SIGIT

SIGIT
Flash Back


__ADS_3

Aku menghampiri Sigit dengan berani dan berlahan.


Jantung ku begitu deg degan saat berhadapan dengannya, para sahabat ku memberi ku dukungan dari belakang.


“ hay git, boleh tanda tangan di baju ku “ ucap ku pada Sigit sambil memberi spidol yang ku pegang saat ini


“ dimana aku harus tanda tangan Risya, seperti nya semua tempat sudah penuh “ ucap Sigit sambil mencari di sekeliling baju ku yang kebetulan sudah penuh dengan tanda tangan rekan ku.


“ Sebentar “ ucap ku sambil membuka seragam ku, kebetulan aku sedang memakai kaos atau baju double saat itu.


“ disini git “ ucap ku kembali sambil menunjuk kearah bagian seragam dekat kantongku, mungkin kalo ketika di pakai itu pas bagian dada ku. Sepenuh apapun baju ku oleh tanda tangan mereka tapi akan selalu ada tempat untuk mu Sigit.


Sigit pun memberikan tanda tangan nya, entah lah dapat tanda tangannya saja aku sangat gembira. Padahal dulu kami tak pernah akur, namun beberapa bulan belakangan ini kami sedikit dekat.


“ lalu apa aku boleh menandatangani baju mu “ ucap ku kepada Sigit


“ ya silahkan, disini ya Sya aku udah persiapkan khusus untuk mu “ ucap Sigit sambil menunjuk ke arah dada nya dengan senyum.


Aku menandatangani baju nya serta memberikan tulisan kecil, entah suatu saat dy akan membaca nya atau tidak. Tapi aku sudah mengutarakan yang selama ini aku pendam kepadanya.


Kami terdiam melihat teman – teman kami yang begitu bahagia menyambut kelulusan ini.

__ADS_1


Tapi di hati ku masih tersirat sedih yang mendalam.


“ Risya masih ingat dulu kita bertemu seperti apa “ ucap Sigit tersenyum walau pandangannya tak menatap ku.


“ iya aku ingat, lucu ya saat itu. Aku kira kita akan selama nya bermusuhan “ ucap ku sambil menundukan kepala ku sedikit mengingat kejadian saat dulu.


Pikiran ku pun terbayang kembali dimana saat itu kami terakhir MOPD. Untuk menyambut hari terakhir itu kami mengadakan kemah di lingkungan sekolah.


Bisa dibilang ini pelantikan kami yang terakhir, besok kami resmi menjadi Siswa dan Siswi SMU PERTIWI.


Saat itu pukul 5 sore kami sudah berkumpul di sekolah, dan mempersiapkan acara kami.


Saat itu aku juga sudah mempunyai teman yaitu Via, Elsa dan Andin.


Kami berempat berharap dapat satu kelompok, kami pun saling berpegangan tangan saat kakak kelas kami datang.


“ ok semua nya saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok, dan masing – masing kelompok terdiri dari 5 orang “ ucap Bayu sambil melihat catatan yang sudah dipegangnya.


“ jadi setiap kelompok akan di pimpin oleh satu anggota osis “ Ucap Arka sambil berjalan memutari kami perlahan.


“ Apa kalian paham “ teriak Arka kembali

__ADS_1


“ paham ka “ ujar kami semua


“ ok untuk kelompok kami yang akan membaginya, disini sudah ada nama anggota osis jadi kalian akan mengambil nya secara acak. Dan yang kalian ambil itu adalah pemimpin kelompok kalian “ ucap melda tegas memberi arahan kepada kami


Putri pun memberikan potongan kertas yang sudah dilipat agar kami mengambil nya satu persatu, ya kertas itu bertulisan nama anggota osis. Masing asing nama di buat 5 sesuai jumlah orang perkelompok.


“ semua sudah memegang kertas nya “ ujar Bayu dengan mengunakan pengeras suara


“ sudah kak “ ucap kami bersama


“ silahkan kalian buka, dalam hitungan 5 kalian harus berdiri di belakang nama yang tertera “ lanjut Bayu memberi arahan


Aku membuka kertas itu perlahan, ARKA tertera nama nya di kertas ku. Saat itu aku berharap akan satu kelompok dengan teman – teman ku karena kami sangat menyukai Arka saat itu. Senang sekali gus deg degan saat itu perasaan ku.


“ 1….. 2….. 3….. “ teriak Melda memberikan peringatan bahwa kami harus segera berbaris di belakang pemimpin kami.


Aku berlari kearah belakang Arka, untung saja posisi Arka tidak jauh dari posisi ku saat itu.


Sudah ada 5 orang yang baris bersama ku, sayang sekali semua nya bukan teman teman ku yang selama ini aku harapkan dan sayang nya lagi mereka semua adalah murid pria.


Eh tapi satu orang ini aku seperti pernah melihat nya, ya dy pria yang menabrak ku saat itu. Akh kenapa aku harus satu kelompok dengan pria angkuh macam ini, ujar ku dalam batin.

__ADS_1


“ kamu, apa kamu yakin nama di kertas mu itu Arka “ ucap Melda sambil mendorong ku, sampai tubuhku tergoyah. Entah apa yang membuat Melda begitu tidak menyukai ku saat dari awal aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Padahal bertemu dy pun aku tak pernah sebelumnya.


“ ini benar kok ka “ ucap ku sambil memberikan kertas yang aku genggam kepada Melda


__ADS_2