk.
Aku pun duduk diantara mereka.
Kami melihat bintang - bintang itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
" turun yuk, sebelum yang lain mencari kita " ujar Arka yang kemudian berdiri dari duduk nya dan memberaihkan celana nya, ternyata 15 menit sudah kami duduk dan menatap bintang.
Kami memasuki barisan kembali, Galuh, Rian dan Kholis sudah ada di lapangan.
__ADS_1